Rabu 20 Mei 2020, 09:00 WIB

Usai Pandemi, Saatnya Tinggalkan Batu Bara dan Beralih ke EBT

Abdillah Marzuqi | Weekend
Usai Pandemi, Saatnya Tinggalkan Batu Bara dan Beralih ke EBT

AFP/MOHAMED EL-SHAHED
Pekerja di penambangan batu bara di Mesir

SETELAH lebih dari 200 tahun batu bara mendominasi sumber energi pembangkit listrik, kini ia menghadapi lawan berat yakni pandemi covid-19. Sebelumnya, industri itu memang mendapat perlawanan dari para aktivis lingkungan. Namun, rupanya, perlawanan itu belum cukup kuat menekan industri pemicu polusi tersebut.

Menurut para ahli, industri batu bara global tidak akan pulih seperti sebelum pandemi covid-19. Krisis ini (covid-19) telah membuka mata dunia bahwa penggunaan energi baru terbarukan (EBT) lebih aman secara investasi, sekaligus lebih ramah kantong dan lingkungan bagi konsumen. EBT mendapati momentum untuk segera diterapkan menggantikan energi batu bara.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memerkirakan, AS akan menghasilkan 5% lebih sedikit daya listrik pada 2020. Hal itu bisa menurunkan emisi karbon 11%. Dalam beberapa bulan mendatang, EIA berasumsi konsumsi batu bara di AS akan turun hampir 25%. Pada 2021, EIA juga memerkirakan kepulihan konsumsi batu bara hanya sekitar 10%. Sementara sisanya diisi gas alam dan EBT.

Ketua Global Carbon Project Rob Jackson mengungkapkan pandemi covid-19 mengkonfirmasi batu bara tidak akan lagi mampu berada di puncak sebagai penyuplai energi seperti 2013 lalu.

“Covid-19 akan sangat mengurangi emisi batu bara tahun ini. Industri itu tidak akan pulih seperti sedia kala, meskipun fasilitasnya terus  dibangun. Batu bara itu berhadapan sumber yang lebih murah, seperti gas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin. Belum lagi isu iklim dan kesehatan. Semua itu akan memukul industri batu bara," terang Jackson, seperti dikutip The Guardian.

Tidak hanya di Amerika, di  Britania Raya (UK), sampai Jumat pekan lalu, UK National Grid tidak membakar batu bara selama 35 hari. Itu adalah waktu terlama sejak meletusnya revolusi industri 230 tahun lalu.

Lembaga Europe Beyond Coal, melaporkan rekor bebas batu bara berjalan hampir dua bulan di Portugal. Bulan lalu, Swedia juga menutup pembangkit listrik tenaga batu bara yang terakhir, KVV6 di Hjorthagen, Stockholm timur. Austria pun mengikuti dengan penutupan satu-satunya pabrik batu bara yang tersisa di Mellach. Belanda juga menyatakan akan mengurangi kapasitas pembangkit termal sebesar 75% untuk mengurangi risiko perubahan iklim.

Sedangkan India, sebagai negara konsumen batu bara terbesar kedua di dunia, kini memprioritaskan energi surya dibanding batu bara. Hal itu dilakukan untuk merespons turunnya permintaan listrik karena covid-19 dan pelemahan ekonomi. (M-4)

Baca Juga

Instagram @zeniusuntukguru

Zenius Rilis Platform Pembelajaran untuk Para Guru

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 25 November 2020, 23:00 WIB
ZuG telah membuka akses pembelajaran ini ke lebih dari 6 ribu...
Instagram

Narasi Magis dalam Tradisi Islam Indonesia

👤Bagus Pradana 🕔Rabu 25 November 2020, 19:15 WIB
Memburu Muhammad merupakan buku kedua dari trilogi Islamisme Magis oleh Feby...
Luc Daelemans/Lonely Planet

Asyiknya, Kota ini Punya Jalur Sepeda Melewati Hutan

👤MI Weekend 🕔Rabu 25 November 2020, 16:00 WIB
Jalur sepeda itu melintasi Bosland, hutan terbesar di negara bagian...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya