Sabtu 30 Mei 2020, 00:20 WIB

Mengapa Anda Merasa Lelah Walau Hanya di Rumah?

Kumara Anggita | Humaniora
Mengapa Anda Merasa Lelah Walau Hanya di Rumah?

Shutterstock.com

 

PANDEMI covid-19 membuat kita harus berdiam di rumah agar risiko terpapar virus berkurang. Pada awalnya, mungkin beberapa orang merasa senang dengan kebijakan ini, mengingat mereka tak perlu naik transportasi, macet-macetan, dan banyak berjalan.
 
Namun entah mengapa, lama-kelamaan rasa capek malah lebih muncul dalam masa-masa ini. Kenapa hal ini bisa terjadi?
 
Anda merasa lelah walau hanya tinggal di rumah karena gaya hidup Anda yang berubah drastis, akibat virus korona memberikan dampak besar pada kesehatan mental energi Anda. Gaya hidup baru ini membuat tubuh Anda mengalami stres.

Mengapa stres menyebabkan lelah?
Beberapa pemicu stres dapat membantu seseorang untuk fokus dan menyelesaikan masalah. Misalnya seperti ketika Anda harus membuat tenggat waktu untuk presentasi, stres ini dimaksudkan untuk sementara.

Namun yang kita alami akibat covid-19 ini adalah stres jangka panjang. Ditambah aliran berita yang terus-menerus membuat tubuh semakin aus.
 
"Orang-orang menghadapi tantangan yang benar-benar mengaktifkan sistem saraf simpatik. Jadi ini semacam respons 'pertarungan atau pelarian' klasik," kata Craig N. Sawchuk, seorang psikolog di Mayo Clinic.
 
“Anda mendapatkan pelepasan hormon untuk membantu kita tetap seperti adrenalin dan kortisol. Itu adalah hal bagus. Sangat adaptif bahwa tubuh kita dapat membalik saklar itu. Tapi itu juga tidak dimaksudkan untuk membakar secara konstan. Dan di situlah kita mengalami masalah fisik ini,” ungkapnya.
 
Menurut Sawchuk, ketika otak Anda terus-menerus berusaha beradaptasi dengan ketidakpastian, ketakutan, dan tantangan, seperti yang terjadi selama seluruh pandemi ini, tubuh Anda secara fisik menjadi lelah karena mengelola semua stres emosional.
 
"Dan di situlah Anda mulai melihat beberapa masalah energi mulai terjadi," kata Sawchuk.
 
"Kita mungkin benar-benar jadi beristirahat lebih banyak. Kadang-kadang tanpa sengaja, tapi itu bukan jenis istirahat yang restoratif,” tambahnya.
 
Pengeluaran energi tidak hanya lewat aktivitas fisik saja. Energi itu juga keluar dalam emosi, mengatur perasaan kami, berpikir, khawatir dan beradaptasi dengan tantangan baru.
 
“Kita memikirkan energi fisik, emosional, dan mental yang semuanya berasal dari pot yang sama, sehingga kita dapat memikirkan berbagai sistem dalam kehidupan kami yang terus-menerus 'menyala' dan pada gilirannya, terus-menerus mengeringkan dan melemahkan kita” kata Sawchuk. (Medcom/OL-15)

 

Baca Juga

BMKG

Rentetan Lindu Jadi Tanda Tanya, BMKG: Gempa Penuh Ketidakpastian

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 08 Juli 2020, 06:05 WIB
Apakah rentetan lindu yang terjadi 7 Juli 2020 sebagai pertanda datangnya gempa...
DOK: KEMENDIKBUD

Inspirasi Mereka Diharapkan Memantik Semangat Sesama

👤Gan/S1-25 🕔Rabu 08 Juli 2020, 05:57 WIB
Apa yang dilakukan Ibu An dan Pak Darta untuk menginspirasi bukan hanya komunitas sekitar sekolah mereka. Tetapi menginspirasi dirinya...
ANTARA/Puspa Perwitasari

Sagu dan Ikan Tingkatkan Imunitas Warga Papua Barat

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 08 Juli 2020, 05:52 WIB
Selain melakukan protokol kesehatan, mengonsumi makanan bergizi, seperti sagu dan ikan, bisa meningkatkan imunitas dalam menghadapi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya