Rabu 03 Juni 2020, 09:10 WIB

Awas! Penyakit Metabolik Mengintai Pascacovid-19

Eni Kartinah | Humaniora
Awas! Penyakit Metabolik Mengintai Pascacovid-19

MI/ARYA MANGGALA
Sejumlah peserta antre untuk memeriksa gula darah seusai mengikuti jalan santai di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk (RS PIK), Jakarta Utara.

 

RENCANA pemerintah untuk mulai menerapkan kenormalan baru di sejumlah wilayah disembut gembira sejumlah kalangan. Sebabnya mereka meyakini, kebijakan itu bisa membangkitkan lagi roda perekonomian yang sempat ambruk akibat pandemi covid-19.

Meski begitu Presiden Joko Widodo meminta seluruh masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan. Sampai ditemukan vaksin yang efektif, masyarakat harus hidup berdamai dengan covid 19 untuk beberapa waktu ke depan. Sebab potensi munculnya gelombang ke dua pandemi covid 19 sangat tinggi.  

Baca juga: Mayoritas Pasien Terinfeksi Covid-19 Punya Penyakit Penyerta

Kasus baru di Wuhan, Tiongkok setelah sebulan zero kasus, menjadi alarm untuk tetap waspada. Menurut dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, SpP, jika PSBB tidak dijalankan dengan disiplin dan masyarakat lengah menjalankan protokol kesehatan, diperkirakan terjadi gelombang kedua  pandemi covid 19 di Indonesia dan muncul potensi kesehatan metabolik.

Senada, Ketua Komite Medis/Team Covid 19 RS Murni Teguh Sudirman Jakarta,  Dr Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD mengatakan, pada saat terjadi pandemi, terjadi juga perubahan pola hidup, baik secara fisik, psikis, atau kehidupan sosial selama bekerja dari rumah (WFH). Semua hal itu sudah pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan yang paling menonjol terhadap kesehatan metabolik.

Ia memberikan contoh di Eropa.  Pada sekarang ini, semua orang terlalu fokus pada covid 19. Artinya, penyakit-penyakit seperti serangan jantung, gula tinggi, hipertensi jadi seperti terlupakan.

"Hanya berfokus pada covid 19 justru membuat orang jadi tidak awas terhadap penyakit metabolik. Padahal, penyakit metabolik itu adalah penyakit degeneratif. Dengan semakin tua kita, maka makin banyak kemungkinannya untuk kena penyakit diabetes, darah tinggi, dan gangguan kolesterol," katanya.

Menurut Roy, di Indonesia diperlakukan analisa dan data, apakah setelah enam bulan  pascaera covid-19 selesai,  penyakit metabolik akan bertambah? Misalnya, yang tadinya tidak diabetes jadi diabetes. Dari diabetes ringan, menjadi diabetes berat. Yang tadinya kolestrolnya biasa jadi naik. Ini semua, karena pada saat WFH, mereka takut beli obat, tidak konsultasi ke dokter, dan banyak timbul kecemasan bahkan takut bertemu orang luar.

Untuk mencegah timbulnya penyakit metabolik, ia menyarankan, masyarakat melakukan pola hidup sehat dengan olahraga rutin, konsumsi makanan sehat serta bergizi.

Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Alergi-imunologi, Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI mengatakan, covid-19 merupakan virus pandemik yang  menimbulkan ketakutan banyak orang. Jadi, semua orang pakai macam-macam, termasuk pakai suplemen.

"Terpenting pada kondisi seperti ini adalah antioksidan. Ini penting sekali, karena proses di dalam tubuh, seperti makanan dan segala macam, akan terbentuk oksidan-oksidan. Jadi, antioksidan itu adalah salah satu yang meningkatkan imun sistem," ujarnya.

Ia mengatakan, bukan hanya pada saat covid-19, sehari-hari pun kita butuh antioksidan. Apalagi, dengan kondisi covid-19  ketika setiap orang butuh sistem imun yang baik.  

Antioksidan sangat penting untuk menangkal radikal bebas. Paling mudah itu adalah dari asap rokok dan asap kendaraan bermotor yang dapat menciptakan radikal bebas. Antioksidan dapat melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

Sebaliknya, bila kekurangan antioksidan, daya tahan tubuh akan menurun.  Artinya, tanpa vitamin, tubuh  tidak bisa membentuk sistem imun yang baik. Oleh karena itu, vitamin itu sangat dibutuhkan untuk mempertahankan sistem imun.

Dijelaskan VP Research & Development SOHO Global Health, Raphael Aswin Susilowidodo, Asthin series merupakan rangkaian suplemen kesehatan yang mengandung Astaxanthin sebagai sumber antioksidan. Suplementasi Asthin sering digunakan sebagai terapi suportif yang berfungsi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.

"Asthin mengandung bahan aktif natural Astaxanthin yang berasal dari mikroalga spesies Haemustococcus pluvalis. Sebagai salah satu senyawa golongan karotenoid, astaxanthin memiliki potensi antioksidan yang sangat kuat," ucapnya.

Potensi antioksidan Astaxanthin adalah 6000x lebih kuat bila dibandingkan dengan vitamin C, 500x lebih kuat bila dibandingkan dengan vitamin E, 550x lebih kuat bila dibandingkan dengan EGCG (kandungan pada teh hijau), 800x lebih kuat bila dibandingkan dengan Coenzyme Q10 & 75x.

Dari berbagai penelitian in vitro, in vivo dan uji klinis, astaxanthin memiliki efek imunomodulasi, anti-inflamasi, dan antioksidan. Efek imunomodulasi astaxanthin sebagai ajuvan pada covid-19 dapat melalui modulasi respon imun seperti neutrofil, limfosit, sel T, macrofag dan natural killer sel. (A-1)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Deteksi Dini Penting Untuk Selamatkan Penderita Kanker Payudara

👤Syarief Oebaidillah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 23:33 WIB
Menurutnya jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal maka kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup yang lebih lama adalah 98...
MI/Andri Widiyanto

100 Tahun Indonesia Emas Ada di Tangan Pemuda

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 23:18 WIB
Untuk dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, para pemuda harus memiliki karakter...
Biro Pers Istana

Jokowi: Penghormatan Tertinggi untuk Dokter Gugur saat Pandemi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 18:20 WIB
"Keteladanan yang ditunjukkan para dokter di masa pandemi ini telah menginspirasi jutaan anak bangsa untuk saling menolong, saling...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya