Minggu 07 Juni 2020, 02:10 WIB

Bangun Wadah untuk Unek-Unek

Galih Agus Saputra | Weekend
Bangun Wadah untuk Unek-Unek

Dok Pribadi
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Bagus Juwono Priambodo

MEREBAKNYA pandemi virus korona baru (Covid-19) di berbagai belahan dunia tidak hanya berimbas pada gangguan fisik, melainkan juga masalah mental. 

Sayangnya, hal itu sering kali luput dari perhatian masyarakat karena kesadaran akan pentingnya kesehatan mental masih kurang. Di samping itu, ada pula faktor stigma yang membuat seseorang enggan berkonsultasi perihal masalah mental.

Melihat permasalahan tersebut,mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Bagus Juwono Priambodo, menggagas sebuah aplikasi bernama Curhatin. Melalui aplikasi itu, Bagus dan rekan timnya, Ihdiannaja, Yuki Yanuar Ratna, Ida Bagus Rai Widyana, dan Muhammad Rayham Hakim ingin masyarakat bisa mengakses layanan konsultasi psikologi secara daring.

Kepada Media Indonesia, Bagus sempat menceritakan seluk-beluk di balik aplikasi tersebut. Berikut ialah kutipan wawancara melalui telepon, Rabu (3/6), bersama anak muda yang juga akrab disapa Bano itu.

Bagaimana kamu melihat isu kesehatan mental di Indonesia saat ini?
Kalau dilihat di banyak media mainstream, rata-rata kasus yang ada di seputaran kita sekarang ini, apalagi yang dipicu covid-19, rata-rata didasari kebutuhan dasar manusia, seperti pangan.

Namun, sebenarnya di dalam hal itu ada hal lain yang mendorong mereka untuk melakukan, misalnya, tindak kejahatan. Itu  kesehatan mentalnya. Mereka itu tidak punya platform untuk, istilah saya, berbagi unek-unek.

Karena itu jadi terpikir membuat aplikasi?
Sebelumnya, ide ini hanya ide remeh. Kita itu di kampus ingin membuat sesuatu. Sebenarnya masih untuk anak-anak kampus, masih anak-anak muda, misalnya, yang putus cinta atau kayak gitu-gitu masalahnya. Untuk orang yang pengin curhat juga.

Kenapa sih orang harus curhat di media sosial? Bikin thread di Twitter dan lain sebagainya tidak menyelesaikan masalah. Makanya kita ingin membuat platform untuk membantu.

Sudah sejauh mana aplikasinya?
Sekarang masih dalam bentuk prototipe. Insya Allah sekitar Agustus ke September sudah bisa disebarluaskan. Kami sekarang dalam tahap seperti survei, lalu bagaimana cara membuat business rule yang baik karena nanti di aplikasinya ini yang menangani kan profesional. Harus buat business rule agar mereka untung, kita juga untung.

Setelah itu, buat sistemnya. Kami ingin ini berkelanjutan, jadi tidak buru-buru di-publish. Matang dulu baru kita sesemua bar. Untuk berbayar atau tidaknya juga belum kita tentukan. Kalau kita lihat dari aplikasi sejenis, itu ada fee. Namun, perhitungannya kita belum
tahu. Jadi, sekarang ini kita masih belajar bagaimana business rule-nya.

Seperti apa sih fitur Curhatin?
Nantinya di aplikasi ini ada beberapa fitur. Salah satunya counseling. Itu dibagi dua, ada yang dengan psikolog dan ada psikiater. Nanti kita juga buat fitur yang istilahnya, orang yang enggak punya ilmunya, tapi ingin mendengarkan cerita orang lain. Terus nanti ada podcast juga di dalamnya dan fitur jurnal begitu.

Nanti ada monitoring stress. Seberapa tingkat stres dengan kuis-kuis yang diberikan. Terus ada berita-berita. Kita memfilter berita-berita yang istilahnya, positiflah. Seberapa besar untuk biaya ini bisa dibilang puluhan juta. Kalau pastinya relatif ya, tapi puluhanlah untuk pengembangannya juga.

Kabarnya ada rencana koordinasi dengan Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)?
Kami baru mau coba untuk mengapply, tapi pinginnya pas apply itu benar-benar sudah matang secara konsep. Aplikasi sudah jadi pas kita ke sana, business rule sama arsitekturnya sudah mantap.

Apa tantangannya waktu bikin aplikasi ini?
Niat sih sebenarnya. Niatnya kuat dan secara teknis enggak terlalu gimana-gimana. Namun, secara fundamental, membangun mood, hal-hal seperti itulah yang jadi tantangan.

Takut gagal juga. Pemikirannya, saya juga, karena anak teknik informatika kan selalu cenderung mengenai bagaimana flow chart-nya dan lain-lain. Jadi, ketika melihat rencana ke depan, terus ada kemungkinan gagal satu persen itu selalu saja ada di pikiran.

Secara teknis, sebulanan sudah jadi. Namun, ya, untuk kerja sama ke sana ke mari dan konsolidasinya yang sedikit buat lama. Pembuatannya di masa covid-19 ini juga. Dalam tim, pembagian kerjanya sesemua sebenarnya juga mengerjakan hal yang sama. Tim kami sebenarnya berlima. Waktu daftar lomba hanya bertiga karena yang dua lagi beda kelas.

Bagaimana ceritanya kemarin mengalahkan 5.590 ide dari seluruh Indonesia dan mendapat penghargaan 17 Ide Terbaik INA Ideathon dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional?
Enggak nyangka sih sebenarnya. Sebenarnya waktu kita apply pertama kali itu disuruh dosen, ya, ‘coba kamu apply’ begitu. Sebenarnya untuk tugas mata kuliah, terus kata dosennya, ‘kalau kamu lolos, lolos saja, lolos berkas, kamu dapat nilai A’. Eh, ternyata tidak cuma lolos berkas, ternyata menang. Ya sudah, sekarang tinggal leha-leha.

Apa harapan kalian terkait dengan kesehatan mental di dalam negeri?
Kami semakin ke sini semakin melihat bahwa kesehatan mental itu awareness-nya sedikit di Indonesia. Bahkan, sering dianggap remeh begitu. Orang yang bisa berobat itu cuma orang-orang yang istilahnya open minded, atau orang berada, punya power, yang bisa menyalurkan isi di kepalanya. Namun, orang-orang yang menengah ke bawah, ketika ingin berobat ke psikiater atau psikolog, mereka itu pasti dicap ‘ini orang gila ini pasti’.

Kesehatan mental itu kan sebenarnya sama pentingnya dengan kesehatan raga. Makanya kita jadi tidak hanya terpaku dengan covid-19, tetapi juga ke depannya ingin masyarakat Indonesia lebih aware dengan kesehatan mentalnya. Semakin ke sini teknologi sudah semakin canggih. Kita sediakan platform yang nanti secara anonimus mereka bisa konsultasi begitu.

Kita sebenarnya juga lebih ke orang teknis, jadi teori mengenai psikologi tidak jago-jago amat. Makanya, kenapa kita harus banget, wajib, bekerja sama dengan psikiater dan psikolog profesional. Istilahnya, kita bisa bikin rumahnya, tetapi kita enggak bisa mengisi tanpa mereka. (M-2)

Baca Juga

CDC

Varian Terbaru Virus Korona Dominasi Infeksi Global

👤Abdillah Marzuqi 🕔Jumat 10 Juli 2020, 20:50 WIB
Varian tersebut diduga tidak membuat pasien lebih sakit dibanding virus...
Unsplash/ Lauren Fleischman

New Normal di Bisnis Penyewaan Busana

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 10 Juli 2020, 19:30 WIB
Busana yang disewakan kini juga...
Dok. EMPC 2020

Kompetisi untuk Para Produser Musik Elektronik Kembali Digelar

👤Fathurrozak 🕔Jumat 10 Juli 2020, 17:15 WIB
Tahun ini EMPC menggandeng label asal Belanda, Barong...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya