Sabtu 27 Juni 2020, 06:05 WIB

Bisakah Bonus Geografi dan Demografi Menangkis Covid-19

Margana Wiratma Dosen Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Universitas Bina Nusantara | Opini
Bisakah Bonus Geografi dan Demografi Menangkis Covid-19

binus.ac.id

SEMESTINYA Indonesia sangat diuntungkan dalam menangkis seranganpandemi virus korona atau covid-19. Setidaknya ada dua tameng yang bisa melindungi, yakni bonus geografi dan demografi . Pertanyaannya,apakah kita mampu memanfaatkan kedua bonus itu untuk meloloskan diri dari kepungan pandemi yang melumpuhkan berbagai segi kehidupan itu.

Sejak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan awal bulan ini memasuki era kenormalan baru, angka yang terkonfirmasi terkena virus itu dilaporkan terus meningkat. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, pada 25 Juni 2020, menyatakan angka terkonfirmasi menembus 50 ribu.

Bonus geografi dan demografi

Seperti disebut di awal, sebenarnya Indonesia memiliki keunggulan, yakni bonus geografi dan demografi yang secara teori bisa menangkis serangan pandemi yang menyebar di hampir semua negara di dunia. Indonesia merupakan negara yang luas dan terdiri atas ribuan pulau yang dipisahkan laut.

Virus korona yang mampu menyebar supercepat itu bisa terhambat karena tidak mampu mengarungi laut. Mestinya, penyebarannya tidak begitu agresif dari daerah yang satu ke daerah lainnya asalkan jalur laut dan udara sungguh sungguh diamankan. Selain itu, Indonesia juga memiliki suhu udara yang relatif tinggi. Menurut laporan BMKG, rata-rata suhu udara pada Mei mencapai 27,78 derajat Celsius.

Pada Juni, rentang antara 24-32 derajat Celsius diperkirakan lebih tinggi daripada Mei. Suhu itu pasti sangat menguntungkan karena virus korona disebutkan tidak mampu bertahan hidup di udara yang panasnya lebih dari 27 derajat. Apalagi, bulan-bulan depan RI menghadapi musim kemarau. Paling tidak, panas di udara terbuka lebih dari 27 derajat. Ini akan merontokkan virus korona yang beterbangan di luar ruangan.

Menurut BMKG, kelembapan pada Juni ini diperkirakan 75-90%. Jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Tiongkok, terutama Wuhan yang menjadi awal pusat penyebaran covid-19, sekitar 78%. Sementara itu, Italia 70-76% dan New York, salah satu pusat serangan covid-19 di AS, pada kisaran 62-72%.

Dengan kondisi seperti itu, Indonesia mestinya lebih diuntungkan daripada episentrum wabah korona di negara lain yang suhu dan kelembapan udaranya lebih rendah. Itu karena menurut penelitian, virus korona cenderung stabil pada suhu udara rendah, 1-10 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 40-50% (Media Indonesia, 8 April 2020).

Usia produktif

Modal kedua untuk bisa menangkis serangan virus korona ialah penduduknya sendiri. Menurut ramalan para ahli, Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030-2040, yakni tatkala jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar jika dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif (<15 tahun dan >64 tahun). Diperkirakan, jumlah penduduk yang menjadi bonus itu sekitar 64% dari total penduduk yang akan menjadi 297 juta.

Bonus demografi merupakan fenomena yang terjadi hanya sekali dalam siklus kehidupan suatu bangsa. Indonesia mengalami proses itu sejak 2012 sampai dengan puncaknya 2034. Pada puncak nanti, penduduk usia produktif melewati 2/3 total populasi. Itu ramalan para ahli tentang masa depan RI dengan munculnya kelompok usia produktif 15-64 tahun. Saat ini, mereka berada di usia muda yang relatif memiliki daya tahan tinggi untuk menghadapi serangan virus korona.

Penduduk usia produktif saat ini sekitar 185,22 juta atau 68,7% dari total penduduk 269,6 juta pada 2020 (berdasarkan Survei Penduduk antarsensus (Supas) 2015). Sementara itu, kelompok usia 0-14 tahun 66,05 juta atau 24,5% dan kelompok usia di atas 65 tahun (kaum lansia) 18,06 juta (6,7%).

Menurut laporan WHO per 26 Juni 2020, kasus terjangkit virus korona yang terkonfirmasi mencapai 9,27 juta yang tersebar di 216 negara atau wilayah. Yang meninggal tercatat 478,691. Korban meninggal dunia paling banyak dilaporkan terjadi di AS sebanyak 120.955 orang dari 2,3 juta kasus.

Di Indonesia memang korban meninggal didominasi pasien berusia 45-60 tahun (Media Indonesia, 12 Mei 2020). Berdasarkan kelompok usia, kasus terkena virus korona ialah 30-49 tahun 38,69%, 50-69 tahun 36,25%, dan lebih dari 70 tahun 5,85%. Jubir Achmad Yurianto dalam pengumuman pada 28 April 2020 melaporkan kelompok usia 30-59 tahun mendominasi jumlah pasien yang meninggal, yakni 351 pasien (49,85%) dari total 704 yang meninggal.

Urutan kedua rentang usia 60-79 tahun sebanyak 302 pasien (42,89%) dan di atas 80 tahun 27 pasien (3,83%). Baik kasus maupun korban meninggal, dari kelompok lansia boleh dibilang cukup tinggi.

Menurut kriteria WHO, 45-59 tahun termasuk kelompok usia pertengahan. Sementara itu, warga lansia yang berusia 60-74 tahun, usia tua (old) 76-90 tahun, dan di atas 90 tahun masuk kelompok usia sangat tua. Bagi kaum lansia, covid-19 merupakan ancaman. Mereka sangat rawan mendapat serangan virus korona, apalagi sudah punya penyakit lain, seperti diabetes, ginjal, dll.

Menurut data Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 (covid.co.id), kelompok usia yang meninggal dunia paling tinggi ialah 60 tahun ke atas, yakni 44%. Kelompok umur 46-59 tahun 40%, dan usia 31-45 tahun 11,6%. Lembaga Kesehatan Nasional AS, yakni Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Central of Disease Control/ CDC) juga menginformasikan kematian terbesar akibat covid-19 ialah umur 65 tahun ke atas, lebih dari 60% per 20 Mei 2020.

Sementara itu, WHO menunjukkan angka kematian paling tinggi terjadi pada penderita covid-19 berusia 80 tahun ke atas (20% lebih). Jumlah penduduk lansia di Indonesia relatif tidak terlalu banyak. Menurut data demografi , sekitar 68,7% penduduk berada di kelompok usia produktif secara ekonomi. Kelompok usia inilah yang digadang-gadang menjadi bonus demografi selepas 2030.

Secara fisik, mereka memiliki daya tahan yang baik, produktif, karier menanjak, gaya hidup sehat, dll. Artinya, memasuki era new normal dengan modal bonus demografi itu mestinya Indonesia mampu menangkis serangan virus korona.

Menjaga diri

Masalahnya, apakah mereka yang pada rentang usia produktif itu memang mampu menjaga diri sehingga bisa menghentikan penyebaran virus itu. Mereka yang masih muda memiliki mobilitas tinggi dan produktif itu harus disiplin menjaga diri dan menaati protokol kesehatan yang berlaku.

Dari mencuci tangan, memakai masker, hingga menjaga jarak. Kelompok usia muda dan produktif itu harus menjadi pelopor dalam menjaga diri dan masyarakat sekitarnya untuk menghentikan serangan virus korona. Jangan sampai kelompok usia yang diharapkan menjadi andalan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu justru keras kepala mengabaikan protokol kesehatan.

Soalnya, belakangan ini, dari beberapa kasus, penyebaran virus itu terjadi dari kerumunan. Baik dalam pertemuan maupun tempat-tempat public, seperti pasar, mal, pesta-pesta, dll. Memang ada masalah yang menjadi kendala di Indonesia.

Kepadatan penduduk yang tinggi, terutama di Pulau Jawa dan beberapa kota besar, menambah risiko sulitnya memutus rantai penyebaran covid-19. Mungkin karena itu pula, belakangan ini terlihat data kasus yang terkonfi rmasi penularan dan kematian yang tinggi lebih dari 50% justru terjadi pada pasien yang usia 30-59 tahun.

Bonus geografi dan bonus demografi , secara teori, mestinya bisa menjadi modal yang memadai untuk menghentikan penyebaran virus korona. Memang, kedua bonus itu masih bersifat hipotesis yang harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih komprehensif, terutama setelah kita terbebas dari covid-19.

Siapa tahu sekarang ini beberapa indikasi itu bisa dimanfaatkan untuk mendukung gerakan pencegahan serangan wabah itu. Tentunya dengan tetap memberikan perlindungan yang memadai bagi kelompok usia sepuh untuk mengurangi risiko penularan virus korona

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

Kedaulatan Data Pribadi

👤Willy Aditya Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:15 WIB
Karena bernilai itulah data pribadi kerap...
MI/AGUS UTANTORO

Konstitusionalitas Hasil Pilpres 2019

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:10 WIB
Semestinya hak uji materi MA dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kekacauan...
Dok. Pribadi

Belanja Militer Jumbo Vs Reformasi Militer, Mana Dulu?

👤Ade Muhammad Pakar Sistem Pertahanan 🕔Jumat 10 Juli 2020, 04:35 WIB
BELANJA militer besar besaran oleh Kemenhan yang diungkap Badan Pusat Statistik ialah terkait dengan data lonjakan impor senjata dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya