Senin 25 Mei 2020, 09:45 WIB

Lebaran, KLHK Tetap Lakukan Rekayasa Cuaca di Lahan Gambut Riau

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Lebaran, KLHK Tetap Lakukan Rekayasa Cuaca di Lahan Gambut Riau

Mi/Tri Subarkah
Kru pesawat CN 295 melakukan penyemaian garam ke awan untuk membuat hujan buatan.

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU, dan mitra kerja, tetap melakukan rekayasa hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Provinsi Riau, pada Raya Idulfitri, Minggu (24/5).

"Tim tetap bekerja di hari raya dengan melakukan satu sorti penerbangan. Adapun target penyemaian di Kabupaten Bengkalis, Siak, dan Kepulauan Meranti, menghabiskan 800 kg garam NaCl," kata Direktur Pengendalian Karhutla KLHK Basar Manullang dalam keterangan tertulis, Senin (25/5).

Basar mengatakan rekayasa hujan tetap dilakukan karena dari rekomendasi BMKG dan BPPT masih terdapat potensi awan hujan di atas wilayah langit Riau.

Baca juga: Saat halal Bi Halal, Dubes Inggris Apresiasi Menteri LHK RI

Jika pelaksanaan rekayasa hujan ditunda, jadwal pelaksanaan yang hanya 15 hari kerja, bisa bergeser lebih lama. Sementara untuk wilayah kerja lainnya sudah menunggu, yakni di Sumatra Selatan.

"Tim tetap bekerja demi Merah Putih. Sebagaimana arahan Ibu Menteri pada kami, rekayasa hujan ini sangat penting artinya guna membasahi gambut, mengisi kanal dan embung, karena sebentar lagi kita akan memasuki musim kering. Mudah-mudahan dengan upaya ini kita bisa mencegah kebakaran hutan dan lahan berskala besar," sebut Basar.

Sejak dimulainya operasi TMC pada 13 Mei lalu, hingga 24 Mei, telah dilakukan 10 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl 8 ton di wilayah Provinsi Riau.

TMC berhasil menghasilkan hujan di wilayah Kota Pekanbaru, Siak, Kuala Kampar, Sei Pakning, Kandis, dan Sedinginan.

"Sejak dimulainya operasi rekayasa hujan melalui TMC pada 14 Mei, hingga 24 Mei tercatat total volume air hujan secara kumulatif diperkirakan mencapai 33,1 juta meter kubik," ungkap Basar.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim panas diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus.

Rekayasa hujan melalui TMC dilakukan KLHK karena melihat mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Provinsi Riau, telah menunjukkan pada level waspada.

"Kita syukuri rekayasa hujan yang dilakukan beberapa hari ini telah menambah tinggi muka air tanah gambut di Riau untuk mencegah terjadinya karhutla. Kalaupun masih terjadi, mudah-mudahan pasokan air ini cukup untuk mengisi embung dan kanal guna membantu tim darat melakukan pemadaman. Kita sangat berharap jangan sampai ada karhutla di situasi masyarakat sedang mengalami bencana pandemi korona," lanjut Basar.

KLHK memprioritaskan rekayasa hujan pada berbagai lokasi di Provinsi-provinsi yang sangat rawan karhutla seperti Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan untuk wilayah Sumatra.

Rekayasa hujan dilakukan dengan pesawat Casa A-2107 milik TNI AU yang membawa garam dan menyemainya di sekitar awan hujan dengan ketinggian sekitar 10.000-12.000 feet.

Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan ucapan terima kasih pada seluruh tim lapangan yang masih tetap bekerja di Hari Raya Idulfitri.

Ia tidak lupa mendoakan semoga ikhtiar pencegahan ini mendapat hasil terbaik, mengingat puncak musim kering diprediksi BMKG akan terjadi mulai Juni hingga Agustus mendatang.

"Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih pada dedikasi tim yang luar biasa. Tetap jaga keselamatan. Saya terus mengikuti laporan setiap hari dari lapangan, mendoakan semoga kerja terbaik bagi Bangsa ini membawa manfaat bagi masyarakat, terutama di daerah rawan karhutla," kata Menteri Siti.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya akan meminta kalangan dunia usaha melakukan transfer teknologi pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) gambut pada kelompok masyarakat.

Banyak lahan HTI, HGU, bahkan lahan masyarakat berada Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang harus dijaga. Pascakejadian 2015, setiap konsesi yang berada di KHG, diwajibkan memiliki Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT).

Salah satunya berfungsi memastikan kebasahan gambut berada pada batas aman. Ada lebih dari 10.690 TP-TMAT di 280 perusahaan yang memiliki tanggungjawab menjaga dan memulihkan ekosistem gambut.

Laporannya selalu disampaikan ke KLHK. Pada kejadian 2019, kawasan yang diwajibkan memiliki titik pemantauan TMAT, bisa diintervensi dengan melakukan pembasahan dan tidak terjadi kebakaran.

"Saya sudah minta segera ada transfer teknologi dari dunia usaha ke masyarakat, agar gambut masyarakat juga bisa terpantau dan dilakukan upaya pembasahan dini. Transfer teknologi ini sangat penting artinya untuk upaya mencegah karhutla sejak dini dengan membasahi gambut, karena gambut yang kering rentan terbakar, dan bila sudah terbakar sangat sulit dipadamkan," ujar Menteri Siti.

Upaya rekayasa hujan yang dilakukan KLHK ini juga dibarengi dengan upaya tim satgas karhutla di darat, yang terus melakukan berbagai upaya pencegahan dengan melakukan monitoring hotspot dan ground chek setiap ada indikasi titik api.

Berdasarkan data satelit, jumlah hotspot di Provinsi Riau 1 Januari-20 Mei 2020, tercatat 271 titik dengan confident 80-100%. Jumlah ini menurun bila dibandingkan pada periode sama tahun lalu yang mencapai 503 titik. Dalam dua pekan terakhir tidak terpantau ada hotspot di wilayah Riau. (OL-1)

Baca Juga

Dok. BNPB/Medcom.id

Tes Spesimen Lampaui 22 Ribu Sampel per Hari

👤Ifa/Ant/X-7 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:37 WIB
Per Rabu (8/7) kita telah melakukan pemeriksaan 22.183 spesimen. Rinciannya, 177 laboratorium PCR dan 114 laboratorium...
MI/Adam Dwi

Trie Utami Album Krakatau Akustika Jadi Obat Kangen

👤MI 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:30 WIB
ERA kenormalan baru menjadi tak terbantahkan. Begitu pula bagi grup band lawas...
Medcom.id

Banyak RS masih Patok Tarif Lebihi Ketentuan Baru

👤Ins/Ata/DW/PO/X-6 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:24 WIB
 Betapa terlambat, Dirjen Yanmed menetapkan biaya tes cepat antibodi maksimal Rp150 ribu. Bagaimana dengan biaya tes...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya