Jumat 26 Juni 2020, 08:19 WIB

Masih Ada Warga Sikka Tinggal di Gubug Tanpa Listrik

Gabriel Langga | Nusantara
Masih Ada Warga Sikka Tinggal di Gubug Tanpa Listrik

MI/Gabriel Langga
Yuvensia Veronika bersama anaknya Fransiskus Beni bertahun-tahun tinggal di gubug tanpa penerangan listrik. Ia juga tidak menerima bansos.

 

PEMENUHAN hak dasar warga mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, rumah layak huni dan menikmati aliran listrik sampai saat ini belum terpenuhi oleh sebagian masyarakat. Seperti yang dirasakan oleh, Yuvensia Veronika,61 warga RT 39 RW 12, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Sudah empat tahunnya, Veronika bersama anaknya Fransiskus Beni, 25terpaksa menempati gubuk reyot berukuran 2x1 persegi tanpa listrik di tengah gemerlap cahaya Kota Maumere pada malam hari. Di saat musim hujan, di gubuk reyotnya sering kali kebocoran. Belum lagi, ketika malam hari, keduanya harus tidur di lantai tanah dengan dibentangkan sebuah tikar. Mengingat di dalam gubuk reyot tersebut tidak terlihat tempat tidur seperti layaknya seorang pejabat.

Tak hanya itu saja, untuk kebutuhan MCK, mereka terpaksa harus menumpang pada tetangga di sekitar. Sejak suaminya meninggal dunia tiga tahun lalu, Veronika bersamanya anaknya mengandalkan hasil dari kebunnya berupa jagung dan ubi kayu yang ditanam di sekitar rumah mereka. Sementara anaknya harus berjualan buah bidara dan keripik ubi yang didapat dari kebunnya untuk dipasarkan ke beberapa hotel dan cafe yang ada di wilayah Kota Maumere.

Saat ditemui mediaindonesia.com, Jumat (26/6), Veronika mengaku untuk membuat rumah yang layak ia tidak sanggup karena selama ini dirinya bekerja hanya mengandalkan tanam ubi dan jagung dari kebun miliknya.

"Tiap hari, saya hanya kerja di kebun. Untuk beli makan saja, kami susah. Apalagi buat rumah," ungkap Veronika.

Saat memasuki malam hari, dirinya bersama anaknya harus hidup di dalam kegelapan karena tidak adanya listrik untuk menerangi.

"Tidak ada listrik, cuma pakai lampu minyak saja, kadang lampu juga tidak menyala karena tidak ada minyaknya," ujarnya.

Fransiskus Beni menambahkan ia dulu pernah sekolah di SMK Yohanes 23 Maumere sampai kelas XI. Tidak ada biaya menyebabkan ia tidak melanjutkan sampai lulus sekolah. Saat ini, ia harus membantu ibunya dengan menjual keripik dan manisan bidara agar bisa biayai kehidupan sehari-hari mereka. Kondisi yang dialami mereka berdua ini sama sekali luput dari perhatian pemerintah daerah.

baca juga: Pengajuan Klaim Jaminan Hari Tua di Temanggung Meningkat

Menurut Ketua RT Yakobus Jawa pihaknya pernah mengusulkan kepada pemerintah agar mereka mendapatkan bantuan seperti PKH, BLT, BPJS  dan bantuan lainnya.

"Nama mereka sudah saya usulkan sebagai salah satu penerima bantuan. Tetapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjut," kata Yakobus Jawa.

Pihak Kelurahan Waioti menyebutkan tidak diprosesnya bansos untuk Veronika karena masih terkendala administrasi. Padahal Veronika memiliki KTP dan kartu keluarga. (OL-3)

Baca Juga

Antara

Per Hari, Rerata 125 Orang Positif Korona di Sumut

👤Yoseph Pencawan 🕔Jumat 10 Juli 2020, 22:49 WIB
Lonjakan kasus positif dalam tiga hari terakhir sangat tidak sebanding dengan jumlah pasien sembuh yang hanya rata-rata 11 orang setiap...
MI/Gabriel Langga

Biaya Rapid Test di Manggarai Barat Mahal

👤John Lewar 🕔Jumat 10 Juli 2020, 21:30 WIB
Para pelajar dan masyarakat umum di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan mahalnya biaya rapid test yang...
MI/Dwi Apriani

Ratusan Nelayan Muba Diverifikasi Kemen ESDM Konversi BBM ke BBG

👤Dwi Apriani 🕔Jumat 10 Juli 2020, 20:15 WIB
Verifikasi itu bagian dari program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya