Kamis 28 Mei 2020, 14:30 WIB

Tak Terdata Bansos, Nenek dan Anaknya Mencari Makan di Hutan

Ferdinandus Rabu | Humaniora
Tak Terdata Bansos, Nenek dan Anaknya Mencari Makan di Hutan

MI/Ferdinandus Rabu
Nenen Lusia Letek Koten, 80, bersama anaknya yang difabel tidak pernah mendapat bantuan pemerintah.

 

DI tengah gencarnya pemerintah menggulirkan berbagai jenis bantuan sosial setiap tahun. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, ternyata segala jenis bantuan tersebut belum menyentuh merata oleh masyarakat yang berhak menerima.

Adalah Lusia Letek Koten, seorang nenek berumur 80 tahun asal Dusun Welo, Desa Painapang, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur. Dia selama bertahun-tahun tidak pernah tersentuh bantuan sosial yang ada. Ironis memang, karena di saat banyak sekali bantuan yang bergulir, namun nenek yang juga janda yang tinggal bersama anaknya yang cacat ini tidak pernah mendapatkan salah satu bantuan yang digulirkan pemerintah. Baik pemerintah daerah, apalagi pemerintah pusat.

Setiap harinya, nenek Lusia bersama anaknya yang cacat tinggal di sebuh gubuk reot berlantai tanah dengan kodisi yang jauh dari layak. Nenek Lusia setiap harinya membuat sapu lidi untuk dijual di rumah-rumah sekitar, dengan harga sapu lidi Rp2.000 per-ikat nya.

Sembari menangis, nenek Lusia bercerita kepada Media Indonesia yang menemuinya, Kamis (28/5). Dia mengaku keadaannya sangat sulit dan tidak bisa menceritakan kepada semua orang. Karena ditanya wartawan Media Indonesia, dia baru membuka suaranya.

Selama ini, nenek Lusia bertahan hidup seadanya. Biasanya makan satu kali sehari, kadang-kadang dua kali makan dalam sehari. Dia selalu mencari makan makanan di hutan, seperti ubi dan petai hutan untuk dimakan demi mempertahankan hidup bersama anaknya yang cacat.

"Kami tidak pernah terima bantuan pemerintah. Hanya bisa berjualan sapu lidi. Kadang tidak laku samasekali. Biasaya hanya makan Balengâ (Petai Hutan dalam bahasa Indonesia)," ujar dia.

Saat ditanya kapan makan nasi, nenek Lusia, dengan menahan tangis mengaku sudah lama sekali tidak makan nasi. Beras baginya merupakan barang mewah. "Lama kami tidak memasak beras karena memang tidak punya. Saya bersama anak saya yang cacat ini kadang tanam jagung seadanya untuk makan. Kadang juga kami tidur tidak makan. Mau cari bantuan kami bingung," ungkap Nenek Lusia sambil terisak dan menyeka air matanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Sosial Flotim, Anselmus Yohanes Maryanto saat dikonfimasi Kamis (28/5), mengaku belum mendapatkan informasi tersebut. Dia berjanji akan melakukan pengecekan untuk didata, sebab sampai saat ini belum ada laporan dari desa setempat.

"Saya belum dapat informasi itu. Akan kami cek ke lokasi. Seharusnya desa setempat mendatanya. Tapi nanti kami akan ke sana untuk mengeceknya langsung agar bisa segera di data," janji Anselmus Maryanto. (OL-13)

Baca Juga

Sumber: Tim Riset MI/NRC/Foto: Instagram

Lentera Kisik Plawangan, Cahaya di Kampung Nelayan

👤MI 🕔Senin 13 Juli 2020, 02:10 WIB
LENTERA Kisik Plawangan merupakan sebuah perpustakaan kecil yang berada di tepi pantai Desa Plawangan, Kecamatan...
ANTARA

Pemeriksaan Rapid Test untuk Syarat Aktivitas Rugikan Konsumen

👤Atalya Puspa 🕔Senin 13 Juli 2020, 01:50 WIB
Kualitas dan standardisasi alat rapid test masih belum ada. Sehingga jaminan kualitas alat yang beredar kini juga masih...
MI/Widjajadi

Tambah Kewaspadaan Hadapi Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Senin 13 Juli 2020, 01:45 WIB
PERINGATAN dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa risiko penularan virus korona baru (covid-19) yang bisa melalui...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya