Jumat 15 Mei 2020, 21:40 WIB

Covid-19 dan Lesunya Pertimahan Bisa Picu Kriminalitas di Babel

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Covid-19 dan Lesunya Pertimahan Bisa Picu Kriminalitas di Babel

Dok MI
Ilustrasi pelaku kriminalitas

 

DAMPAK pandemi Covid-19 ditambah dengan lesunya pertimahan di Provinsi Bangka Belitung (Babel), bisa memicu meningkatkan angkat kriminalitas di provinsi kepulauan tersebut.

Dekan Hukum Universitas Bangka Belitung (UBB), Dwi Haryadi, mengatakan faktor ekonomi memang sering menjadi bagian dari pemicu kejahatan pada kriminalitas tertentu.

Di saat faktor ekonomi terganggu, jelas Dwi, sementara kebutuhan primer harus tetap terpenuhi seperti kebutuhan makan sehari-hari ditambah kebutuhan pendidikan, kesehatan dan lain-lain maka memungkinkan seseorang mengambil jalan pintas melakukan kejahatan karena merasa tidak ada jalan keluar lain.

"Ketika di-PHK, maka penghasilan tidak ada, sementara ada beban tanggungan ekonomi yang dimiliki. Kejahatan konvensional seperti pencurian, penipuan, dominan disebabkan karena faktor ekonomi dan salah satunya karena korban PHK. Terlebih di era wabah Covid-19, dimana dunia usaha juga menutup usahanya sehingga peluang lapangan kerja sangat minim," kata Dwi, Jumat (15/5).

Ia menerangkan, desakan kebutuhan mendasar ditambah dengan banyaknya hutang atau cicilan yang selama ini bisa dibayarkan dengan gaji dan kini di-PHK, bisa saja mendorong orang melakukan pelanggaran hukum mulai dari kejahatan ringan sampai kejahatan berat.

"Tergantung dari kondisi, niat pelaku, kesempatan, korban, kebutuhan pelaku dan lain-lain, jadi sifatnya kasuistis. Untuk sampai pada bunuh diri itu bisa saja, dan dalam beberapa kasus ada orang bunuh diri karena sudah depresi berat akan tuntutan beban ekonomi sehingga mati menjadi jalan keluar untuk lepas dari beban tersebut," ujarnya.

Bahkan lanjut Dwi, ada juga kasus membunuh beserta anak-anaknya."Tapi sampai pada kasus seperti ini sangat kecil studi kasus yang terjadi, tapi pernah ada. Ada juga istilah crime family, jadi bisa saja kriminalitas dilakukan oleh komplotan dalam satu keluarga," ulasnya.

Babel sendiri, diakuinya, dari sisi perekonomian memang bergantung dengan timah, sehingga di saat ekonomi timah lesu di era covid ini dimana sektor tambang menurun. Jadi berdampak pada ekonomi masyarakat termasuk pada pemicu kriminalitas.

"Tiga tahun lalu, pertambangan masih normal dan produksi dilakukan sampai dengan ekspor, ekonomi masih stabil dan kriminalitas akibat dari kondisi timah tentu tidak banyak," imbuh dia.

Namun, saat ini di tengah bisnis timah menurun, bahkan hampir di semua sektor ekonomi di Babel dengan minimnya lapangan usaha, maka angka kriminalitas bisa saja meningkat.

Dalam ilmu kriminologi, jelas dia, banyak teori tentang penyebab atau faktor orang melakukan kejahatan. Mulai dari faktor genetik, kelainan mental, konflik budaya, proses imitasi, brokenhome, kelas sosial, kemiskinan, dan lain-lain. Dalam perkembangan kekinian, sulit untuk menentukan penyebab kejahatan tunggal.

"Artinya kejahatan itu lahir bukan karena penyebab tunggal. Ada yang menyebutkan bahwa kejahatan ada produk dari masyarakat itu sendiri," tutup Dwi. (OL-13).

Baca Juga: Kapal Pembawa Sampel SWAB Lembata Ditolak Masuk di Pelabuhan

Baca Juga

MI/Yohanes Manase

Konsistensi Seorang Ibu di NTT, Tolak Lahan untuk Pabrik Semen

👤Yohanes Manase 🕔Jumat 05 Juni 2020, 21:34 WIB
Rombongan DPRD Manggarai Timur yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Bernadus Nue mendatangi Luwuk untuk berdialog terkait pro-kontra pembangunan...
MI/Widjajadi

Bersepeda Massal di Solo Selama Wabah Covid Dilarang

👤Widjajadi 🕔Jumat 05 Juni 2020, 21:05 WIB
SATUAN Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Solo melarang warga bersepeda massal di tengah pandemi...
Antara

BNPB Siapkan 10 ribu Swab Test PCR untuk Jawa Barat

👤Depi Gunawan 🕔Jumat 05 Juni 2020, 20:55 WIB
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku pelaksana tugas percepatan penanganan Covid-19 mengalokasikan 10 ribu alat pengetesan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya