Senin 18 Mei 2020, 15:54 WIB

Kesibukan Tanpa Jeda Palang Hitam, Pengantar Jenazah Covid-19

Iis Zatnika | Megapolitan
Kesibukan Tanpa Jeda Palang Hitam, Pengantar Jenazah Covid-19

Dok Palang Hitam
Petugas Palang Hitam di Pemakaman Tegal Alur, Jakarta Barat.

 

Sejak Covid-19 merundung Jakarta pada Maret 2020, nyaris tak pernah ada jeda buat para petugas Palang Hitam. Hilir mudik mengitari Jakarta, mengemudikan mobil jenazah, merapat ke lokasi pemulasaraan di rumah sakit (RS) lalu mengantarkan mereka yang harus dimakamkan dengan protokol Covid-19 itu di Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur atau Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.

Usai menyemprot kendaraannya dengan disinfektan, mereka bertolak lagi ke RS-RS yang silih berganti menelepon ke markas mereka di kawasan Petamburan, Jakarta Barat. Jika sebelum era Covid-19, mereka hanya punya daftar pendek lokasi RS yang mereka sambangi, kini nyaris tak ada RS yang luput dari layanan petugas Palang Hitam.

"Kalau dulu nih, paling kita ambil jenazah itu dari RSCM atau Rumah Sakit Polri, sekarang ini saya jadi tahu lokasi hampir semua RS di Jakarta, yang sebelumnya nggak saya tahu. Mungkin hampir semua RS pernah kami datangi, karena yang kami ambil itu puluhan jenazah setiap harinya," kata Nursyam, 46, salah satu petugas Palang Hitam kepada Media Indonesia, Minggu (17/5).

Enggan menyebutkan secara detil jumlah puluhan jenazah yang disebutkannya itu, dengan alasan urusan data berada di luar kapasitasnya, Nursyam berkisah jam kerjanya dimulai usai salat subuh. Mengambil mobil dari markas, ia membawa serta peti  yang nantinya akan dipakai jenazah untuk menyimpan jenazah dan menunggu hingga proses pemulasaraan sesuai protap Covid-19 rampung diselesaikan petugas RS. Usai mengenakan alat pelindung lengkap, ia menuju pemakaman. Siklus yang sama, dengan lokasi RS  berbeda, ia lakukan terus menerus hingga pukul sepuluh malam.

"Tapi jika ada jenazah yang ditemukan bukan di RS, tapi di rumah warga atau di jalanan, maka jam dua pagi sekalipun kita harus jalan, untuk selanjutnya kita bawa ke RS dahulu untuk dilakukan pemulasaraan, baik itu dengan protokol Covid-19 atau tidak, tapi sekarang ini lebih banyak diterapkan protokol Covid-19," ujar Nursyam.

Sejak zaman Belanda
Para petugas Palang Hitam, yang bernaung dibawah Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta punya sejarah panjang sejak zaman Belanda. Berbadan yayasan, Palang Hitam dilatari kebutuhan untuk pengurusan jenazah terlantar, tanpa identitas dan tanpa keluarga, juga warga tak punya. Gubernur Ali Sadikin kemudian mengambil alih organisasi beranggotakan pegawai harian lepas (PHL) itu.

Sebutan Palang Hitam diambil dari pita hitam yang lazim disematkan kepada jenazah. Sebanyak 48 anggotanya, mereka terbagi dalam lima regu yang beranggotakan delapan hingga sembilan orang yang bertugas bergantian. Saat piket, mereka bekerja 24 jam dari pukul delapan pagi hingga esok harinya, sementara empat regu lainnya harus siap mendukung jika dibutuhkan.

Jika sebelumnya mereka lebih banyak berkoordinasi dengan pihak kepolisian, kini para petugas Palang Hitam banyak dikontak RS yang meminta pemakaman bagi warga korban Covid-19. "Ya gimana situasinya saat ini, dari dulu kita punya APD dan peti karena memang kondisi jenazah yang kita urus juga sebagian membutuhkan menggunakan itu, karena ada yang korban kecelaksaan atau waktu ditemukannya sudah lama, atau kena penyakit menular. Tapi dulu kebutuhan itu kami ambil di gudang, sekarang ini APD stand by di kantor dan peti itu terus berdatangan dan kami bawa ke RS. Seumur-umur saya bekerja di sini, baru kali ini terjadi," ujar Nursyam.

Kini kasus kembali menanjak
Kabar buruknya, kaat Nusryam, setelah sempat agak mereda pada pekan-pekan sebelumnya, kini jumlah jenazah yang ditangani kembali merangkak. Terlebih, jenazah yang mereka tangani, tak terbatas usia tertentu. Mereka yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 yang pernah ia tangani mulai bayi usia dua hari hingga lansia. "Masyarakat harus sadar, bukan kami dan petugas medis nggak mau menangani, tapi tolong kerjasamanya, ayo cegah. Jangan sampai deh masyarakat sampai tertular dan dirawat di RS, itu risikonya besar. Kalau kami, karena ada APD dan protokol yang kami patuhi, ya walaupun kuatir, jadi ya harus jalan untuk bertugas."

Para petugas Palang Hitam belum lama ini menerima donasi dari Komunitas Sahabat Kartini  yang dipimpin Rani Anggraini Safitri berupa 100 paket sembako. "Profesi mereka tidak kalah mulia dari tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani wabah ini. Terlebih petugas palang hitam ini mobilitasnya sangat tinggi. Saya sangat salut dengan keberanian mereka," papar Rani.

Nursyam berharap, dukungan masyarakat juga diberikan dengan mematuhi anjuran untuk tinggal di rumah. "Saya tuh nggak habis pikir kalau lewat jalan, terus macet, terutama menjelang buka, mungkin pada cari takjil ya. Duh ini orang-orang nggak pada tahu apa ya, kan sudah disuruh di rumah saja. Kalau sudah kena dan akhirnya meninggal itu kasihan loh, keluarga nggak boleh dampingi, hanya boleh melihat dari jauh," kata Nursyam. (X-16)

Baca Juga

MI/ANDRI WIDIYANTO

Pengurusan SIKM Jakarta Dikeluhkan Masyarakat

👤MI 🕔Kamis 28 Mei 2020, 07:30 WIB
KEPALA Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta Benni Aguscandra tidak menampik banyaknya...
 ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.

Pengusaha Mal Berjanji Terapkan Jaga Jarak Fisik

👤MI 🕔Kamis 28 Mei 2020, 07:15 WIB
KETUA Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat mengungkapkan pengelola pusat belanja dan retailer telah...
Putri Yuliani

Ibu Kota belum Siap Hadapi Normal Baru

👤MI 🕔Kamis 28 Mei 2020, 07:05 WIB
SEMANGAT normal baru (new normal) yang demikian kuat berembus semakin menekan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar ikut...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya