Selasa 02 Juni 2020, 18:46 WIB

KPK Sempat Buka Paksa Rumah Persembunyian Nurhadi

Faustinus Nua | Politik dan Hukum
KPK Sempat Buka Paksa Rumah Persembunyian Nurhadi

MI/Adam Dwi
Tersangka kasus suap, mantan Sekretaris MA Nurhadi, seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK.

 

KOMISI Pemberatasan Korupsi (KPK) berhasil menangkap dua tersangka dugaan kasus suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA) periode 2011-2016.

Keduanya adalah mantan Sekretaris MA, Nurhadi (NHD), dan menantunya, Rezky (RHE), yang ditetapkan sebagai DPO KPK sejak Februari 2020.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron, mengungkapkan dalam penangkapan kedua DPO pada Senin (1/6) kemarin, pihaknya membuka paksa gerbang dan pintu rumah persembunyian tersangka. Pasalanya, kedatangan dan upaya persuasi KPK tidak dihiraukan kedua DPO.

Baca juga: KPK: Novel Baswedan Salah Satu Penyidik yang Tangkap Nurhadi

“Awalnya, tim penyidik KPK bersikap persuasif dengan mengetuk pagar rumah, namun tidak dihiraukan. Kemudian, penyidik KPK didampingi ketua RW dan pengurus RT setempat melakukan upaya paksa, dengan membongkar kunci pintu gerbang dan pintu rumah,” ungkap Nurul dalam konferensi pers di Gedung KPK, Selasa (2/6).

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada Senin (1/6) sekitar pukul 18.00 WIB, tim penyidik KPK mendapat informasi dari masyarakat mengenai keberadaan dua tersangka. Tim kemudian bergerak ke Jalan Simprug Golf , kawasan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, yang diduga menjadi lokasi persembunyian NHD dan RHE.

Berbekal surat perintah penangkapan dan penggeladahan, penyidik KPK mendatangi rumah tersebut pukul 21.30 WIB. “Setelah penyidik berhasil masuk ke dalam rumah, ditemukan tersangka NHD di salah satu kamar. Lalu di kamar lain ditemukan tersangka RHE. Langsung dilakukan penangkapan terhadap keduanya dan dibawa ke kantor KPK,” papar Nurul.

Baca juga: ICW Desak KPK Gunakan Pasal TPPU untuk Nurhadi

Penangkapan NHD dan RHE merupakan pengembangan perkara dugaan kasus suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung periode 2011-2016. Perkara tersebut pengembangan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Jakarta pada 20 April 2016. Sebelumnya, KPK menetapkan empat tersangka, yaitu Doddy Ariyanto Supeno, Edy Nasution, Eddy Sindoro dan Lucas. Perkaran mereka telah berkekuatan hukum tetap.

Setelah dilakukan pemeriksaan, penyidik KPK melakukan penahanan selama 20 hari terhadap kedua tersangka. Kedua tersangka diduga menerima hadiah atau janji terkait dengan pengurusan perkara perdata beberapa perusahaan. Akumulasi hadiah yang diterima tersangka berkisar Rp 46 miliar.(OL-11)

 

 

Baca Juga

DOK MI

KPK Kembali Lakukkan Operasi Tangkap Tangan

👤Antara 🕔Jumat 03 Juli 2020, 02:22 WIB
Namun, Firli  belum menjelaskan secara rinci siapa yang tertangkap maupun lokasi dari OTT tersebut. Ia hanya menyatakan bahwa tim KPK...
ANTARA FOTO/Reno Esnir

Anwar Pilih Mundur dari Hakim Tipikor untuk Jadi Komisaris

👤Antara 🕔Kamis 02 Juli 2020, 22:24 WIB
Anwar merupakan hakim tipikor yang menangani kasus besar, di antaranya kasus traveller cheque, penyalahgunaan dana Yayasan Pengembangan...
Antara

Ketua MPR Usulkan 2 Opsi Ubah RUU HIP jadi RUU PIP

👤Antara 🕔Kamis 02 Juli 2020, 21:45 WIB
Setidaknya ada dua opsi yang bisa ditempuh sesuai mekanisme aturan dan perundang-undangan yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya