Rabu 27 Mei 2020, 07:50 WIB

Diversifikasi Pangan di Idul Fitri

Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian | Opini
Diversifikasi Pangan di Idul Fitri

Dok. Pribadi

DALAM perayaan Idul Fitri tahun ini, kita bersyukur meskipun di tengah pandemi covid-19, tidak ada masalah pangan pokok di Tanah Air. Apalagi, masyarakat kita sangat bijaksana dan memiliki pengetahuan yang tinggi dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kebutuhan pangan.

Keberagaman hidangan menu Idul Fitri yang kita nikmati hari-hari ini sesungguhnya menunjukkan bahwa diversifikasi pangan dalam pola konsumsi masyarakat kita masih memiliki potensi.

Semangat diversifikasi pangan dalam hidangan menu Idul Fitri dapat menjadi momentum diversifikasi tersebut tidak saat Idul Fitri saja, tapi berlanjut ke dalam pola makan sehari-hari.

Nutrisi pangan tradisonal kita ternyata tidak hanya bersumber dari beras, tapi juga olahan sagu, singkong, jagung, ubi, kentang, dan pisang. Begitu pun sumber protein, tidak melulu harus berupa daging sapi, tapi juga bisa mengolah ayam, ikan, kacang, atau bahkan daging kelinci.

Padahal, 40 tahun lalu masyarakat Indonesia masih terbiasa merayakan Idul Fitri dengan makanan nonberas, dari jagung, ubi jalar, hingga sagu. Sejalan dengan komposisi struktur menu bangsa kita pada 60-an yang mana proporsi beras hanya 53,5%. Sisanya dipenuhi dari ubi kayu (22,6%), jagung (18,9%), dan kentang (4,99%). Kondisi tersebut berubah saat ini yang mana proporsi beras dominan mencapai sekitar 80%, sisanya ubi kayu (10%), jagung (8%), dan lainnya (2%).

Bahan pangan yang masih sering menjadi sumber kuliner Idul Fitri di Nusantara ialah sagu dan jagung. Pemanfaatan bahan baku sagu dan jagung masih menjadi pilihan utama banyak masyarakat Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Jagung dan ubi juga sering diolah dan disajikan menjadi berbagai macam hidangan utama pokok dan bentuk dessert. Selain enak, jagung juga memiliki beragam manfaat yang baik untuk tubuh. Misalnya, kandungan serat dalam jagung bisa berfungsi mencegah konstipasi.

Kawasan timur Indonesia menjadi surga perayaan aneka pangan lokal berbasis jagung dan Ubi. Di saat-saat Lebaran ini, aneka pangan olahan berbasis produk pertanian lokal mudah didapatkan dan disajikan dalam perayaan.

Pada momen Idul Fitri ini, masyarakat dapat mempromosikan penganan lokalnya ke level nasional dan kita mencoba penga nan dari daerah lain. Sangat indah silaturahim antardaerah dan warga Nusantara dihiasi dengan berbagi kekhasan tiap-tiap pangan lokal yang beraneka jenisnya.


Pangan lokal sumber diversifikasi

Sejak masa awal kemerdekaan, Presiden RI Soekarno sudah mempermasalahkan konsumsi pangan nasional yang didominasi beras. Ketika mulai menjabat sebagai presiden, ia pun begitu gencar mewanti-wanti soal keamanan, ketahanan, dan keragaman pangan.

Sepanjang 1950-an, para ahli pangan serta ahli gizi mencoba membuat rumusan ideal dalam mengurus secara integral perbaikan pangan, menu makan, hingga kesehatan sebagai bagian dari identitas nasional. Pada saat itu juga dicanangkan konsep populer bernama ‘empat sehat lima sempurna’.

Saat ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berkali-kali mengatakan permasalahan pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih jauh dari kata ideal. Saat ini konsumsi karbohidrat didominasi padi-padian. Sementara itu, potensi sumber daya pangan Indonesia cukup berlimpah.

Terdapat sekitar 100 jenis pangan sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250 jenis sayuran, dan 450 jenis buah-buahan.

Mentan meyakini jika bisa dikelola dengan baik, keanekaragaman pangan lokal yang kita miliki tidak hanya cukup memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, tapi juga pasar dunia.

Jika konsumsi pangan masyarakat lebih beragam, dampak positif lainnya ialah petani akan menganekaragamkan usaha taninya, pengolahan pangan lokal di perdesaan akan tumbuh berkembang, dan bisnis kuliner berbahan baku pangan lokal juga semakin banyak dan digemari.

Peran mereka penting, terutama untuk membangun industri pangan berbahan baku lokal, seperti singkong, talas, ganyong, sagu, dan lainnya untuk diolah menjadi bahan pangan yang siap dimasak atau disajikan dengan cita rasa yang enak, penampilan menarik, kemudahan akses beli, dan harga ekonomis.

Secara pasti, diversifikasi pangan dengan pilar pangan lokal perlu didukung dengan promosi dan gerakan ketahanan pangan nasional. Melalui perayaan Idul Fitri ini, kuliner Nusantara kita lestarikan dan ketergantungan akan satu jenis bahan pangan apalagi pangan impor kita kurangi.

Baca Juga

Dok.pribadi

Ringankan Beban Ganda Indonesia Melalui Harm Reduction

👤Sho’im Hidayat, Ahli Toksikologi di Universitas Airlangga 🕔Minggu 12 Juli 2020, 18:15 WIB
Paradigma baru ini muncul karena adanya pergeseran pola penyakit, atau transisi...
MI/MOHAMAD IRFAN

Kedaulatan Data Pribadi

👤Willy Aditya Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:15 WIB
Karena bernilai itulah data pribadi kerap...
MI/AGUS UTANTORO

Konstitusionalitas Hasil Pilpres 2019

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:10 WIB
Semestinya hak uji materi MA dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kekacauan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya