Kamis 25 Juni 2020, 14:09 WIB

FSGI: Syarat Usia dalam PPDB DKI Salahi Aturan

Insi Nantika Jelita | Megapolitan
FSGI: Syarat Usia dalam PPDB DKI Salahi Aturan

Antara/Aprillio Akbar
Orang tua murid terdampak PPDB DKI melakukan unjuk rasa.

 

FEDERASI Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai jalur zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020 di DKI Jakarta dengan syarat usia, merupakan kebijakan diskriminatif. Sekaligus, bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 44 Tahun 2019.

Wakil Sekjen FSGI, Satriawan Salim, mengungkapkan pihaknya sudah mewawancarai salah satu sekolah negeri di Jakarta. Pada penerimaan siswa jalur afirmasi, kuotanya sebesar 25% dari daya tampung tingkat SMA.

Ketika calon siswa mendaftar ke sekolah, lanjut dia, secara otomatis berdasarkan sistem, yang bisa ikut pendaftaran afirmasi adalah siswa yang usianya di atas atau lebih tua. Misalnya, usia 19, 18, lalu 17.

Baca juga: Sistem Zonasi dalam PPDB, Disdik DKI: Bukan untuk Buang Anak

Sehingga, usia di bawahnya tidak dapat mendaftar atau langsung ditolak oleh sistem. Sebab, kuotanya sudah terpenuhi. Satriawan berpendapat hal itu lebih mengkhawatirkan, ketika prasyarat utama usia juga diberlakukan dalam jalur zonasi DKI Jakarta. Di mana alokasinya sebesar 40%, sama dengan contoh tersebut.

"Artinya, calon siswa pendaftar yang usianya di bawah, jika melampaui kuota di sekolah, maka yang akan diambil adalah usia tertua. Pada konteks ini, kebijakan dan pelaksanaan PPDB DKI berpotensi diskriminatif dan bertentangan dengan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019," jelas Satriawan dalam keterangan resmi, Kamis (25/6).

Baca juga: Orang Tua Minta Keringanan SPP, Kemendikbud Tidak Bisa Intervensi

Dalam Pasal 25 ayat 1 Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, disebutkan seleksi calon peserta didik baru SMP (kelas 7) dan SMA (kelas 10) memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah dalam zonasi yang sama.

"Di sini sangat jelas sekali frasenya tertulis, yaitu dilakukan dengan memprioritaskan jarak. Jelas sekali prasyaratnya bukan usia, melainkan jarak," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan dalam pasal yang sama ayat 2 disebutkan jika jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan sekolah sama, maka seleksi untuk pemenuhan kuota terakhir menggunakan usia peserta didik yang lebih tua.

Baca juga: Dampak Pandemi, Kualitas Pendidikan Alami Penurunan

"Sebenarnya sudah sangat clear dalam pasal ini, bahwa patokan PPDB zonasi itu adalah jarak rumah siswa dengan sekolah, bukan seleksi berdasarkan usia. Adapun seleksi prioritas usia tertua bisa dilakukan, jika jarak rumah calon siswa dengan sekolah adalah sama," tukas Satriawan.

Penempatan syarat atau ketegori usia sebagai prasyarat utama, atau penempatan seleksi awal untuk alokasi jarak dan afirmasi, berpotensi menyalahi Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019.

"Kemendikbud dan daerah wajib mengevaluasi pelaksanaan PPDB sejak 2017 sampai sekarang. Selama ini, terkesan tidak ada evaluasi yang berarti. Hampir tiap tahun pelaksanaan PPDB menuai kritik publik,” tutupnya.(OL-11)

 

 

Baca Juga

Ist

Tes Ulang di Dua Lab, 10 Karyawan RS Azra Negatif Covid-19

👤Dede Susianti 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 21:09 WIB
Manajemen Rumah Sakit Azra, salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Kota Bogor, melakukan pemeriksaan intensif terhadap 10...
Antara

Rekor Kesembuhan, Sehari 558 Warga DKI Sembuh Covid-19

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 20:10 WIB
Hingga 9 Agustus 2020, total pasien sembuh nasional sudah menembus 80.952...
Antara

Pemprov DKI Ancam Tutup Perusahaan Pelanggar Protokol Kesehatan

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 09 Agustus 2020, 18:37 WIB
Penambahan masa penutupan itu dilakukan, jika terbukti laporan dari karyawan di tempat kerjanya itu melanggar protokol atau menutupi kasus...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya