Rabu 27 Mei 2020, 15:48 WIB

Sampah dan Limbah Medis Covid-19 Perlu Penanganan Khusus

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Sampah dan Limbah Medis Covid-19 Perlu Penanganan Khusus

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Pekerja memasang tempat sampah khusus untuk membuang masker bekas di pinggir jalan arteri di Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (12/5/2020).

 

WABAH corona virusdisease 19 (covid-19) atau virus korona meningkatkan penggunaan alat-alat kesehatan dan bahan kimia. Hal itu berbanding lurus dengan munculnya sampah dan limbah medis yang bisa membahayakan lingkungan.

Dosen dan Peneliti Lingkungan FMIPA UGM Suherman menyampaikan pentingnya penanganan sampah dan limbah tersebut agar tidak membahayakan lingkungan. Sampah dan limbah tersebut tak hanya ada di fasilitas kesehatan tetapi juga lingkungan masyarakat. Beberapa sampah terkait penanggulangan covid-19 itu pun perlu penanganan khusus seperti masker dan disinfektan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, limbah masker dikategorikan sebagai limbah medis yang membutuhkan penanganan khusus. Keberadaan masker bekas di lingkungan masyarakat memunculkan risiko kesehatan.

"Ada bakteri dan virus yang terbawa di sampah masker tersebut," ujar Suherman melalui siaran pers, Rabu (27/5).

Saat masker bekas pakai terkena hujan, bakteri dan virus yang ada akan masuk ke badan air dan bisa bercampur dengan sumber air minum konsumsi masyarakat.

Masker dengan bahan utama fiber ataupun kertas harus dibuang setelah digunakan. Pengolahan sampah masker harus dilakukan dengan metode yang benar, seperti insinerator atau pirolisis (perlakukan termal tanpa oksigen).

Dia pun meminta masyarakat agar waspada dengan masker daur ulang karena berbahaya bagi kesehatan. Ia pun menganjurkan, agar pengguna merusak terlebih dahulu masker yang sudah dipakai dengan cara digunting.

Selain masker, zat kimia dalam disinfektan juga perlu penanganan khusus. Larutan disinfektan umumnya terdiri dari belzalkomium klorida, hipoklorit, fenol ataupun hidrogen peroksida dan dapat dengan mudah diperoleh di pasaran dalam bentuk cairan pembersih lantai rumah, kamar mandi dan lainnya.

Baca juga: LIPI Merilis Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik

Bahan kimia disinfektan tidak hanya membunuh bakteri dan virus yang berbahaya bagi manusia, tetapi juga mikroorganisme lain yang berperan penting pada siklus nutrien di tanah. Sehingga bisa berdampak pada kesuburan tanah dan tanaman.

"Pemakaian disinfektan yang berlebihan berpotensi menjadi problem lingkungan karena akan tersapu oleh air hujan yang datang," ungkapnya.

Sementara hand sanitizer dengan bahan utama ethyl-alcohol, relatif aman terhadap lingkungan. Akohol memiliki sifat volatile sehingga mudah menguap ke udara menjadi fasa gas.

Suherman berpesan, masyarakat perlu menjaga rasionalitas di tengah pandemi. Masyarakat diharapkan bisa memilih dan memilah informasi. Misalnya, masyarakat bisa mendonasikan sebagian harta untuk pemenuhan kelengkapan APD tenaga medis. Hal itu disebut Suherman lebih penting ketimbang memborong disinfektan yang disemprotkan secara membabi-buta dengan konsentrasi berlebih.

Di saat bersamaan, pemerintah pusat dan daerah juga harus menjaga kewaspadaan meningkatnya volume sampah dan limbah rumah tangga. Sampah kota mungkin akan berkurang, namun sampah dan limbah rumah tangga akan melonjak akibat penduduk lebih banyak beraktivitas di rumah.(OL-5)

Baca Juga

MI/M Irfan

PT SER Laporkan Penghambat Investasi ke Polda Jawa Timur

👤Henri Siagian 🕔Jumat 03 Juli 2020, 18:34 WIB
Dia mengakui, pihak SER sudah setahun terakhir telah mendesak Bupati Bojonegoro untuk segera merealisasikan pembagian dividen dan...
MI/Yohanes Manasye

Didemo Mahasiswa, Bupati Lanjutkan Izin Pabrik Semen

👤Yohanes Manasye 🕔Jumat 03 Juli 2020, 17:06 WIB
Ketua PMKRI Ruteng Hendrikus Mandela meminta Pemkab Manggarai Timur untuk mengembangkan pariwisata alam dan...
Dok Pribadi

Bupati Manggarai Timur Akui Pabrik tidak Pekerjakan Seluruh Warga

👤Yohanes Manasye 🕔Jumat 03 Juli 2020, 17:03 WIB
Agas mengatakan pihaknya akan meminta pihak perusahan agar persentase pekerja pabrik semen tersebut 70-30. Namun ia tak menjelaskan apakah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya