Rabu 27 Mei 2020, 07:40 WIB

Sinergisitas Perempuan Politik

Netty Prasetiyani Heryawan Anggota Komisi IX DPR RI Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia | Opini
Sinergisitas Perempuan Politik

Dok. Pribadi

KEHADIRAN perempuan dalam politik merupakan soal keterwakilan entitas perempuan dalam forum pengambilan kebijakan publik yang akan memengaruhi kehidupan semua orang. Kita mengetahui bahwa dua per tiga dari 757 juta orang dewasa di seluruh dunia yang tidak dapat membaca atau menulis ialah perempuan.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia usia kerja (15 tahun ke atas) merupakan sebesar 169,0 juta jiwa, terdiri atas 84,3 juta laki-laki dan 84,7 juta perempuan. Jumlah perempuan lebih besar 0,4% dari jumlah laki-laki. Bagaimana mungkin perempuan tidak terlibat dalam politik?

Selain itu, kita juga memahami bahwa ruang politik merupakan ruang kompromi dalam melakukan pengaturan banyak hal terhadap penduduk. Mulai soal ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hingga menyangkut persoalan pribadi yang secara signifi kan memengaruhi ruang publik.

Tentu ironis jika dalam perkara sepenting ini, perempuan absen urun pendapat. Oleh karena itu, mendorong keterlibatan perempuan di panggung politik, baik kuantitas dan kualitas, ialah perjuangan yang harus dilakukan terus-menerus, terencana, dan bersinergi dengan banyak elemen terkait.


Membangun sinergisitas

Sinergisitas berasal dari kata sinergi, yang berarti kegiatan, hubungan, kerja sama atau operasi gabungan. Sinergisitas dapat dimaknai sebagai kerja sama unsur atau bagian atau fungsi yang menghasilkan suatu tujuan lebih baik dan lebih besar.

Sinergisitas menjadi kata kunci dalam dua hal penting, yaitu mendorong peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen dan membuat kehadirannya membawa manfaat besar bagi masyarakat, terutama entitas perempuan, anak, dan keluarga.

Menurut Covey, sinergisitas akan mudah terjadi bila komponenkomponen yang ada mampu berpikir sinergi, terjadi kesamaan pandang, dan saling menghargai.

Gerakan perempuan politik yang salah satunya dimotori Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) perlu memperkukuh sinergisitas dengan membangun persepsi yang sama. Langkah dan tujuan perjuangan yang satu, dan saling menghargai antarelemen yang ada.

Sebagaimana diketahui, KPPI ialah forum perempuan multipartai yang berangkat dari platform dan latar belakang berbeda. *Diperlukan bahasa yang sama, simbol yang satu, dan langkah yang seirama agar perjuangan perempuan poltik mencapai tujuannya.

Ketidakmampuan menyatukan ide, gagasan, dan tujuan organisasi akan membuat sinergisitas internal ambyar sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Jika ide dan gagasan sudah menemui kata sepakat, yang kemudian penting diharmonisasikan ialah soal rasa dan soal hati. Covey menyebutkan dalam padanan kata saling menghargai. Dapatkah perempuan politik memiliki kebesaran jiwa, keluasan hati, dan kelapangan dada untuk saling menghargai sesama?

Tentu kita menolak jika disebutkan soal perasaan ialah persoalan perempuan saja. Namun, dalam realitasnya kita tak bisa menolak bahwa masih ada perempuan politik yang terjebak dalam masalah hati dan rasa. Karena itu, lupa untuk saling menghargai saat terjadi perbedaan pendapat. Oleh karena itu, membangun sinergisitas hati dan rasa merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.

Selanjutnya, bentuk upaya apa yang dapat dilakukan perempuan politik dalam membangun sinergisitas? Pertama, sinergisitas perempuan politik intra dan ekstraparlemen, baik dalam melakukan advokasi regulasi yang berpihak pada keterwakilan perempuan maupun dalam advokasi program yang langsung menyentuh kepentingan rakyat.

Perempuan parlemen diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan afi rmasi melalui pembahasan rancangan undang-undang pemilu, rancangan undang-undang partai politik, dan rancangan undang-undang lain yang dapat berimbas pada keterwakilan perempuan. Kegiatan mendengar, menampung, dan menyalurkan aspirasi gerakan perempuan ekstraparlemen harus menjadi agenda yang diprioritaskan para perempuan parlemen.

Kedua, sinergisitas perempuan politik dengan pemerintah sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan negara. Perempuan politik perlu bersinergi dengan kementerian dan lembaga pemerintah. *Utamanya, yang menangani urusan perempuan, pemilu, politik, dan pembangunan manusia, seperti KPPPA, Kemendagri, Kemenko PMK, Bappenas, KPU, dan Bawaslu.

Sinergisitas yang baik dengan kementerian dan lembaga tersebut akan membuat langkah perempuan politik dalam mencapai keterwakilan perempuan mendapatkan dukungan. Samakan target perolehan dalam setiap tahap (pemilu), satukan persepsi dan langkah perjuangan, serta rumuskan road map pencapaian tersebut secara bersama.

Ketiga, sinergisitas perempuan politik dengan media sebagai salah satu pilar demokrasi. Media memiliki fungsi memberikan informasi, melakukan edukasi, dan kontrol sosial. Dalam era ini, kecepatan dan akurasi informasi menjadi hal yang sangat penting dalam mencapai tujuan. Ketidaktahuan atau ketertinggalan informasi merupakan kecelakaan fatal.

Perempuan politik perlu membangun sinergi dengan media untuk menyebarluaskan gagasan, ide, dan pikirannya tentang apa yang diperjuangkan. Gunakan media untuk membuat-–jika mungkin--setiap orang tahu dan memahami apa yang telah dilakukan perempuan politik, untuk apa, dan apa manfaatnya buat masyarakat. Gagal memberi tahu artinya gagal memperoleh dukungan. Bukankah politik merupakan soal persepsi yang ada di benak orang, yang salah satunya dibangun melalui informasi dari media?

Keempat, sinergisitas dengan gerakan akar rumput. Pada akhirnya, kemenangan politik ialah soal mendapatkan dukungan suara dari rakyat. Kita boleh memiliki narasi dan gagasan yang brilian, kemampuan retorika yang piawai, ataupun klaim sinergisitas yang kuat dengan banyak kelompok. Namun, takdir kemenangan politik ada pada berapa suara yang memilih Anda saat pemilu.


Kepercayaan dan keyakinan

Suara rakyat ada di lapis akar rumput, di desa, di tingkat RT/RW, dan di tingkat TPS. Membangun jejaring di akar rumput ialah hal yang harus dilakukan perempuan politik untuk menggapai kemenangan.

Kita dapat melakukan ini dengan mudah karena mereka ada dan nyata. Namun, perhatikan, mereka akan memilih berjejaring dengan kita saat kita datang dengan memberi manfaat. Ini merupakan soal membangun basis sosial yang mana kepercayaan dan keyakinan menjadi taruhan.

Jika mereka percaya dan yakin pada kita, mereka akan memilih. Jika tidak, mereka bisa menggunakan prinsip transaksional dalam berhubungan dengan kita. Ini soal membangun hubungan sosial yang panjang dan lama, tidak bisa hanya tiba di masa kampanye baru kita datang menyapa mereka.

Baca Juga

Dok.pribadi

Ringankan Beban Ganda Indonesia Melalui Harm Reduction

👤Sho’im Hidayat, Ahli Toksikologi di Universitas Airlangga 🕔Minggu 12 Juli 2020, 18:15 WIB
Paradigma baru ini muncul karena adanya pergeseran pola penyakit, atau transisi...
MI/MOHAMAD IRFAN

Kedaulatan Data Pribadi

👤Willy Aditya Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:15 WIB
Karena bernilai itulah data pribadi kerap...
MI/AGUS UTANTORO

Konstitusionalitas Hasil Pilpres 2019

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 04:10 WIB
Semestinya hak uji materi MA dijalankan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kekacauan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya