Rabu 02 Maret 2016, 08:40 WIB

Bawa Pompa hingga Ban Tubeless

Mal/J-2 | Megapolitan
Bawa Pompa hingga Ban Tubeless

MI/PANCA SYURKANI

 

PARA pengendara yang pernah menjadi korban ranjau paku kini hanya bisa melakukan antisipasi agar peristiwa serupa tidak membuat mereka kesulitan, sebab berharap terhindar dari ranjau paku tidaklah mungkin, karena setiap hari paku terus ditebar oleh pelaku. Seperti dilakukan Nandang Sutisna, 45, pengemudi ojek yang beroperasi sejak 1989 dan kerap menjadi korban ranjau paku. Agar peristiwa tidak membuatnya makin sengsara, ke mana pun mengemudi, ia kini selalu membawa serta ban dalam cadangan dan peralatan mengganti ban.

Ia tidak ingin lagi peristiwa pada 2008, saat ban sepeda motornya kempis karena terkena ranjau paku di Jalan Gajah Mada, membuatnya terpaksa mendorong sepeda motor sejauh 1 km untuk mencari tukang tambal ban. "Waktu itu malam hari, jarang ada tukang tambal ban yang buka. Saya harus dorong (sepeda motor) jauh, belum lagi biaya harus dikeluarkan," kenangnya. Dengan menyiapkan ban dalam, pompa kecil dan aneka kunci pas, kata Nandang, ia bisa mengganti ban sendiri dan biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi ranjau paku itu juga lebih irit.

Antisipasi juga dilakukan Abdul Rasyid, 42, pengemudi ojek lainnya. Sejak 2013, ia memilih mengganti jenis ban sepeda motornya dengan ban tubeless setelah tiga kali menjadi korban ranjau paku. "Kalau ban terkena paku, masih bisa digunakan dengan diisi angin lagi, setidaknya bisa sampai tujuan," ujar warga Jatinegara, Jakarta Timur, itu.

Pendiri Komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku di Jakarta, Abdul Rohim, mengatakan dari hasil pengamatannya di lapangan, penebar ranjau paku ialah tukang tambal ban. "Indikasinya ranjau paku disebar oleh tukang tambal ban yang mencari keuntungan," ujarnya saat dihubungi.

Ranjau paku biasanya ditebar mulai radius sekitar 1 km dari lokasi tukang tambal ban dengan ukuran paku tertentu. "Paku ukuran 1 cm ditebar dalam radius 1 km. Kemudian, di jarak 700 meter menjelang lokasi tambal ban, ditebar paku ukuran 3-4 cm, dan terkahir di jarak 200 meter dengan ukuran paku 5 cm. Biasanya (paku) ditebar pada malam dan pagi hari," jelas warga Cengkareng, Jakarta Barat, itu.

Rohim bersama 30 anggota Komunitas Saber mengaku setiap hari bisa mengumpulkan lebih ada 12 kg paku dari sejumlah jalan. Jakarta Pusat dan Barat merupakan wilayah yang paling rawan ranjau paku.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More