Sabtu 16 Mei 2020, 12:45 WIB

Indonesia Ikut Uji 4 Obat untuk Pengobatan Covid-19

Atalya Puspa | Humaniora
Indonesia Ikut Uji 4 Obat untuk Pengobatan Covid-19

ANTARA
Chloroquine, satu dari 4 obat telah menjadi kandidat kuat untuk digunakan pada pasien covid-19.

 

DIPIMPIN oleh World Health Organization (WHO), 100 negara termasuk Indonesia turut berpartisipasi dalam program Solidarity Trial. Program tersebut bertujuan untuk mempercepat penentuan obat yang tepat untuk covid-19.

Hingga saat ini, sebanyak 4 obat telah menjadi kandidat kuat untuk digunakan pada pasien covid-19.

Empat obat tersebut yakni Chloroquine dan hydroxychloroquine, yang merupakan obat Malaria, Remdesivir yang digunakan untuk mengobati pasien Ebola. Selain itu ada Lopinavir/Ritonavir yang merupakan obat HIV, dan Interferon beta-1a.

"Keempat obat ini dipercaya bisa digunakan untuk covid-19. kita akan lihat dan mencari bukti yang kuat lagi benar gak klaim ini," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Irmansyah, Jumat (15/5).

Irmansyah mengatakan, WHO berupaya mempercepat penemuan obat dengan melakukan drug repurposing. Dijelaskannya, tahapan pengembangan obat baru perlu melewati fase standar, mulai dari fase 1 menguji keamanan obat, dan fase 2 penentuan dosis obat. Namun, pengembangan obat covid-19 langsung menuju pada fase 3, yakni pengujian kepada sample.

"Kita enggak mengembangkan obat dari awal. Itu butuh waktu cukup lama, sekitar 12 tahun. Tapi kita punya kandidat obat yang sudah terbukti, dan kini diindikasikan untuk terapi yg lain yaitu covid-19," bebernya.

Baca juga: Lawan Pandemik Covid-19 Melalui Diplomasi Kesehatan Global

Di Indonesia sendiri, terdapat 22 RS yang berpartisipasi dalam solidarity trial ini. Irmansyah mengakui, terdapat sejumlah hambatan dalam menjalankan program ini.

"Enggak semua RS pasiennya banyak. Bahkan sampai saat ini ada RS yang belum terima pasien covid-19 sampai sekarang. Rekrutmen cepat itu gak semudah yang dibayangkan. Selanjutnya masalah logistik, pengiriman obat itu memakan waktu berhari-hari," ungkapnya.

Namun dirinya berharap, dengan banyaknya negara yang berpartisipasi, semakin banyak pula subjek yang terkumpul dan dapat mempercepat penentuan obat.

"Kalau yang terlibat banyak, semakin cepat kita dapatkan subjek semakin bagus. Dalam waktu bbrp bulan kita harap keluar hasilnya dan bisa mendapatkan obat yang bagus," tandasnya. (A-2)

Baca Juga

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Wakil Ketua MPR Sebut Pemilihan Dirut TVRi tidak Sesuai Etika

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Jumat 29 Mei 2020, 11:54 WIB
Hidayat mengungkapkan setiap penyelenggara negara harus tunduk kepada TAP MPR RI No VI/MPR/2001 Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan...
MI/RAMDANI

Jelang New Normal, Istiqlal belum Gelar Salat Jumat

👤Antara 🕔Jumat 29 Mei 2020, 11:47 WIB
Istiqlal di hari-hari sebelum adanya covid-19 kerap membuka berbagai layanan ibadah, termasuk juga menerima kunjungan wisatawan dari dalam...
MI/ Haryanto

Pesantren Dikhawatirkan jadi Klaster Baru New Normal

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 29 Mei 2020, 11:46 WIB
"Pesantren yang berbasis komunitas dan cenderung komunal justru dapat menjadi klaster baru pandemi Covid-19. Sesuatu yang sepatutnya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya