Rabu 02 Maret 2016, 08:33 WIB

Korban, kian Sengsara

MI/Akmal Fauzi | Megapolitan
Korban, kian Sengsara

Tim MI

 

DI musim hujan seperti sekarang, para pengendara semakin resah dengan masih banyaknya ranjau paku yang bertebaran di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota. Di masa seperti ini, pengemudi yang kendaraannya terkena ranjau akan lebih sengsara karena mereka harus mengganti ban atau mencari tukang tambal di tengah guyuran hujan. Meskipun para penebar ranjau paku sudah beberapa kali ditangkap dan operasi ranjau paku dilakukan setiap hari, paku berbagai ukuran masih bertebaran. Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di Jalan Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat, yang merupakan titik rawan ranjau paku, tepatnya di flyover Roxy, ditemukan sedikitnya tiga paku berukuran 2-3 sentimeter (cm). Dalam perjalanan menuju arah Daan Mogot, dua paku berukuran 5 cm ditemukan tidak jauh dari Kampus Universitas Trisakti.

Paku-paku tersebut rata-rata ditaruh sekitar 2 meter dari bibir jalan sehingga membuat beberapa pengendara terkena ranjau hingga ban kendaraan mereka bocor. Malam itu, ada dua kendaraan yang bannya terkena paku di kawasan tersebut. Rifki Irsyad, 28, pengendara yang sepeda motornya terkena ranjau, mengatakan itu kali kedua ia terkena ranjau di lokasi yang sama. "Sekitar dua minggu lalu ban sepeda motor saya bocor di sini juga. Ini (penebar ranjau paku) benar-benar harus ditindak tegas," keluhnya. Ia menduga pelaku sengaja menebar paku pada malam hari agar korban bisa 'diperas' saat memperbaiki ban ke tukang tambal di sekitar lokasi. Sebab, pada siang hari, jasa tambal ban sepeda motor hanya Rp8.000, sedangkan pada malam hari Rp15 ribu.

"Saat ban saya terkena paku beberapa waktu lalu, saya harus bayar biaya tambal Rp15 ribu. Padahal, pada siang hari tarifnya hanya Rp8.000. Karena sudah malam, terpaksa dibayar juga. Kalau enggak mau bayar segitu, harus mendorong sepeda motor ke tukang tambal yang lebih jauh. Kan capek," ucap Rifki. Apalagi, tambahnya, bila cuaca hujan deras, itu membuatnya makin sengsara. Laki-laki tersebut mencurigai para tukang tambal ban di sekitar yang menebar ranjau paku. Karena itu, ia meminta pihak kepolisian agar tidak hanya melakukan operasi ranjau paku, tetapi juga menindak tegas para pelakunya. "Kalau bisa, tukang tambal ban diintai saja. Tangkap tangan saja langsung," ujarnya dengan nada kesal.

Terkait dengan kecurigaan korban ranjau, Johan, 51, salah seorang tukang tambal ban yang memiliki bengkel di Jalan Daan Mogot, membantah sebagai penebar ranjau. Ia justru menuding tukang tambal dadakan yang kerap berpindah tempat sebagai penebarnya. "Di ruas jalan ini banyak (tukang tambal ban) yang dadakan. Mereka enggak seperti kami yang sudah punya bangunan (kios) sendiri. Lihat saja tuh tukang tambal ban yang nongkrong di bawah pohon," kata Johan sambil menunjuk salah satu tukang tambal ban nonpermanen.

Pelaku disuruh
Imam, 42, penjual jas hujan di kawasan Roxy, mengaku pernah melihat dua penebar ranjau paku yang beraksi pada malam hari. Dengan mengendarai sepeda motor secara perlahan, mereka menebar sejumlah paku di jalan. "Peristiwa sekitar pukul 21.00 WIB. Karena saya lihat mereka sedang menebar paku, saya langsung meneriakinya. Mereka langsung kabur. Jenis paku yang ditebar tiga macam, yaitu paku payung, paku ukuran kecil, dan ukuran 3 cm," ujarnya. Menurutnya, para penebar ranjau paku bukan tukang tambal ban, melainkan yang diupah tukang tambal ban. Sebab, para pelaku tidak ia kenal, sedangkan hampir semua tukang tambal ia kenal. (J-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More