Minggu 31 Mei 2020, 13:25 WIB

Sistem BLC Catat 39.000 Data Penyelidikan Epidemiologi

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Sistem BLC Catat 39.000 Data Penyelidikan Epidemiologi

Antara/Moch Asim
Petugas beraktivitas di ruang deteksi PCR laboratorium biomolekuler Rumah Sakit Pelindo Husada Citra, Surabaya

 

Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah menggunakan sistem informasi terintegrasi bernama Bersatu Lawan Covid-19 (BLC) untuk analisis data yang kemudian dijadikan sebagai landasan pemulihan Aktivitas Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19.

Melalui sistem tersebut, pelaporan data dari daerah hingga ke pusat dapat lebih cepat, sehingga dapat memaksimalkan kinerja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko-risiko dan daerah rawan yang ada di sekitarnya.

Pakar Informatika Penyakit Menular dan Epidemiologi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan sistem BLC telah mencatat sebanyak 39.000 data penyelidikan epidemiologi hingga Sabtu (30/5).

"Sampai dengan hari ini, sistem Bersatu Lawan Covid telah mencatat sebanyak 39.000 data penyelidikan epidemiologi,” ungkap Dewi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (30/5).

Adapun data penyelidikan tersebut berasal dari Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), pasien positif, kontak erat pelaku perjalanan yang didapatkan dari Puskesmas, Rumah Sakit (RS), dan Dinas Kesehatan.

Selain itu, data dari sistem tersebut juga diintegrasikan dengan RS Online di bawah koordinasi Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Kemudian untuk konfirmasi kasus, sistem BLC telah terintegrasi dengan sistem Orlitbangkes dan datanya juga sudah dibersihkan oleh sistem surveillance dari Dirjen P2P Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Ini Helm Pemindai Suhu Tubuh yang Dipakai TNI AD

Sistem BLC juga mencatat seluruh data logistik, mulai dari data gudang, logistik RS dan laboratorium, dan ketersediaan barang serta distribusinya.

"Data logistik, kami lihat bahwa datanya sudah masuk dari data gudang untuk melihat ketersediaan dan distribusi dari logistik rumah sakit dan laboratorium, mencakup alat kesehatan, APD, dan juga obat-obatan,” kata Dewi.

Selain itu, sistem BLC juga menghimpun integrasi data dari Aplikasi Peduli Lindungi, untuk melihat dan mencatat mobilitas penduduk yang didukung dengan model SDLC, yang akan diperuntukkan untuk mencatat pelaku perjalanan yang akan melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah yang lain.

Pada dasarnya, sistem BLC merupakan buah kolaborasi dan koordinasi yang sangat baik antarkomponen Gugus Tugas yang merupakan lintas kementerian, lintas lembaga, lintas sektor, sehingga dapat memudahkan untuk menganalisis hingga pengambilan kebijakan ke depannya.

"Ini adalah contoh yang sangat baik di mana koordinasi dan kolaborasi melahirkan sebuah sistem terintegrasi yang memudahkan kita untuk menjadi navigasi pengambilan keputusan ke depannya,” pungkas Dewi. (OL-14)

Baca Juga

MI/Lina Herlina

Unhas Bebaskan Uang Kuliah Bagi Mahasiswa Miskin

👤Lina Herlina 🕔Kamis 09 Juli 2020, 16:20 WIB
UNIVERSITAS Hasanuddin mengambil kebijakan membebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk mahasiswa tidak...
MI/Idep

Di Sukabumi, Mensos Harap BST Gerakkan Ekonomi Masyarakat

👤 Ihfa Firdausya 🕔Kamis 09 Juli 2020, 16:06 WIB
Usai penyaluran tahap III ini, kata Mensos, bantuan dari pemerintah disalurkan per bulan dengan nilai Rp300 ribu hingga Desember...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Tinjau Sukabumi, Mensos Harap BST Gerakkan Ekonomi Masyarakat

👤Ihfa Firdausya 🕔Kamis 09 Juli 2020, 15:55 WIB
Menteri Sosial Juliari P Batubara menyalurkan bantuan sosial tunia di dua lokasi di Kabupaten Sukabumi, Jawa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya