Jumat 22 Mei 2020, 00:26 WIB

Cepatnya Mutasi Covid-19 Sulitkan Pembuatan Vaksin

Mediaindonesia.com | Humaniora
Cepatnya Mutasi Covid-19 Sulitkan Pembuatan Vaksin

Medcom.id
Ilustrasi virus korona (Covid-19).

 

GURU besar Biologi Universitas Negeri Malang Profesor Mohamad Amin menilai mutasi virus korona penyebab Covid-19 yang begitu cepat membuat pandemi ini tidak bisa diputus dan menyulitkan pembuatan vaksin serta obatnya.

"Berdasarkan tinjauan ilmu virologi, penyebaran pandemi Covid-19 ini tidak bisa diputus karena mutasi virus yang sangat cepat sehingga dapat menimbulkan varian-varian baru virus," ujar Mohamad Amin dalam seminar daring di Jakarta, Kamis (21/5).

Baca juga: Ingat Perjuangan Tenaga Medis, Lebaran Lebih Baik di Rumah Saja

Dia menjelaskan bahwa dari tinjauan ini juga tampaknya akan sulit untuk membuat vaksin maupun obat anti-virus, mengingat virus ini selalu bermutasi melahirkan varian-varian baru akan menyulitkan peneliti maupun ahli kesehatan untuk membuat desain obatnya.

"Desain obat harus fix atau permanen sebelum dibuat, ketika ada sedikit perubahan maka harus dilakukan desain yang baru," katanya.

Dengan demikian, menurut pakar kesehatan tersebut yakni cara terbaik untuk menjalani kehidupan new normal, jika vaksin sulit ditemukan, adalah melakukan pencegahan agar tidak terlalu banyak orang masuk rumah sakit hingga melebihi kapasitas akibat Covid-19.

"Dengan demikian perlu menjalankan langkah-langkah preventif agar masyarakat yang masih sehat tidak terinfeksi Covid-19. Selain itu langkah lainnya yang perlu dilakukan adalah membuat orang sakit atau positif Covid-19 segera sembuh," ujar Mohamad Amin.

Dalam paparannya, dia menyampaikan bahwa kehidupan New Normal mendorong masyarakat harus beralih atau move on dengan mengubah pola pikir dan kebiasaannya karena tidak perlu berharap hilangnya virus korona dengan memutus mata rantai penularan 100%. Masyarakat harus bisa menerima bahwa mereka tidak bisa lagi hidup normal kembali seperti semula pascapandemi Covid-19..

"Bagaimana cara cerdas menata kehidupan Normal Baru atau New Normal adalah kebiasaan-kebiasaan positif baru seperti kerja dari rumah, menggunakan masker dan menjaga jarak yang sudah kita lakukan untuk bertahan selama pandemi Covid-19. jangan ditinggalkan," kata Mohamad Amin.

Selain itu, Guru besar Biologi itu juga menambahkan bahwa  kita perlu menjadi masyarakat yang cerdas dengan memiliki wawasan ilmu dan pengetahuan, percaya diri atas ilmu yang diperoleh dan selalu mencari serta mengeksplorasi wawasan baru agar dapat berinovasi dan lebih produktif.

Kendati demikian, lanjut dia, program kebijakan dalam menangani dan mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menjaga jarak sosial harus tetap dilanjutkan.

"Target saat ini bukan memberantas virus melainkan menekan jumlah orang yang terinfeksi bersamaan serendah mungkin. Kalau nanti semakin banyak yang terinfeksi maka pelayanan kesehatan di Indonesia akan sangat kewalahan, dan kalau yang terinfeksi Covid-19. tidak segera mendapat pelayanan kesehatan maka proses penyembuhannya tidak cepat," ujar Mohamad Amin. (Ant/OL-6)

Baca Juga

MI/Ramdani

Kemenkes Ingatkan Tata Cara Kerja saat Kenormalan Baru

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 09:15 WIB
Selama massa kenormalan baru, masyarakat tetap harus memastikan untuk tidak berkerumun dan menjaga jarak saat...
ANTARA/Irwansyah Putra

Sistem Kerja dengan Kondisi Normal Baru bagi ASN Diterapkan 5 Jun

👤 Indriyani Astuti 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 07:44 WIB
"Tugas dan fungsi ASN dalam tatanan normal baru dilakukan dengan tetap memprioritaskan aspek kesehatan dan keselamatan dengan...
covid19.go.id/Riset MI-NRC

Pola Hidup Baru Turunkan Penularan Covid-19

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 05:47 WIB
Data terbaru pasien sembuh dari covid- 19 bertambah lagi 252 orang sehingga total pasien sembuh menjadi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya