Minggu 31 Mei 2020, 14:34 WIB

Kembali Sekolah Saat Covid-19, Netty Heryawan: Jangan Dipaksakan

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Kembali Sekolah Saat Covid-19, Netty Heryawan: Jangan Dipaksakan

Ist/DPR
Ketua Tim Covid-19 FPKS DPR RI  Netty Prasetiyani Heryawan.

 

KETUA Tim Covid-19 FPKS DPR RI  Netty Prasetiyani Heryawan menilai wacana pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 sebagai ketergesaan yang berbahaya. Menurutnya, jika dipaksakan, akan menjadi pertaruhan besar bagi keselamatan generasi penerus bangsa di masa depan.

"Pembukaan sekolah di saat pandemi sama saja dengan mempertaruhkan nyawa generasi penerus bangsa. Kita tahu,  hingga kini transmisi Covid-19 belum terkendali, kasus baru masih terus terjadi, dan kurvanya juga masih belum melandai.  Saya keberatan jika anak-anak seperti dijadikan kelinci percobaan untuk menguji kebijakan pemerintah," kata Netty dalam keterangan media, Sabtu (30/5).

"Atas nama  kecintaan, kepedulian  dan keberpihakan terhadap masa depan generasi bangsa, saya minta tunda kebijakan ini," tambahnya.

Kekhawatiran Wakil Ketua Fraksi PKS ini wajar mengingat penularan Covid-19 kepada anak-anak Indonesia tergolong cukup tinggi.

Sebagaimana rilis resmi yang disampaikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 18 Mei 2020, bahwa tak kurang dari 584 anak dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan 14 anak di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, jumlah anak yang meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 berjumlah 129 orang dari 3.324 anak PDP (pasien dalam pengawasan) tersebut. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga menyampaikan bahwa  hingga 28 Mei 2020, total anak-anak yang terpapar Covid-19 mencapai 5% dari total kasus yang dilaporkan ke pemerintah.

"Kasus kematian anak Indonesia karena Covid-19  paling tinggi se-Asia. Jika tidak menyiapkan seluruh faktor pendukungnya, maka sekolah dapat menjadi mata rantai  baru penularan Covid-19," jelasnya.

"Kita perlu pikirkan bagaimana cara anak berangkat ke sekolah, bagaimana anak berinteraksi dengan sesamanya dan para guru, bagaimana faktor kebersihan sarana dan prasarana sekolah, bagaimana mengatur rasio jumlah siswa per kelas...." tanya Netty retoris.

Netty meminta pemerintah belajar dari negara lain seperti Prancis dan Korea Selatan. 

"Ketika Prancis mulai membuka sekolah, ditemukan ada 70 kasus baru. Sementara di Korea Selatan ada 79 kasus baru.  Apa kita ingin seperti itu juga? Janganlah  coba-coba kebijakan yang  pertaruhannya adalah nyawa," tambahnya.

Selain itu, menurut Netty, berdasarkan laporan KPAI baru ada 18% sekolah yang siap dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, sementara 80 persen lebih lainnya tidak siap.

"Ini membuktikan bahwa pembukaan sekolah saat ini berbahaya dan penuh pertaruhan, bahkan banyak orangtua yang khawatir jika pembukaan sekolah tetap dipaksakan, " kata Netty.

Sebagaimana diketahui, saat ini beredar petisi online yang sudah ditandatangani lebih dari 60 ribuan orang, meminta agar pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 ditunda. (OL-09)

Baca Juga

 Archie Bhadrika / AFP

Polisi Tak Temukan Gelagat Aneh Sebelum Camille Gantung Diri

👤Tri Subarkah 🕔Selasa 14 Juli 2020, 12:50 WIB
Menurut Wakil Direktur Tahanan dan Barang Bukti PMJ Kompol Ervin, tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkan saat polisi menggiring Camille...
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Wapres: Tokoh Agama bisa Bantu Keberhasilan AKB

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 14 Juli 2020, 12:25 WIB
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengajak tokoh agama untuk mengingatkan seluruh pihak agar patuh dan konsisten menjalankan...
MI/M. Irfan

Siang Ini, DPR Gelar Paripurna Sahkan Perppu Pilkada Jadi UU

👤Anggitondi Martaon 🕔Selasa 14 Juli 2020, 12:19 WIB
DPR akan menggelar rapat paripurna pada Selasa (14/7). Rapat kali ini mengesahkan beberapa aturan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya