Minggu 17 Mei 2020, 01:15 WIB

Kecil-Kecil Jadi Penulis

Galih Agus Saputra | Weekend
Kecil-Kecil Jadi Penulis

MI/Seno

SOBAT Medi, tahukah kamu jika hari ini ialah Hari Buku Nasional (Harbuknas)? Peringatan setiap 17 Mei ini sudah berlangsung sejak 2002 lalu atau lebih tepatnya sejak dicetuskannya istilah tersebut oleh Menteri Pendidikan kala itu, yakni Bapak Abdul Malik Fadjar.

Berbicara tentang buku, tentu tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis ya. Sejak kecil, sobat Medi pun sudah bisa menjadi penulis buku ataupun cerpen. Contohnya sudah banyak, karya mereka pun sudah bisa temanteman lihat di toko buku ataupun koran dan majalah.

Salah satunya ialah Fayanna Ailisha Davianny. Teman kita yang duduk di kelas 9 SMP Islam Dian Didaktika, Depok, ini sudah menerbitkan 52 judul buku. Hebat ya!

Kepada Medi, Rabu (13/5), Fayanna bercerita sudah mulai menulis di usia 8 tahun. Kala itu ia mencoba mengikuti lomba menulis cerpen tingkat nasional dan berhasil meraih peringkat dua. Dari situ cerpennya lantas diterbitkan menjadi buku dan diedarkan ke toko buku di
seluruh Indonesia. 

“Semenjak saat itu aku makin semangat menulis, makin mencintai dunia literasi. Aku makin semangat membuat tulisan dan rajin ikut berbagai kompetisi menulis berskala nasional,” tuturnya.

Penulis cilik lainnya ialah pengarang buku Diary of a (Not So) Girly School Girl - The Travel Journal, yang punya nama pena Q. Ia mulai membaca sejak usia 2 tahun dan setelah itu semakin suka dengan kegiatan tulis-menulis, membaca, dan menggambar.

Pada usia 8 tahun, ia telah menulis setidaknya 10 manuskrip. Apa yang dia tulis tidak biasa untuk anak-anak seusianya karena meskipun tulisan itu berasal dari sudut pandang seorang anak, isinya juga sangat unik, lincah, kritis, bahkan bisa menjadi bahan bacaan remaja dan dewasa.

“Dari tulisan dan cerita Q, kita dapat menemukan makna yang mungkin sering terlewatkan dari pengamatan kita,” begitulah keterangan yang tertera di laman penerbit karya tulis Q, Bitread.


Konsisten menulis

Menyambut datangnya Harbuknas tahun ini, Fayanna juga punya kegiatan menarik lo, sobat Medi. Ia mengajak teman-temannya di Forum Anak Depok untuk berani dan konsisten menulis.

Nama kegiatan itu ialah Sehari Satu Paragraf atau SSP. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2 Mei lalu dan diharapkan setiap anak dapat melahirkan satu judul cerpen di puncak acaranya pada Rabu, 20 Mei.

Menurut gadis yang akrab disapa Fay ini, kegiatan tersebut juga sangat menarik untuk mengisi waktu selama pembelajaran jarak jauh. Tak kalah menarik, kegiatan yang semula ditujukan untuk anak-anak di Depok itu ternyata juga menarik perhatian anak-anak di luar daerah. Maka dari itu, Fayanna kemudian juga mengajak semua anak di Jabodetabek, dari SD hingga SMP, bahkan SMA juga boleh mengikuti kegiatan ini. 

“Alhamdulillah sekarang ini yang ikut sudah ada 123 anak di grup peserta SSP dan kebetulan di situ ada aku juga, jadi mereka bisa konsultasi, tanya-jawab, atau berbagi soal kepenulisan. Jadi, kita bisa cerita banyak hal soal kepenulisan,” imbuh teman kita yang juga suka menulis skenario film itu.

Dalam hal menulis, menurut Fayanna, ada tiga hal yang perlu diingat sobat Medi, yakni niat, tujuan, dan target. Karena jika ada niat, selanjutnya pasti ada jalan. Melalui tujuan, seseorang juga dapat mencari jalan keluar ketika jenuh dan dengan target sobat Medi dapat melatih disiplin untuk meraih sesuatu.


Tujuh elemen naskah

Selain itu, ada juga tujuh elemen naskah tulisan versi Fayanna yang dapat dipelajari sobat Medi yang ingin mulai menulis. Lalu, apa saja tujuh elemen itu ya, sobat Medi?

Menurut Fayanna, tujuh elemen tersebut terdiri atas tema, sudut pandang, tokoh atau pelaku, dialog, konflik, setting, dan ending. Melalui tema, sobat Medi bisa menentukan cerita, misalnya, tentang persahabat an, keluarga, sosial, dan pertualangan.

Sementara itu, untuk pelaku, kata Fayanna, biasanya terdiri atas tokoh utama (protagonis), lawan tokoh utama (antagonis), dan tokoh pendamping (triagonis).

Ketiga tokoh itu dalam cerita bisa terlibat konflik fisik maupun batin atau internal maupun eksternal. “Contoh konflik fisik, misalnya, penjahat melawan polisi. Contoh konflik batin, misalnya, seseorang kesulitan menentukan dua pilihan,” tutur Fayana.

Tidak kalah penting, sobat Medi perlu memperhatikan latar tempat dan waktu. Sobat Medi bisa saja mengarang cerita, misalnya, di sebuah gunung dan di pagi hari atau di sebuah kota di siang hari. Cerita yang ditulis sobat Medi selanjutnya bisa ditutup dengan akhir atau ending sedih ataupun menyenangkan. Selamat mencoba! (M-1)

Baca Juga

Unsplash/ Roberto Valdivia

Dianggap Atasi Cemas, Studi Tunjukkan Ganja Berakibat Sebaliknya

👤Fathurrozak 🕔Rabu 03 Juni 2020, 18:30 WIB
Konsumsi ganja yang mengandung tetrahidrokanabinol (THC) berkonsentrasi tinggi secara rutin, justru dapat menyebabkan meningkatnya...
Unsplash/Mimi Thian

Agar Stres WFH Tidak Berlanjut ke Risiko Stroke

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 03 Juni 2020, 15:30 WIB
Risiko stres tetap mengintai saat WFH terutama karena makin kaburnya batasan antara jam kerja dengan waktu...
 Jeroen JUMELET / ANP / AFP

Beberapa Museum Terkenal di Eropa Kembali Beroperasi

👤Bagus Pradana 🕔Rabu 03 Juni 2020, 12:15 WIB
Kapel Sistine dan Museum Vatican pun mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Namun, mereka diwajibkan menaati protokol khusus sebelum...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya