Selasa 19 Mei 2020, 17:47 WIB

Pola Konsumsi Berubah, Saat Pandemi Tidak ada Loyalitas Brand

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pola Konsumsi Berubah, Saat Pandemi Tidak ada Loyalitas Brand

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Kondisi pasar di saat pandemik covid-19 tetap ramai

 

MARKPLUS, Inc. dan Jakarta Chief Marketing Officer (CMO) kembali menghadirkan Industry Roundtable edisi kesepuluh yang membahas sektor fast moving consumer good (FMCG) pada Selasa (19/5).

Survei cepat MarkPlus membahas mengensi kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi produk harian seperti produk kesehatan, makanan, dan produk higienitas di tengah pandemi Covid-19. Survei yang diikuti oleh 110 responden di seluruh Indonesia dalam satu minggu terakhir dengan persentase 60,4% pria dan 39,6% wanita ini menunjukan adanya perubahan perilaku masyarakat pada industri FMCG dari faktor loyalitas hingga pertimbangan dalam memilih produk.

Associate Client Success Team MarkPlus, Inc. Chrestella Carissa memaparkan, sejak terjadinya pandemi corona masyarakat lebih tergerak untuk hidup lebih sehat dimana 46,8% responden memilih untuk memasak sendiri makanan yang akan dikonsumsi meskipun 27,9% responden masih mengkonsumsi makanan cepat saji seperti mie instan, frozen food, dan makanan kaleng.

Peningkatan konsumsi multivitamin dan penggunaan handsanitizer juga meningkat bahkan hingga dua kali lipat. “Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi multivitamin, meningkat dari 35,1% menjadi 58,6% setelah Covid-19 mewabah di Indonesia. Namun, 47,7% responden mengaku sulit menemukan produk kesehatan saat ini,” papar Chrestella dalam MarkPlus Industry Roundtable FMCG Perspective.

Kesulitan dalam mendapatkan produk di pasar membuat masyarakat mencari alterantif merek yang menyediakan produk sejenis, sehingga loyalitas customer terhadap suatu brand menurun hingga 75,7% untuk produk makanan dan minuman, 79,3% untuk produk kesehatan, dan 93,7% pada produk higienitas.

Masyarakat tidak akan ragu untuk beralih kepada merek lain jika tidak menemukannya sehingga loyalitas pada suatu brand berpotensi anjlok.

Selain itu, faktor harga yang murah juga masih menjadi pertimbangan dalam membeli produk FMCG.

“Customer lebih peduli pada ketersediaan produk karena customer akan mencari alternatif produk lain apabila merek yang mereka inginkan tidak tersedia di pasaran, apalagi dengan adanya pembatasan aktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Selain faktor ketersediaan, produk harus relevan dengan kondisi saat ini dimana ada perubahan kebiasaan customer sebelum dan setelah pandemi mewabah di Indonesia.

Kemudahan dalam mendapatkan produk makanan dan kesehatan membuat masyarakat memilih melakukan transaksi secara online dengan delivery service sehingga hal tersebut bisa menjadi peluang bagi pebisnis di sektor FMCG untuk meningkatkan teknologi digital. (OL-4)

Baca Juga

Antara/Agung Rajasa

Punya Kontribusi Besar, Kinerja Sektor Manufaktur Perlu Digenjot

👤Hilda Julaika 🕔Senin 25 Mei 2020, 15:16 WIB
Tahun lalu, kontribusi sektor industri terhadap PDB mencapai 17,58%. Angka itu menunjukkan sektor industri masih memberikan kontribusi...
MI/SUSANTO

DPD HIPPI DKI Jakarta Apresiasi Langkah Menteri BUMN Bantu UMKM

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 25 Mei 2020, 14:30 WIB
UMKM yang bergerak disektor kontruksi dan konsultan tahun ini diperkirakan peluang mendapatkan pekerjaan dari pemerintah sangat...
Antara/Wahdi Septiawan

Neraca Perdagangan Produk Pertanian Masih Positif

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 25 Mei 2020, 13:54 WIB
Ini merupakan dampak dari penguatan produksi dalam negeri dan upaya pemerintah membuka akses pasar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya