Sabtu 27 Juni 2020, 06:00 WIB

Bahaya Plastik terhadap Kelestarian Laut

Andre Notohamijoyo Pemerhati Lingkungan Hidup, Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia | Opini
Bahaya Plastik terhadap Kelestarian Laut

Dok. Pribadi

TINGKAT konsumsi masyarakat terhadap produk makanan siap saji dan perlengkapan rumah tangga meningkat pesat di saat merebaknya pandemicovid-19. Ketentuan baik lockdown maupun work from home (WFH) mengharuskan siapa pun membatasi aktivitas di luar rumah untuk mencegah penyebaran covid-19 secara masif.

Konsumsi yang meningkat terhadap produk makanan siap saji atau dalam kemasan beserta produk perlengkapan rumah tangga tersebut juga turut meningkatkan konsumsi plastik. Saat ini, plastik dianggap sebagai produk yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Plastik menjadi topik diskusi dan perdebatan berbagai pihak dalam dua dasawarsa terakhir.

Di dalam sebuah pertemuan internasional yang diselenggarakan organisasi nirlaba Common Sea di Inggris pada 2018, para ilmuwan yang hadir sepakat bahwa plastik merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan manusia (Caroline Jones: 2018).

Pandangan utama para ilmuwan tersebut ialah kekhawatiran terhadap partikel partikel mikroplastik kecil yang memasuki aliran darah, paru-paru, dan khusus untuk ibu menyusui ialah air susu ibu atau ASI! Para ahli sepakat bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengungkap dengan tepat bagaimana fragmen kecil plastik ini dapat memengaruhi tubuh. Meskipun masih memerlukan penelitian lanjutan, hal ini memperkuat argumen masyarakat untuk mengurangi konsumsi terhadap plastik.

Masalah serius

Plastik memiliki dualisme peran dalam sejarah manusia modern. Di satu sisi, plastik merupakan lambang kemajuan peradaban manusia. Plastik menjadi entitas pola konsumsi manusia modern dan perkembangan teknologi tinggi. Namun, di sisi yang lain, plastik merupakan sampah terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Saat ini, limbah plastik menjadi masalah serius dalam kehidupan manusia. Limbah plastik terus meningkat hingga 20 kali lipat sejak 1960-an. Data dari PlasticsEurope menyebutkan bahwa produksi plastik dunia pada 2017 mencapai 348 juta ton dan 2018 mencapai 359 juta ton.

Peningkatan tersebut terjadi akibat meningkatnya kebutuhan konsumsi penduduk dunia terhadap produk berbahan baku plastik. Hampir seluruh produk konsumsi manusia berbahan baku plastik. Sayangnya, kebutuhan bahan baku plastik itu tidak diiringi penanganan limbah plastik yang tepat dan efektif.

Produksi berbagai macam produk berbahan baku plastik menyisakan limbah plastik bukan hanya di darat, melainkan juga di badan air atau sungai yang kemudian berakhir di laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Upaya Kesehatan Masyarakat Kemenkes pada 2020 ini telah menyusun policy brief berjudul Waspadai Kandungan Mikroplastik Dalam Ikan Laut: Berbahayakah Bagi Kesehatan?. Policy brief tersebut merupakan penelitian yang dilakukan perihal bahaya yang mengintai dari sampah plastik/ mikroplastik dalam ikan laut.

Laut kerap menjadi tempat pembuangan sampah plastik terakhir. Kondisi tersebut membahayakan kelestarian ekosistem di laut. Manusia kerap kali melupakan peran laut sebagai ekosistem yang sangat vital dan berperan penting dalam perkembangan sumber daya baik hayati maupun nonhayati. Peran laut sebagai pendukung ketahanan pangan juga kurang menjadi perhatian sebagian negara di dunia.

Pencemaran plastik di laut akan menyebabkan munculnya proses fragmentasi menjadi mikroplastik. Diperkirakan 25% spesies ikan yang dimakan di Indonesia mengandung mikroplastik (WWF: 2018). Kasus penemuan sampah plastik dalam perut ikan paus yang mati di perairan Wakatobi pada 2018 menjadi problem serius bahaya pencemaran sampah plastik di Indonesia.

Temuan dari LIPI terhadap distribusi mikroplastik di berbagai perairan Indonesia, seperti Pangandaran, Lombok, Bali, Sumba, Kupang, dan lain lain, menunjukkan bahwa ancaman penyebaran mikroplastik tersebar di berbagai perairan laut Indonesia.

Mikroplastik tersebut akan tertelan hewan laut dan di dalam tubuhnya akan mengalami translokasi dari saluran pencernaan ke dalam otot. Cemaran plastik dalam tubuh hewan laut itu membahayakan bagi konsumsi manusia.

Konsumsi terhadap hewan laut, seperti ikan, cumi-cumi, kerang, udang, dan lainnya, akan meningkatkan akumulasi mikroplastik dalam organ tubuh manusia. Hal tersebut dapat memicu pembentukan reactive oxygen species sebagai indikasi awal kerusakan sel dalam tubuh manusia (Kemenkes: 2020).

Berbagai penyakit penyerta akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan akibat konsumsi hewan/biota laut yang tercemar mikroplastik. Limbah plastik harus ditanggulangi dengan segera karena membahayakan biota laut yang menjadi konsumsi manusia. Tanpa penanganan yang serius, peran laut sebagai sumber daya pangan akan terganggu dan membahayakan bagi kesehatan. Inilah ancaman sesungguhnya.

Tantangan

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dari sampah plastik. Di saat kesadaran terhadap peran laut dalam ketahanan pangan nasional meningkat dalam dua dekade terakhir, Indonesia menghadapi bahaya limbah plastik di laut yang membahayakan.

Telah lama laut Indonesia menerima beban yang sangat berat. Banyak industri yang memanfaatkan laut sebagai tempat pembuangan limbah plastik. Kondisi tersebut menyebabkan daya dukung laut kian hari kian menurun dan mengancam kemampuan laut menyediakan pangan.

Diperlukan komitmen dan kerja keras dari pemerintah pusat dan daerah untuk menanggulangi ancaman sampah plastik di laut Indonesia. Berbagai kementerian/lembaga wajib melakukan integrasi kebijakan dan program kerja yang jelas dan terukur.

Diperlukan keseimbangan antara pendidikan konsumsi plastik beserta produk substitusinya kepada masyakat, pengendalian penggunaan, produksi plastik, pengawasan serius terhadap pengelolaan limbah plastik, hingga, tindakan tegas terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran, dan pencemaran.

Pemerintah harus menerapkan instrumen ekonomi untuk mendisiplinkan perilaku masyarakat, termasuk pelaku usaha. Pendekatan 'carrot and stick' perlu dilakukan dengan tegas sehingga dapat memengaruhi perilaku tersebut (Efendi: 2014).

Pendekatan insentif seperti subsidi diberikan sebagai reward bagi pelaku usaha yang mematuhi ketentuan pengelolaan limbah plastik. Sementara itu, dengan cara yang sama, disinsentif (misalnya, pajak) diberikan sebagai hukuman bagi pelaku usaha yang tidak mematuhinya.

Berbagai program pengurangan sampah plastik yang dilakukan berbagai kementerian/lembaga harus diintegrasikan agar semakin terarah dan efektif. Integrasi dan sinergisitas tersebut tidak hanya menentukan pengurangan sampah plastik di laut, tetapi juga menentukan bagaimana kelestarian sumber daya perikanan Indonesia terjaga. Di sinilah tantangan sesungguhnya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dalam mengamankan ketahanan pangan dari laut.

Baca Juga

Nurul Candrasari Masjkuri Dewan Pendiri Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI)

Hak Konstitusi Perempuan untuk Berpolitik

👤Nurul Candrasari Masjkuri Dewan Pendiri Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) 🕔Kamis 26 November 2020, 03:10 WIB
KITA mengenal terminologi hak asasi manusia dan hak konstitusional warga...
Dok.Pribadi

Menyelamatkan Guru

👤Cecep Darmawan Guru Besar dan Kepala Pusat Kebijakan Publik, Inovasi Pendidikan, dan Pendidikan Kedamaian LPPM Universitas Pendidikan Indonesia 🕔Kamis 26 November 2020, 03:00 WIB
DUNIA pendidikan benar benar tengah mengalami disrupsi di era...
Dok. Pribadi

Memimpin dalam Masa WFH

👤Andi Ilham Said Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Produk PPM Manajemen 🕔Rabu 25 November 2020, 01:25 WIB
MEMIMPIN dari jarak jauh, adalah keniscayaan yang dihadapi hampir semua pemimpin perusahaan dalam era pandemi covid-19 saat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya