Jumat 26 Juni 2020, 06:10 WIB

Rencana Kencana, Lencana Bencana

Fransiskus Borgias Dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung | Opini
Rencana Kencana, Lencana Bencana

Dok. Pribadi

TANGGAL 17 Juni ditetapkan sebagai Hari Perluasan Padang Gurun dan Kekeringan. Memang ada korelasi antara gurun yang meluas dan kekeringan. Padang gurun terjadi karena tidak ada air tanah. Ketika air tanah dan permukaan tanah tidak ada, terjadi kekeringan.

Ketika hal itu ditetapkan sebagai hari peringatan, yang diperingati bukan perluasan gurun dengan efek kekeringan itu.

Yang diperingati ialah upaya kolektif masyarakat, untuk mencegah terjadinya perluasan gurun dengan efek kekeringan.

Ini adalah gerakan etika lingkungan (environmental ethics), dalam rangka menyelamatkan lingkungan hidup dari krisis yang disebabkan gaya hidup manusia modern. Kita tidak bisa menyangkal bahwa saat ini lingkungan mengalami krisis yang ngeri.


Kebenaran yang tidak mengenakkan

Al Gore, selepas menjabat wapres, menjadi pejuang lingkungan yang menyerukan agar manusia segera mengadakan perubahan pola dan gaya hidup agar jangan sampai ditimpa kebenaran yang tidak mengenakkan, yaitu krisis lingkungan yang ngeri.

Al Gore membuat video kampanye lingkungan dengan judul The Inconvenient Truth (Kebenaran yang tidak mengenakkan). Yang ia maksudkan ialah kebenaran tentang datangnya krisis lingkungan yang parah. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi itu semua? Memang itu tidak mudah, tetapi kita harus bergerak.

Terkait dengan itu, saya teringat kisruh Manggarai Timur sekarang, yakni adanya keinginan investor untuk membangun pabrik semen di kabupaten tersebut. Selain isu pabrik semen, ada lagi yang lebih serius, yaitu tambang.

Muncullah kelompok protambang dan antitambang. Terjadilah ‘perang’ wacana di antara kedua kelompok tersebut. Kalau pabrik semen dan tambang itu datang dan beroperasi di Manggarai Timur, itu adalah bencana ekologis ngeri. Aktivitas tambang mangan di Serise dan sekitarnya, menyisakan lubang-lubang menganga di bumi. Mengerikan. Menyedihkan.

Apa masalah dengan Pantura Manggarai Timur tersebut? Masalahnya ialah tanah di kawasan itu adalah bukit karst (kapur). Bukit karst adalah gudang air bawah tanah. Kalau bukit kapur itu dirusak, rusaklah gudang air bawah tanah.

Itu bukan hanya menyangkut persediaan air bawah tanah untuk Manggarai Utara, melainkan juga untuk seluruh Manggarai Raya, mungkin juga seluruh Flores. Kita belum mempunyai data sungai bawah tanah di Pantura Manggarai dan Manggarai Timur.

Dalam percakapan pribadi dengan pakar air permukaan tanah di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, saya mendapat pencerahan bahwa gudang air di bawah tanah itu adalah hasil proses yang berlangsung sangat lama. Kalau bukit-bukit di atasnya dirusak, misalnya karena aktivitas tambang, habislah dan rusaklah seluruh ekosistem itu. Ngeri.


Bagaimana mencegahnya?

Terkait dengan ini, saya teringat akan nama Patrick Moore, PhD. Dia mensinyalir terjadinya krisis ekologis yang ngeri. Karena itu, ia menulis artikel menarik dengan judul Trees are the answer, Pohon adalah jawaban terhadap krisis ekologi, krisis lingkungan hidup. Ia awali artikel itu dengan berkata “I believe that trees are the answer to a lot of questions about our future.” (Saya percaya bahwa pohon-pohon merupakan jawaban terhadap banyak persoalan tentang masa depan kita).

Jika tambang masuk Matim, penandusan akan menjadi-jadi. Penggundulan tidak terhindarkan. Kalau itu terjadi, persediaan air di bawah tanah akan hancur. Tidak ada jalan keluar lain selain seperti dikatakan Moore: pohon-pohon adalah jalan keluar dari krisis.

Jika kita tidak peduli, bumi ini, ibu kita, akan menangis, sebagaimana disuarakan teolog Brasil, Leonardo Boff dalam Cry of the Earth, Cry of the Poor (1997). Tangis (ibu) bumi adalah tangis orang miskin. Sengaja saya memakai kata ibu untuk menyebut bumi sebab kesadaran itu merupakan struktur dasar dari banyak intuisi religius agama asli di dunia ini, termasuk di Manggarai, yang menyebut bumi ‘ibu yang di bawah’ (Ende wa).

Mungkin ada sinisme, “Bagaimana kita tahu ibu bumi itu menangis?” Ibu bumi itu menangis tatkala ia tandus, gundul, kering, tidak subur, dan terluka menganga.

Jika semua hal itu terjadi, itu adalah kabar buruk bagi orang kecil dan sederhana yang dalam bahasa Boff, orang miskin. Merekalah yang menangis dan menjerit karena sengsara yang menimpa ibu bumi.

Di hadapan rintihan ibu bumi itu, kita tidak bisa berdiam diri lagi. Kita harus berbuat sesuatu untuk mengobati luka di punggung dan perut sang ibu bumi (Ende wa) itu. Jangan sampai kita ditimpa murka bumi.

Ada dua orang yang menulis buku berjudul The Angry Earth (Bumi yang Murka). Bumi bisa marah, mengamuk, dan murka. Dalam murkanya ia mengerikan. Bumi tidak hanya bisa menangis (Boff).

Murka bumi tampak dalam bentuk bencana alam: banjir bandang, tanah longsor, letusan gunung, tsunami, kebakaran, dan lain-lain. Murka bumi itulah yang dibahas Anthony Oliver-Smith dan Susanna Hoffman (editor) dalam The Angry Earth (1999) (Bumi yang Murka). Buku ini berbicara bencana alam yang ada di bumi ini dari sudut pandang antropologis. Di sini saya ingat akan buku Bill McKibben, Eaarth: Making a Life on a Tough New Planet (edisi kedua, New York: St Martin’s Griffin, 2011). Perhatikan cara dia menulis kata Eaarth itu. Ada pendobelan huruf a. Mengapa begitu? Itu bukan salah ketik. Juga bukan sekadar nyentrik.

Dia menulis begitu karena menurut dia, saat ini kita membutuhkan nama baru untuk planet ini. Planet ini, akibat perubahan iklim, telah berubah (diubah) menjadi suatu yang berbeda dari bumi (Earth) yang selama ini didiami manusia. Karena sudah berubah, diperlukan nama baru, bukan lagi Earth, melainkan Eaarth, untuk menandai perubahan itu.

Sekarang kembali ke Luwuk dan Lingko Lolok di Manggarai Timur. Kalau pabrik semen dan tambang datang, kita harus mengubah nama daerah itu dengan nama baru, mengikuti pola McKibben tadi, Luwuk menjadi Luuwuk, dan Liingko Loolok. Ingat bahwa dalam nama baru dari Luwuk itu ada Luu, yang artinya air mata. Di sana ada tangis (luu) dan kertak gigi.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Sikap Aisyiyah–Muhammadiyah terhadap RUU P-KS

👤Yulianti Muthmainnah Ketua Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, anggota Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Aisyiyah 🕔Selasa 14 Juli 2020, 04:20 WIB
Dukungan moril ‘Aisyiyah ini sama dengan ratusan organisasi perempuan lainnya yang...
Dok. Pribadi

Akselerasi Vaksin Nasional Covid-19

👤Yordan Khaedir Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Doktor Imunologi dari Chiba University Jepang, Dokter Relawan Covid-19 RSKD Duren Sawit Jakarta Timur 🕔Selasa 14 Juli 2020, 04:15 WIB
Saat ini obat antivirus yang tepat dan efektif untuk SARSCoV-2 maupun vaksin Covid- 19 belum juga...
Dok.pribadi

Beretika Dalam Komunikasi Sebuah Keniscayaan

👤Sherly Julianti Pranata, Humas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Anggota Bidang Diseminasi dan Informasi Iprahumas Indonesia 🕔Senin 13 Juli 2020, 22:05 WIB
Komunikasi yang etis mencakup kejujuran dalam komunikasi, menjaga kerahasiaan informasi, dan tidak membahas hal yang bersifat pribadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya