Jumat 29 Mei 2020, 08:27 WIB

Harga Emas Naik Setelah Terkoreksi Tiga Hari Berurut-Turut

Antara | Ekonomi
Harga Emas Naik Setelah Terkoreksi Tiga Hari Berurut-Turut

ANTARA
HARGA emas berjangka naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) setelah selama tiga hari berturut-turut jatuh.

 

HARGA emas berjangka naik pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) setelah selama tiga hari berturut-turut jatuh. Harga emas terangkat oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, namun memangkas keuntungan di sesi awal menyusul kenaikan di Wall Street.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik US$1,5 atau 0,09%, menjadi ditutup pada US$1.728,30 per ounce.

Emas berjangka melemah US$1,4 atau 0,08% menjadi US$1.726,8 pada Rabu (27/5), setelah jatuh US$29,9 atau 1,72% menjadi US$1.705,60 pada Selasa (26/5), dan turun US$8,20 atau 0,47% menjadi US$1.726,40 pada Senin (25/5).

"Ekuitas AS telah mendapat dukungan sepanjang hari," kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago. 

Ia menambahkan banyak investor melikuidasi posisi emas mereka karena takut kehilangan perdagangan ekuitas.

Indeks utama Wall Street naik, didorong oleh kenaikan saham kesehatan dan teknologi.

Namun, harga emas didukung oleh tanda-tanda baru pukulan ekonomi dari virus korona, serta meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok dengan pemerintahan Trump mencari opsi untuk menghukum Tiongkok atas pengetatan cengkeramannya terhadap Hong Kong.

"Kami melihat ketegangan meningkat antara AS dan Tiongkok ... Kami melihat buih pasar masih dengan sekumpulan data ekonomi negatif dan itu jelas mendukung pasar emas," kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures.

Baca juga: Bank Terus Pacu Restrukturisasi Kredit

Emas juga mendapat dukungan karena laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (28/5/2020), menempatkan klaim pengangguran awal pada 2,12 juta pekan lalu, angka yang sesuai dengan harapan, tetapi masih dekat level rekor tertinggi.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS pada hari yang sama menunjukkan produk domestik bruto mengalami penurunan sebesar lima persen pada kuartal pertama 2020, lebih buruk dari yang diperkirakan.

Kekhawatiran tentang kemungkinan suku bunga negatif, sebuah ide yang dilayangkan oleh Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya dalam beberapa pekan terakhir juga masih bertahan. Suku bunga negatif berarti inflasi, prospek yang mendukung emas.

"Kami telah menguji US$1.700 dan bangkit kembali, jadi kami menantikan pasar terus memperkirakan lebih banyak stimulus dari Federal Reserve dan bank-bank sentral lainnya," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

Langkah-langkah stimulus besar cenderung mendukung emas, yang sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 21 sen atau 1,18%, menjadi ditutup pada US$17,967 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun US$10 atau 1,14%, menjadi menetap ada US$868,1 per ounce. (A-2)

Baca Juga

Ist/Kementan

Sapi Wagyu BIB Lembang Dukung Ketersediaan Daging Premium

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 11:25 WIB
Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen PKH menyediakan pejantan Wagyu...
Antara/R Rekolomo

Proses Recovery CPP Gundih yang Terbakar April Lalu On Track

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 11:05 WIB
Secara kumulatif, untuk proggres pengerjaan per awal Juli 2020 sudah mencapai sekitar 44% dengan target selesai bulan November...
Ist/BJB

BJB DIGI, Solusi Digital Setoran Segala Jenis Pajak

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 10:48 WIB
Rumah aplikasi BJB DIGI ini menyediakan fitur pembayaran pajak, termasuk Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Pajak Bumi dan Bangunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya