Senin 18 Mei 2020, 04:55 WIB

Pahlawan Super

Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma | Opini
Pahlawan Super

Dok. Pribadi
Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

SOLIDARITAS bisa bermula dari rasa iba tetapi keberanian untuk menunjukkannya sering kali dipupuk dari kesadaran bahwa musibah, kesulitan atau bahkan kematian, selalu lebih baik jika dihadapi bersama. Ia bisa bermula dari ide sederhana dari mereka yang tak dianggap, atau muncul sebagai inisiatif raksasa dari mereka yang berpunya.

Yang pasti, solidaritas selalu mewakili bahwa perlu untuk ‘bertindak demi orang lain, berada di pihak dan bersama mereka.’ Solidaritas bisa membanggakan dan mengharukan bagi mereka yang setuju, atau menjengkelkan dan patut dihancurkan bagi mereka yang menentangnya.


Supa Modo

Gambaran menarik tentang inisiatif kecil yang menjadi biang solidaritas dan kerja sama yang mengharukan, dikisahkan dengan baik oleh Likarion Wainaina dalam film Supa Modo, film Kenya yang mendapatkan penghargaan khusus di Berlin International Festival 2018 untuk kategori Generation KPlus-Best Feature Film. 

Film ini bercerita tentang hari-hari terakhir Jo (diperankan dengan sangat baik oleh Stycie Waweru), gadis kecil yang didiagnosis mengidap penyakit parah, stadium akhir. Jo adalah penggemar berat Jackie Chan yang selalu memiliki mimpi menjadi seorang pahlawan super. Kamarnya penuh dengan poster pahlawan super dan benaknya selalu dipenuhi khayalan bahwa dirinya ialah salah satunya.

Ibunya, Kathryn (Maryanne Nungo), pada mulanya menjadi satu-satunya orang yang tidak bisa memahami Jo dan berpikir khayalan pahlawan supernya hanya menjadi ancaman bagi kehidupan terbaik yang harus Jo jalani di sisa dua bulan hidupnya.

Tetapi, kakak perempuan Jo, Mwix (Nyawara Ndambia) berpikir berbeda. Baginya mewujudkan mimpi Jo ialah hal terbaik yang harus dilakukan untuk membahagiakan Jo. Yang menarik sekaligus mengharukan ialah, seluruh warga desa memutuskan membantu rencana Mwix mewujudkan mimpi Jo dengan cara yang agak konyol: berpura-pura bersama, bahwa Jo sungguh memiliki kekuatan super.

Mwix selalu mencoba memberi kesempatan bagi Jo untuk mengeluarkan ‘kekuatan super’ yang ia miliki; mulai membuka toples makanan sampai meminta tolong Jo untuk menaklukkan penjambret di tengah keramaian dengan kekuatan super yang ia miliki; menghentikan waktu. Kekuatan super yang membuat orang sekampung mendadak berhenti tak bergerak, sehingga Jo bisa menaklukkan sang penjambret.

Semua orang bersedia melakukan hal konyol demi mimpi pahlawan super Jo yang hidup tak lama lagi. Bentuk solidaritas warga desa dalam Supa Modo mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa pandemi Covid-19. Bentuknya bisa jadi berbeda. Mulai dari membagikan kebutuhan pokok, menggalang dana, membagikan masker, atau menyatakan dukungan bagi pekerja medis garda depan di banyak platform media sosial. Tentu saja tak semua bentuk solidaritas yang muncul, bebas dari pamrih/kepentingan.

Tetapi, semua bentuk solidaritas merupakan wujud tindakan yang tidak melulu untuk diri sendiri. Dalam sejarah manusia, bentuk solidaritas bisa jadi bersifat sesaat, tetapi ia bisa jadi menjadi serius dan berubah menjadi cikal bakal sebuah gerakan besar yang panjang dan penuh gelora. Bagaimana solidaritas bisa ditumbuhkan?


Welas asih

Solidaritas membutuhkan empati. Praktik pendidikan yang menimbang compassion (welas asih) adalah peluang terbaik bagi munculnya tumbuhnya kemampuan empati.

Berbeda dengan praktik pendidikan yang menjadikan pemenuhan capaian kognitif dan psikomotorik sebagai tujuan utama, pendidikan untuk mengasah rasa dan semangat welas asih, berada di wilayah afeksi yang terkait erat dengan kajian tentang perilaku, motivasi dan nilai-nilai (Miller: 2005).

Di masa pandemi covid-19, praktik pendidikan welas asih dapat berperan penting membantu mereka yang belajar baik murid maupun guru untuk memahami dan memaknai tantangan kehidupan dan mendorong tindakan kepedulian.

Jika kemampuan kognitif diperlukan untuk merawat akal sehat melalui penggunaan nalar dan pengetahuan atas pandemi, termasuk salah satunya; memilah, memilih, dan memproduksi/reproduksi informasi, kemampuan mengelola dan memahami perilaku, motivasi, serta nilai-nilai akan memberikan pemahaman atas konsekuensi pandemi bagi orang lain, kesadaran dan pilihan untuk berada dalam situasi orang lain
dan menumbuhkan inisiatif untuk mengubah situasi tidak menguntungkan demi kebaikan bersama.

Pendidikan welas asih dapat dimulai melalui praktik-praktik belajar yang memberi ruang bagi murid dan guru untuk mengenali potensi dirinya; kelebihan sekaligus keterbatasannya, cita-cita, mimpi dan pencapaian termasuk keadaan nyata dirinya. Membiasakan diskusi terbuka atas masalah yang dianggap sensitif, memperlakukan kritik dan kegagalan sebagai sarana sekaligus pengalaman belajar atau memberi ruang luas bagi munculnya kolaborasi ketimbang kompetisi di sekolah.

Penghargaan terhadap pencapaian murid tidak berkutat pada skor akhir yang didapat, tetapi lebih pada pengakuan atas proses yang dilakukan. Selain itu, prinsip siapa yang mengajar dan siapa yang belajar, semestinya bukan lagi menjadi isu utama dalam praktik belajar, karena saat pembelajaran berlangsung, sejatinya semua yang terlibat ialah ‘mereka yang belajar’.

Pengetahuan harus dimaknai sebagai sebuah tanggung jawab yang bisa didapat dari persingungan dan interaksi guru dan murid dengan lingkungan. Dengan demikian proses belajar tidak terisolasi dalam ruang kelas tetapi menjadi proses dialog terus-menerus antara ide-ide dan realitas yang terjadi. Praktik pembelajaran berbasis proyek kolaborasi murid untuk memecahkan masalah di sekitar mereka di masa pandemi misalnya, akan jauh bermakna dibanding penugasan berbasis hapalan atau jawaban tertutup.

Dengan memahami pandemi Covid-19, mengapa pandemi terjadi dan apa dampaknya ke semua orang, akan memancing murid berimajinasi dibanding meminta mereka menjawab pertanyaan yang ada dalam buku teks, yang bisa jadi tak terkait dengan apa yang saat ini terjadi.

Melalui persinggungan langsung dengan masalah yang ada, mereka yang belajar, berpotensi lebih besar untuk mendapatkan pengalaman nyata yang akhirnya memicu kesadaran baru akan prinsip interdependensi dalam pandemi. Prinsip interdependensi inilah yang memungkinkan nilai-nilai welas asih terus berkembang, menumbuhkan empati dan mewujudkan solidaritas. Mereka yang belajar welas asih dan berempati, berani menunjukkan solidaritas.

Selalu penting untuk memastikan empati dan rasa solidaritas dikembangkan dan diasah di sekolah. Terutama jika berharap murid memiliki rasa empati dan keberanian menunjukkan rasa solidaritas.

Memahami dan menghargai potensi murid akhirnya menjadi sebuah keharusan. Karena seperti Jo, mereka sejatinya adalah pahlawan super yang memiliki kekuatannya sendiri. Unik dan punya mimpi yang ingin mereka raih. Tugas sekolah ialah menyediakan lingkungan belajar positif bagi kekuatankekuatan itu. Lingkungan yang memungkinkan mereka mengenal potensi, terbang tinggi, dan meraih mimpi.


 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Pelembagaan Gotong Royong

👤Eva K Sundari Pendiri Kaukus Pancasila, Ketua DPP Alumni GMNI 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:35 WIB
VIRUS korona akan tetap bersama kita di masa kenormalan baru. Risiko kematiantetap harus kita hadapi sambil melanjutkan hidup yang tidak...
unair.ac.id

Kenormalan Baru Menakar Literasi Digital Siswa

👤Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital Prodi S3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:30 WIB
KABAR bahwa sekolah bakal dibuka kembali pada Juli sudah dipastikan...
Dok. MI

Waktunya Alam Bertindak

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Jumat 05 Juni 2020, 05:15 WIB
Kesehatan manusia dan kesehatan planet bumi saling memiliki keterkaitan erat. Menyelamatkan bumi dari krisis iklim sama pentingnya dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya