Rabu 27 Mei 2020, 14:55 WIB

Presiden Jokowi Perlu Marah dan Sedih

Makmur Sianipar, Konsultan Bisnis dan Manajemen, tinggal di Bogor | Opini
Presiden Jokowi Perlu Marah dan Sedih

Dok.Pribadi
Makmur Sianipar, Konsultan Bisnis dan Manajemen

JUMLAH orang yang positif tertular virus korona setiap hari terus bertambah. Kondisi ini tak urung membuat jajaran medis bekerja keras.

Dalam kondisi ini sangat tidak beradab bila masih ada yang menganggap remeh pandemi covid-19. Sudah saatnya Presiden Joko Widodo unjuk kemarahan karena masih banyak anggota masyarakat yang ndableg (keras kepala). Mereka seolah tidak peduli penyebaran virus bisa semakin luas karena syahwat mudik, abai protokol kesehatan, hingga berbelanja baju lebaran.

Sampai Selasa (26/5), MetroTV memberitakan kasus positif covid-19 di Indonesia mencapai 23.165 orang. Sisi baiknya yang membangun optimisme kita, dalam berita yang sama  ditunjukkan kecenderungan positif dalam  laju kesembuhan mencapai 5.877 orang, makin jauh melampaui laju penderita meninggal dunia yang mencapai 1.418 orang. Untuk global yang mencakup 216 negara, terkonfirmasi positif mencapai 5.406.282 orang dan meninggal 343.562 orang.
  
Dalam situasi krisis seperti ini merupakan peluang bagi pemimpin menunjukkan kemampuan keluar dari krisis. Sikap yang tepat dan respons cepat akan meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa pemimpinnya mampu menyelesaiakan krisis.  

Ekspresi pemimpin
Kepatuhan masyarakat terhadap perintah pimpinannya, apalagi dalam situasi krisis seperti pandemi covid-19 ini, sangat dipengaruhi ekspresi pemimpin merespons krisis. Hasil penelitian Juan M Madera dan D Brent Smith yang diterbikan dalam The Leadership Quarterly (2009) berjudul The Effects of Leader Negative Emotions on Evaluations of Leadership in a Crisis Situation: The Role of Anger and Sadness menunjukkan respons pengikut  terhadap pemimpin yang menunjukkan sikap positif, kemarahan, kesedihan, serta kemarahan dan kesedihan secara bersamaan, akan direspons secara berbeda oleh para pengikut.  

Pada situasi tertentu, ekspresi pemimpin yang positif akan memberikan respons yang positif dari masyarakat. Selanjunya masyarakat akan memberikan dukungan kepada kebijakan pemimpinnya.
  
Cara Presiden Amerika Serikat John F Kennedy merupakan contoh klasik bagaimana ekspresi emosi positif yang disampaikan dalam pidato-pidatonya di radio, ketika menyampaikan visinya untuk mengirimkan manusia ke bulan. Pidatonya itu mendapat sambutan positif dari masyarakat AS. 

Tetapi tak selamanya emosi positif akan memberikan hasil positif. Pada situasi tertentu, terutama jika krisis yang dihadapi bersumber dari internal, penelitian Juan M Madera dan D Brent Smith (2009) tersebut justru menunjukkan bahwa  ekspresi emosi yang negatif, berupa kemarahan, kesedihan, atau kombinasi dari ekspresi marah dan sedih, akan menghasilkan respons  yang positif dari pengikut.  

Penelitian tersebut menunjukkan juga bahwa kombinasi ekspresi emosi negatif berupa amarah dan kesedihan merupakan strategi yang sangat efektif, karena menghasilkan simpati dan partisipasi yang lebih besar dari pengikut. 

Ekspresi emosi negatif berupa kemarahan dan kesedihan  yang ditunjukkan oleh pemimpin, akan memberikan hasil yang lebih positif. Itu jika pemimpin pada saat yang bersamaan mengambil tanggung jawab penyelesaian krisis itu sebagai tanggung jawabnya. Pengambilan tanggung jawab ini akan menambah simpati pengikut karena pengikut akan menilai bahwa pemimpinnya adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.  

Kita sangat ingin agar pandemi Covid-19 ini dapat segera berlalu. Kita percaya bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi telah melakukan upaya terbaik agar kita bisa segera melalui krisis pandemi ini.  

Tetapi di sisi lain ada perlunya juga Presiden menunjukkan emosi negatif dalam bentuk kemarahan dan sekaligus kesedihan atas ketidakpatuhan masyarakat untuk tetap dirumah, mengenakan masker dan menjaga jarak jika harus terpaksa keluar rumah.  Pemimpin harus menunjukkan kapan enough is enough.

Penulis merupakan peserta Workshop Online Teknik Menulis Opini Sekolah Jurnalisme Media Indonesia.

Baca Juga

MI/PIUS ERLANGGA

Orangtua Cerdas dan Pendidikan New Normal

👤IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem 🕔Sabtu 04 Juli 2020, 06:05 WIB
MENJADI orangtua pada masa pandemi ini tentu saja tak mudah. Selain harusmemenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, beban tambahan yang mungkin...
Dok.MI/Tiyok

Memastikan Efektivitas Program

👤Bagong Suyanto Guru Besar dan Dosen Sosiologi Pembangunan FISIP Universitas Airlangga 🕔Sabtu 04 Juli 2020, 06:00 WIB
TEKAD pemerintah untuk mereduksi agar dampak covid-19 tidak makin meluasdan aktivitas perekonomian bisa segera bangkit kembali ternyata...
Dok.  Unika Soegijapranata, Semarang

Disrupsi Global 4.0

👤Benny D Setianto Buruh Pengajar dan Peneliti di Unika Soegijapranata, Semarang 🕔Jumat 03 Juli 2020, 06:00 WIB
KENORMALAN baru menyeruak sebagai wacana dalam kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia akibat covid...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya