Minggu 07 Juni 2020, 06:10 WIB

Komisi III Desak Usut Kasus Impor Tekstil Ilegal

Putri Rosmalia Octaviyani | Politik dan Hukum
Komisi III Desak Usut Kasus Impor Tekstil Ilegal

Dok. Pribadi
Anggota Komisi III DPR RI, Eva Yuliana.

 

KOMISI III DPR RI mendesak Kejaksaan Agung dan Polri lebih serius mengusut kasus dugaan korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam importasi tekstil di Dirjen Bea dan Cukai tahun 2018-2020. Dalam waktu dekat, Komisi III akan meminta penjelasan Jaksa Agung dan kepolisian terkait pengusutan dugaan kasus korupsi tersebut.

“Seusai reses kita akan panggil mereka,” ujar anggota Komisi III DPR RI, Eva Yuliana, dalam keterangan pers, kemarin.

Eva mengatakan Komisi III ingin semua pihak bekerja serius menangani kasus itu. Melalui pengawasannya yang terukur, berdasar, akuntabel, transparan, dan bebas kepentingan.

“Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk bermain atau mengambil keuntungan dari giat-giat penegakan hukum yang dilakukan institusi Kejaksaan Agung dan Polri,” ujarnya.

Eva menambahkan, kasus impor ilegal melalui pelabuhan tikus di Batam sudah sering terjadi. Bahkan, Kemendag periode lalu sebenarnya sudah melakukan pengetatan. Namun, saat pandemi covid-19 justru dijadikan celah oleh perusahaan yang tidak bertanggung jawab.

“Impor ilegal tekstil ini jelas merugikan Indonesia. Pertama, negara tidak mendapatkan bea masuk dari produk tekstil ini. Kedua, merugikan industri tekstil dalam negeri, baik itu perusahaan maupun UMKM. Apalagi di tengah pandemi covid-19 industri tekstil tidak bergeliat seperti biasanya,” tandasnya.

Selain itu, Eva juga berharap Kejaksaan Agung dan Bareskrim Polri dapat memberikan masukan bagi Bea Cukai dan Kementerian Perdagangan agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. *Sebelumnya, dua rumah pejabat Bea Cukai di Batam digeledah tim penyidik JAM-Pidsus Kejagung RI.

Penggeledahan terhadap dua rumah milik petinggi Bea Cukai Batam itu merupakan tindak lanjut dari penyidikan kasus dugaan penyelundupan 27 kontainer berisi tekstil impor premium yang diamankan di Pelabuhan Tanjung Priok, Maret 2020.

Dari 27 kontainer yang bertolak dari Pelabuhan Batuampar, Batam, faktur pengiriman menyebutkan 10 kontainer diimpor satu perusahaan, sisanya diimpor perusahaan lain asal Batam.

Temuan 27 kontainer milik PT FIB (Flemings Indo Batam) dan PT PGP (Peter Garmindo Prima) itu dilakukan Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok.

Saat pemeriksaan didapati ketidaksesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 keluar dan isi muatan saat pemeriksaan fisik barang. (Pro/P-5)

Baca Juga

MI/Soleh

Gara-Gara KTP Djoko Lurah Dinonaktifkan

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 05:26 WIB
Pengacara Djoko Tjandra juga bisa dikenai pidana apabila terbukti ikut membantu menyembunyikan kliennya melarikan...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Penerima Bodong Kartu Prakerja Bisa Dituntut

👤Dhk/Ant/X-8 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 05:10 WIB
Ada dua pasal baru terkait sanksi perdata dan pidana dalam Perpres No 76/2020 tersebut, yakni Pasal 31C dan Pasal 31D. Penerima kartu...
ANTARA/ARIF FIRMANSYAH

Pemda Intensifkan Pelacakan

👤Bayu Anggoro 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:41 WIB
Pemprov Jabar akan memberlakukan pembatasan sosial berskala mikro di kawasan sekitar klaster...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya