Sabtu 23 Mei 2020, 11:00 WIB

Pikat Investasi, Kadin: Salah Satunya Pengesahan RUU Ciptaker

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Pikat Investasi, Kadin: Salah Satunya Pengesahan RUU Ciptaker

MI/Supardji Rasban
Kawasan industri di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

WAKIL Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta Kamdani mengatakan pascapandemi covid-19 akan banyak investor luar negeri berencana merelokasi sejumlah pabrik ke Asia Tenggara.Hal itu menjadi kabar baik bagi Indonesia terkait solusi dalam menciptakan lapangan kerja.

Pasalnya, saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak wabah covid-19 dengan jumlah pekerja di-PHK sekitar 3 juta jiwa. Sayangnya, rencana kepindahan perusahaan asing ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidak didukung regulasi perizinan investasi dan iklim usaha yang baik.

Indonesia dinilai kurang menarik sebagai tujuan investasi karena rumitnya masalah perizinan. Shinta mengatakan peluang yang ada harus didukung dengan regulasi kemudahan investasi, salah satunya dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Cipta Kerja).

“Ini peluang yang bisa kita ambil pasca-covid-19. Sudah banyak negara berupaya merelokasi usahanya dari Tiongkok ke Asia Tenggara. Kalau kita tidak siap merestrukturisasi regulasi perizinan dan investasi seperti di RUU Cipta Kerja, tentu akan sulit menarik minat para investor pasca-covid-19,” kata Shinta dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (23/5).

Baca juga: Luhut: Indonesia Tujuan Investasi Lima Besar Dunia

Menurut Shinta, kondisi Indonesia saat ini sedang dalam posisi yang tidak diuntungkan. Covid-19 menjadi salah satu alasan tingkat keyakinan investor atau investor confidence terhadap Indonesia sangat rendah.

Hal ini hanya bisa didongkrak dengan perbaikan iklim usaha dan investasi nasional. RUU Cipta Kerja, menurutnya, bisa jadi awalan yang sangat baik untuk perbaikan iklim usaha dan investasi, terlebih pasca-covid-19. Regulasi perizinan dan investasi yang selama ini berbelit-belit bisa dipangkas dengan implementasi RUU Cipta Kerja.

Saat ini, peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business) di Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara di ASEAN. Indonesia ada di peringkat 73 di bawah Singapura (2), Malaysia (15), Thailand (27), Brunei (55) bahkan Vietnam (69).

“Usaha pemerintah menyelesaikan permasalahan klasik yakni sulitnya proses perizinan yang membuat investasi malas masuk, harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak bisa setengah-setengah. RUU Cipta Kerja ini satu paket besar untuk menyelesaikan berbagai masalah itu,” tuturnya.

Selain itu, mayoritas perekonomian Indonesia yang ditopang oleh sektor informal juga perlu dipulihkan pasca-covid-19. RUU Cipta Kerja diperlukan agar sektor informal ini bisa hidup kembali dan bahkan ditingkatkan menjadi sektor formal.

"Kemudahan memulai usaha, jaminan berusaha yang ada di dalam RUU Cipta Kerja, bisa membuat sektor informal di-upgrade menjadi sektor formal. Ini tentu bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi lebih banyak orang,” pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

MI/ADAM DWI

Perkara Kasus Jiwasraya Segera Disidangkan

👤Rifaldi Putra Irianto 🕔Kamis 28 Mei 2020, 09:07 WIB
"Telah melimpahkan, mengenai status penahanan terdakwa maupun berkas perkara dan barang buktinya ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan...
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Kasus Said Didu akan Segera Digelarperkarakan

👤Sri Utami 🕔Kamis 28 Mei 2020, 08:40 WIB
HA mangkir dari panggilan dengan dalih tengah dalam situasi pandemi virus korona baru (covid-19) dan ingin menaati aturan pembatasan sosial...
MI/LILIEK DHARMAWAN

Pelibatan TNI dalam Terorisme Bahayakan HAM

👤Emir Chairullah 🕔Kamis 28 Mei 2020, 08:30 WIB
SEJUMLAH akademisi dan aktivis mengecam upaya pemerintah melibatkan TNI dalam menangani aksi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya