Rabu 20 Mei 2020, 07:10 WIB

Bekal Kebangkitan Nasional Baru

Arif Satria Rektor IPB | Opini
Bekal Kebangkitan Nasional Baru

Dok. Pribadi

KONTEKS kebangkitan nasional 1908 merupakan perjuangan sosial politik karena tantangannya ialah kemerdekaan. Namun, saat ini dalam jangka pendek konteks masalahnya ialah bagaimana kita bisa ‘merdeka’ dari pandemi covid-19, lalu memasuki tatanan kehidupan baru yang disebut the new normal.

Semua negara di dunia merasakan masalah pandemi covid-19 dan hendak menuju the new normal. Apa bekal kita untuk memasuki the new normal dan melakukan lompatan pasca-the new normal sehingga bisa menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia? Ada tiga bekal pokok yang mesti kita bawa dalam jangka pendek, yaitu modal sosial, spirit kemandirian, dan inovasi.


Modal sosial

Yang diperlukan untuk mengendalikan laju pandemi covid-19 ialah ikatan kebersamaan. Ikatan kebersamaan bisa tercipta karena adanya rasa saling percaya (trust), menguatnya jejaring dan norma kolektif. Inilah yang disebut modal sosial. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang baik dan mudah memberi sehingga kebersamaan mudah tercipta.

Namun, saat ini kita dihadapkan pada tantangan membangun kebersamaan, yaitu kebersamaan pemerintah pusat dan daerah, sesama menteri, antarpartai politik. Lalu, kebersamaan antarkampus dan kebersamaan antarwarga. Ikhtiar untuk membangun konvergensi cara berpikir dan bertindak perlu dilakukan.

Memang konteks 1908 modal sosial kuat karena diikat kesadaran bersama akan nasib penjajahan, lalu tumbuh nasionalisme. Dulu sekat-sekat etnisitas pun pudar karena kebersamaan yang amat tinggi sehingga Sumpah Pemuda lahir pada 1928. Semua fokus pada satu titik, yaitu perjuangan kemerdekaan. Apakah saat ini kita sudah punya fokus pada satu titik? Apakah covid-19 sudah menjadi satu titik itu?


Spirit kemandirian

Pandemi covid-19 mengajarkan kepada kita perlunya kemandirian. Ketergantungan produk impor obat, alat kesehatan, dan pangan seolah tak terputus. Namun, kini kita merasakan betapa semua negara membutuhkan produk-produk tersebut untuk mengatasi problem negaranya. Karena itu, ketidaksiapan kita untuk membangun kemandirian industri kesehatan dan pangan dapat berujung pada krisis baru.

Salah satu prasyarat untuk mewujudkan kemandirian ialah kepercayaan diri. Optimisme harus selalu ditebar sekaligus memupus rasa inferior. Memang mental inferior akibat penjajahan yang begitu lama masih saja melekat pada diri kita. Anekdot yang menertawai bangsa sendiri masih sering kita temui. Ini merupakan pertanda kita mengalami krisis kepercayaan diri. Pada 1990-an, BJ Habibie sudah memulai dengan semangat kemandirian teknologi, salah satunya dengan industri dirgantara. Sebenarnya yang hendak dibangun beliau ialah meningkatnya rasa percaya diri sebagai bangsa Indonesia.

Ingat, salah satu strategi Saemaul Undong Korea Selatan 1960-1970 ialah bagaimana membangun rasa percaya diri masyarakat desa. Kepercayaan diri ialah modal untuk membangun. Kini, kita saksikan bagaimana kemandirian Korea Selatan berkat kepercayaan diri masyarakatnya.


Inovasi kaum pembelajar

Kini, kaum pembelajar dituntut untuk menjadi inisiator kebangkitan baru dengan cara baru, yaitu kebangkitan inovasi. Kemandirian bangsa hanya bisa dicapai dengan kemandirian inovasi anak bangsa.

Covid-19 memberi pelajaran bahwa ruang inovasi semakin lebar dan semua negara sedang berjibaku menghasilkan inovasi unggul. Ada dua fokus inovasi saat ini, yaitu inovasi untuk menuju the new normal dan untuk mengisi the new normal. Apalagi, revolusi industri 4.0 telah membuka peluang berinovasi dengan teknologi 4.0 yang lebih murah dan cepat.

Kita tidak perlu meratapi kondisi inovasi yang masih jauh dari negaranegara lain. Memang dalam Indeks Inovasi Global 2019, Indonesia berada di peringkat 85 dari 129 negara. Bahkan, di ASEAN kita berada di urutan ke-7 atau dua terendah. Lihat Singapura (8), Malaysia (35), Thailand (43), Vietnam (42), Filipina (54), dan Brunei (71).

Kaum inferior yang pesimistis akan merespons dengan terus mence mooh situasi ‘kekalahan’ inovasi kita ini. Namun, kaum optimistis yang percaya diri akan merespons dengan semangat baru mencari terobosan kebangkitan inovasi. Apa bekal untuk kebangkitan inovasi?

Bekal utama kita ialah manusia unggul. Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam bisa menempati urutan delapan dunia dalam indeks inovasi global karena bertumpu pada kekuatan manusia unggulnya. Karena itu, tidak ada jalan lain selain melakukan percepatan transformasi pendidikan nasional.

Pendidikan tinggi ialah media hilir untuk menghasilkan inovasi. Namun, manusia unggul di hilir ialah akumulasi dari proses panjang sejak di hulu, yaitu sekolah dasar dan menengah. Gagasan Merdeka Belajar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan bentuk kesadaran akan pen tingnya ekosistem untuk menghasilkan manusia kreatif dan unggul, yakni manusia inovatif yang bisa menjadi penentu arah perubahan.

Apalagi, Menristek juga terus mendorong inovasi nasional. Dengan inovasi, manusia unggul dan sumber daya alam yang melimpah mestinya membuat kita jauh lebih unggul dari bangsa lain.

Jadi, bekal modal sosial, spirit kemandirian, dan inovasi itulah yang harus kita perkuat untuk memasuki kebangkitan nasional baru. Optimisme harus terus kita gaungkan sejalan dengan karya nyata. Sesungguhnya karya nyata itulah inspirasi untuk kebangkitan.

Baca Juga

Dok.pribadi

KDRT Mengintai di Tengah Pandemi 

👤Kartika Sari, Staf Bagian Publikasi dan Media di Biro Hukum dan Humas Kemen PPPA 🕔Jumat 29 Mei 2020, 18:00 WIB
Pandemi menyebabkan kasus KBG meningkat, salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga...
MI/TIYOK

Penataan Perilaku Kunci Tatanan Hidup Baru

👤Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Ketua Laboratorium Psikologi Politik, Universitas Indonesia 🕔Jumat 29 Mei 2020, 06:00 WIB
Yang jelas, prinsipnya kita harus siap beradaptasi (bukan menyerah pada virus) dengan sebuah tatanan hidup baru ke depan, dengan sejumlah...
Istimewa

Hari Kemerdekaan Georgia

👤Duta Besar Georgia, H.E. Tuan Irakli Asashvil 🕔Kamis 28 Mei 2020, 20:40 WIB
Menurut laporan World Bank Doing Business 2020, Georgia berada di peringkat ke-7 di antara 190 negara dalam hal kemudahan berbisnis, turun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya