Senin 22 Juni 2020, 23:00 WIB

Alternatif Menjanjikan Covid-19 Dengan Plasma Konvalesen

Ali Ghufron, Mukti Ketua Konsorsium Penelitian dan Inovasi Terkait Covid-19 Kementerian Ristek/BRIN | Opini
 Alternatif Menjanjikan Covid-19 Dengan Plasma Konvalesen

Dok.pribadi
Ali Ghufron Mukti

DARAH terdiri dari komponen yang berbentuk cair dan non-cair. Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cair berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah. Komponen non-cair berupa sel-sel baik sel darah merah atau sel darah putih. Lebih kurang 55% dari volume atau jumlah darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air, 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon dioksida. 

Plasma darah juga merupakan medium pada proses ekskresi. Plasma darah sering disalah artikan dengan serum. Serum adalah plasma darah yang tidak mengandung faktor koagulasi atau penjedalan darah. Di beberapa negara pemberian terapi dengan plasma konvalesen merupakan terapi baru. Indonesia baru beberapa saat penggunaan terapi plasma ini untuk pasien covid-19. 

Sebenarnya konsep terapi plasma konvalesen ini bisa ditelusuri pertama kali pada 1890, ketika seorang ahli fisiologi Jerman Emil von Behring menemukan serum dari kelinci yang terinfeksi dipterid, yang efektif untuk mencegah infeksi difteri. Pada 1918 pada waktu pandemi Spanish flu juga digunakan. Hanya saja pada waktu itu terapi plasma konvalesen kurang efektif dan memiliki efek samping berbahaya.  

Pada 2012 digunakan untuk penyakit corona virus MERS. Karenanya, WHO telah merekomendasikan terapi dengan plasma konvalesen untuk pasien yang terserang virus seperti ebola, SARS dan H1N1 pada 2014. Di Kota Wuhan, Tiongkok tempat pertama meledak pandemi covid-19, telah menggunakan terapi plasma konvalesen dan hasilnya menunjukkan perbaikan yang bermakna. 

Demikian juga di Kerala, India, Korea Selatan, dan akhir Maret di rumah sakit Johns Hopkins yang diikuti beberapa rumah sakit di Houston dan New York, Amerika Serikat. Akhirnya FDA (Food and Drug Administration) memberikan izin dalam expanded access program. Pemberian terutama untuk kasus covid-19 yang berat atau kritis.

Efektivitas dan keamanan 
Kai Duan, Bende Liu, Cesheng Li dkk melaporkan penelitian yang dimuat dalam Prosiding The National Academi of Sciences of the United States of America' 2020, sebagai berikut; 10 pasien covid-19 berat dan telah dikonfirmasi dengan uji real-time viral RNA yang diikuti secara prospektif. Mereka diterapi dengan satu dosis 200 ml plasma konvalesen. Plasma konvalesen diambil dari donor pasien covid-19 yang telah sembuh. Dengan titer antibodi yang dinetralkan di atas 1:640 atau tergantung protokol. Plasma tersebut ditransfusikan ke pasien selain juga mendapatkan obat antiviral. 

Hasilnya terlihat bahwa transfusi plasma tersebut aman. Perbaikan gejala klinis terjadi tampak secara bermakna pada hari ke 3 setelah pemberian transfusi plasma. Demikian juga perbaikan kelihatan dengan jelas pada parameter laboratorium setelah mendapat transfusi plasma. Tujuh dari 10 pasien yang terdeteksi virus dalam darah (viremia) setelah pemberian plasma tersebut, virus dalam darah tidak terdeteksi lagi. 

Meski begitu peneliti menyampaikan bahwa untuk dosis yang optimal, waktu pemberian, dan manfaat klinis yang lebih optimal memerlukan uji klinik yang besar dan terkendali. Uji klinik yang besar ini perlu oleh karena penelitian lain di Wuhan, yang diterbitkan di Jurnal Kedokteran Amerika melibatkan sekitar 100 pasien, kurang memberikan perbaikan yang bermakna. 

Meski demikian Profesor Sir Munir Pirmohamed, Presiden dari masyarakat farmakologi berkomentar bahwa meskipun penelitian pemberian plasma konvalesen pada pasien covid-19 yang sakit berat sudah menggunakan kelompok control, tetapi harus dipahami dengan hati-hati. Hal ini karena penelitian tersebut bukan dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian randomised control trial

Randomised control trial merupakan rancangan penelitian yang dilakukan secara acak, atau random pada pasien yang mendapat perlakuan pemberian plasma konvalesen. Selain itu, penelitian tersebut juga menggunakan kelompok kontrol.  Dengan demikian rancangan penelitian randomised control trial adalah penelitian dengan kualitas yang sangat baik.    

Kondisi di Indonesia
Sejak beberapa pekan lalu Konsorsium Penelitian dan Inovasi terkait Covid-19 Ristek/BRIN telah merencanakan melakukan uji klinis plasma konvalesen. Persiapan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada beserta para dokter di RS Dr Sardjito dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya beserta para dokter di RS Syaiful Anwar, Malang telah secara intensif dilakukan. 

Tentu tidak terbatas kepada kedua institusi tersebut dukungan dari Laboratorium Bio Molekuler Eijkman, LIPI, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan Kementerian Kesehatan serta bergabung institusi lain seperti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pada saat yang sama di RSPAD juga sudah mulai dilakukan, mungkin ada juga rumah sakit lain yang melakukan hal serupa. 

Dalam waktu singkat telah disusun Buku Penatalaksanaan Terapi Plasma Konvalesen Bagi Pasien COVID-19, yang dikeluarkan Tim Terapi Plasma Konvalesen COVID-19 pada April 2020. Tim tersebut terdiri dari berbagai dokter dari berbagai rumah sakit di Indonesia. BPOM juga telah menerbitkan panduan terkait dengan terapi plasma konvalesen.    

Siapa yang dapat diterapi 
Plasma konvalesen yang diberikan kepada pasien tidak boleh sembarangan. Plasma ini harus memiliki golongan darah sistem ABO yang sama antara donor dan pasien resipien. Plasma konvalesen telah diskrining dan bebas infeksi HIV, hepatitis ataupun sipilis. Pasien yang diterapi dengan plasma konvalesen harus sudah terbukti secara laboratorium benar-benar positif covid-19.  

Pasien covid-19 dalam kategori ini adalah derajat berat seperti sesak nafas, frekuensi nafas lebih dari 30 kali per menit atau infiltrat paru lebih dari 50% dalam 24 jam sampai 48 jam. Plasma konvalesen dapat pula diberikan pada pasien covid-19 yang kritis seperti mengalami gagal nafas, syok, disfungsi atau gagal organ yang multipel.

Terapi baru dengan plasma konvalesen ini memiliki harapan baru untuk penyembuhan pasien covid-19 terutama yang derajat berat dan bahkan telah kritis. Namun demikian, karena terapi kedokteran harus berbasis bukti (evidence based medicine) maka uji klinis tetap harus dilakukan. Berbagai institusi penelitian (seperti Lembaga Eijkman), rumah sakit serta fakultas kedokteran di bawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan tentu dengan Konsorsium di dalamnya, sedang melakukan uji klinis. 

Masalahnya, ini memerlukan ketersediaan dan keihlasan donor. Maka Konsorsium Penelitian dan Inovasi terkait Covid-19 Ristek/BRIN berharap, mereka yang telah sembuh dan memenuhi syarat bersedia sebagai donor plasma konvalesen. Ketersediaan donor ini penting untuk dapat menolong nyawa para PDP (pasien dalam pengawasan) terutama yang telah berat dan atau kritis. Pada saat yang sama Konsorsium berharap segera ditemukan baik strategi pencegahan, vaksin, pemutusan rantai penularan, obat dan terapi lain yang jitu.  

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

Kedaulatan Data Pribadi

👤Willy Aditya Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:15 WIB
Karena bernilai itulah data pribadi kerap...
MI/AGUS UTANTORO

Konstitusionalitas Hasil Pilpres 2019

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:10 WIB
Semestinya hak uji materi MA dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kekacauan...
Dok. Pribadi

Belanja Militer Jumbo Vs Reformasi Militer, Mana Dulu?

👤Ade Muhammad Pakar Sistem Pertahanan 🕔Jumat 10 Juli 2020, 04:35 WIB
BELANJA militer besar besaran oleh Kemenhan yang diungkap Badan Pusat Statistik ialah terkait dengan data lonjakan impor senjata dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya