Jumat 29 Mei 2020, 17:34 WIB

Pengamat: Skema Pemerintah Patahkan Anggapan Diskriminasi Pertani

mediaindonesia.com | Ekonomi
Pengamat: Skema Pemerintah Patahkan Anggapan Diskriminasi Pertani

DOK KEMENTAN
Mentan SYL sidak ketersediaan bawang merah.

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk menjalankan program jaring sosial bagi 2,7 juta petani dan 1 juta nelayan di seluruh Indonesia. Program tersebut di antaranya menyalurkan bansos untuk meringankan beban hidup mereka selama pandemi Covid-19.

Dalam rapat terbatas yang digelar di Istana Merdeka pada Kamis (28/5), Presiden mengatakan bahwa saat ini pemerintah telah menyiapkan empat skema besar yang bisa ditempuh para petani agar tetap berproduksi dan menjaga ketersediaan bahan pokok.

Keempat skema itu di antaranya, program jaring pengaman sosial untuk meringankan biaya konsumsi rumah tangga, program subsidi bunga kredit, pemberian stimulus sebagai modal kerja bagi para petani dan nelayan yang dapat disalurkan melalui perluasan program KUR, serta bantuan melalui instrumen nonfiskal dengan cara mengupayakan kelancaran rantai pasokan yang akan meningkatkan produktivitas para petani dan nelayan.

Baca Juga:  Mentan SYL Pastikan Stok Pangan Aman

Mengenai hal ini, Pengamat Pertanian dan Dekan Fakultas Pertanian UIR, Riau, Ujang Paman Ismail menilai langlah pemerintah dalam mengelola sektor pertanian di tengah pandemi ini sudah sangat tepat, terutama dalam menjawab pandangan sejumlah pihak terkait adanya diskriminasi bantuan.

"Langkah dan terobosan Presiden dalam menerapkan empat skema besar ini sudah sangat tepat dalam menjawab anggapan sinis sejumlah pihak terkait diskriminasi petani. Terus terang saya tidak melihat diskriminasi pada kebijakan pemerintah. Yang ada adalah petani sangat terbantu karena beban mereka selama ini bisa diatasi dengan BLT, KUR dan juga bantuan langsung tunai," ujar Ujang, Jumat (29/5/2020).

Menurut Ujang, skema pemerintah dalam membantu petani dan usaha pertanian sudah terbukti memiliki dampak besar pada ketersediaan bibit, pupuk, dan alat-alat produksi. Apalagi instrumen kebijakan ini bersifat nonfiskal dan mendorong kelancaran supply chain.

Baca Juga: Mentan SYL: Tenang, Stok 11 Bahan Pangan Aman

"Dengan begitu, baik petani maupun usaha tani akan berjalan sebagaimana mestinya, meski dalam situasi pandemi seperti sekarang ini," katanya.

Ujang mengatakan, dengan skema tersebut produksi pertanian tetap berjalan dan produksi pertanian dapat ditingkatkan. Bahkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mampu melesatkan capaian ekspor di tengah suasana pandemi dan hari raya lebaran.

"Jadi apanya yang terpuruk? Wong tanaman pangan dan produksi subsektor lainya juga tetap berjalan dengan baik. Bahkan ekspor kita tumbuh positif," katanya.

Sementara itu, Pengamat Pertanian yang juga Senator DPD RI 2014-2019 dari Sumatera Utara, Parlindungan Purba mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam mengandalkan produksi dalam negeri dan meningkatkan nilai ekspor. Menurut dia, kebijakan itu tak lepas dari tangan dingin Mentan Syahrul yang memiliki pengalaman dan track record kerja selama puluhan tahun.

Baca Juga: Antisipasi Kemarau, Kementan Dorong Pengembangan Pangan Lokal

"Peran Pak Syahrul dalam kebijakan ini sangat besar. Saya sangat yakin beliau yang mendorong pertanian kita menjadi lebih hebat, lebih maju, mandiri dan modern," katanya.

Terpisah, Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto memastikan bahwa persediaan sayur untuk kebutuhan masyarakat selama pandemi korona dalam posisi melimpah. Faktor ini, kata dia disebabkan karena petani terus melakukan produksi secara masif.

"Kalau ada pengamat yang cerita impor sayuran kita meningkat di tahun 2019, mungkin bisa dilihat lagi dari data BPS. Impor terbesar kita hanya terjadi pada bawang putih dan kentang industri" katanya.

Baca Juga: Penyuluh dan Petani Manfaatkan Wabah Korona, Genjot Pangan Lokal

Prohasto mengatakan, bawang terpaksa diimpor karena pasokan dalam negeri belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Terlebih baput hanya tumbuh optimal di daerah sub tropis seperti China. Meski demikian, dia memastikan bahwa produksi bawang nasional naik dari 49 ribu ton menjadi 88 ribu ton.

"Walaupun jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan nasional yang mencapai 580 ribu ton per tahun. Begitu juga dengan kentang industri, yang berbeda dengan jenis kentang sayur (granola). Jenis Granola kita malah sudah bisa ekspor. Jadi impor sayuran hanya pada komoditas sayur yang produksi kita masih rendah," katanya.

Sementata itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menegaskan bahwa kondisi neraca perdagangan pertanian menurut data BPS saat ini dalam kondisi positif. Walau begitu, impor dan ekspor adalah hal yang biasa karena dalam perdagangan internasional tiap negara memiliki keunggulan komparatif dan kondisi agroekologi iklim yang spesifik.

"Yang harus kita jaga adalah, neraca dagangnya menguntungkan bagi kita," katanya.

Baca Juga: Yuk, Coba Pangan Lokal Hasil Pekarangan untuk Lebaran

Untuk diketahui, perbandingan neraca perdagangan Indonesia dan Cina bisa dilihat dari nilai ekspor Indonesia tahun 2019 yang mencapai US$3,89 miliar dan impor senilai US$2,02 milliar. Ini artinya neraca Indonesia di tahun 2019 surplus US$1,87 miliar dari Tiongkok.  Sementara di periode Januari-Maret 2020, Indonesia sudah surplus US$164 juta dari Tiongkok untuk komoditas pertanian.

Adapun untuk volume tahun 2019 mencapai 5,762,987 ton atau naik sebesar 49,86% dibanding 2018. Khusus sektor hortikultura neracanya tumbuh sebesar 8,25%. Produksi aneka sayuran 2019 juga naik yang mencapai 13,4 juta ton atau naik 2,67% dari sebelumnya.

"Kami sepakat dengan inovasi dan upaya pemenuhan kebutuhan nasional, serta penting dilakukan simultan. Makanya saat ini pemerintah terus memacu sentra-sentra produksi baru berbasis keunggulan wilayah, agar produk pertanian mampu berkembang, menguntungkan petani dan memenuhi sendiri kebutuhan nasional, serta mengurangi ketergantungan impor," tutupnya. (RO/OL-10)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/pd

Dua KEK Baru di Batam Tinggal Tunggu PP

👤(Mir/E-2) 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:50 WIB
KETUA Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Airlangga Hartarto menyetujui pembentukan dua KEK baru, yakni Nongsa Digital Park (NDP)...
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.

Tren Harian Penerbangan Naik Perlahan

👤M IQBAL AL MACHMUDI 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:45 WIB
INDUSTRI penerbangan terus menggeliat seiring naiknya permintaan jasa angkut,baik penumpang maupun barang, di era kenormalan baru (new...
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/

Komisi XI akan Panggil OJK, Minna Padi dan Nasabah

👤Wan/E-3) 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:35 WIB
ANGGOTA Komisi XI DPR, Fathan Subchi, menegaskan pihaknya akan memanggil Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Minna Padi Aset Manajemen (MPAM),...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya