Jumat 15 Mei 2020, 12:33 WIB

​​​​​​​NasDem Desak Pemerintah Kaji Ulang Penaikan Iuran BPJS

Putra Ananda | Humaniora
​​​​​​​NasDem Desak Pemerintah Kaji Ulang Penaikan Iuran BPJS

MI/PIUS ERLANGGA
Pemerintah dinilai tidak sensitif karena menaikkan iuran BPJS di tengah pandemi covid-19.

 

KEPUTUSAN pemerintah kembali menaikan iuran BPJS menuai kritik dari masyarakat. Kenaikan Iuran yang sebelumnya di tetapkan lewat Peraturan Presiden No. 75 tahun 2019 pada akhir Februari 2020 dinyatakan batal lewat keputusan Mahkamah Agung. 

Kini berbekal Peraturan Presiden No.64 Tahun 2020, pemerintah kembali menetapkan kenaikan iuran BPJS.

Menanggapi hal ini Anggota Komisi IX dari Fraksi Partai NasDem DPR RI Sri Wulan mengungkapkan, kenaikan Iuran BPJS di tengah situasi kebatinan warga menghadapi tantangan di tengah pandemi dan tantangan situasi ekonomi dirasakan kurang sensitif dan dapat berefek negatif. 

Dia menjelaskan kenaikan Iuran BPJS sangat mungkin dilakukan setelah situasi kembali normal dengan diawali perbaikan tata kelola lebih dahulu.

“Kenaikan iuran BPJS ini kurang sensitif perkembangan situasi, sebaiknya dikaji ulang. Kita lihat situasinya, 2,8 juta pekerja terancam PHK. Angka pengangguran diprediksi akan meningkat. Belum lagi usaha-usaha kecil penopang ekonomi warga juga terdampak covid-19. Kalau pemerintah saja mengatakan bahwa ekonomi baru akan kemungkinan mulai pulih pada tahun 2021, perkiraan yang sama semestinya dipakai juga sebelum menaikan iuran BPJS,” kata Sri Wulan melalui keterangan tertulisnya, Kamis (14/5).

Sri Wulan yang terkenal aktif di Komisi IX DPR RI menegaskan dengan menetapkan kenaikan Iuran BPJS, bukan hanya warga yang akan mengalami dampaknya. APBN yang selama ini menanggung subsidi iuran juga akan mengalami dampaknya. 

Naiknya jumlah pengangguran dan warga miskin otomatis harus di tanggung oleh pemerintah, karena ini berkaitan dengan hak warga negara yang harus dilindungi Undang-undang. Menurutnya hal demikian ini harus juga diperhitungkan.

“Kita lihat postur ABPN 2020 dan 2021 saja sudah harus disesuaikan dengan kondisi pandemi dan pertumbuhan ekonomi paska pandemi. Anggaran belanja sudah digeser kesana-kemari. Benar-benar harus dipertimbangkan dampak kenaikan iuran BPJS ini terhadap APBN, agar defisit anggaran kita tidak berbahaya,” ujarnya.

Baca juga: BPJS Kesehatan Sorong Andil Bagi Sembako Gratis Kepada Warga

Legislator asal Jawa Tengah ini menambahkan putusan MA soal pembatalan Iuran BPJS yang lalu terdapat pesan tegas bahwa kenaikan Iuran harus mempertimbangkan aspek Yuridis, sosiologis dan filosofis dari adanya Sistem Jaminan Sosial Nasional. 

Aspek tersebut menurut Sri Wulan masih belum berubah dan harus tetap menjadi patokan kebijakan pemerintah. Merujuk putusan MA, dia mengatakan warga tidak boleh dibebankan dengan kenaikan iuran akibat kesalahan dan kecurangan yang dilakukan pengelola BPJS.

“Jangan lupa, putusan MA yang membatalkan kenaikan iuran BPJS itu memberi 2 catatan serius. Pertama, tidak berfungsinya Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) untuk merumuskan kebijakan umum dan singkronisasi penyelenggaraan SJSN. Kedua, kesalahan dan kecurangan dalam pengelolaan dan pelaksanaan program jaminan sosial. Kita belum tahu apa rencana pengelola BPJS dan pemerintah untuk merumuskan dan melaksanakan perbaikannya,” ucapnya.

Sri Wulan menekankan kenaikan iuran BPJS dalam situasi penurunan ekonomi akibat pandemi covid-19 bisa menjadi bola liar di publik. Upaya pemerintah untuk menghalau dampak lanjutan dari penurunan ekonomi yang tajam akibat pandemi lewat berbagai insentif bisa terancam gagal. 

Konsentrasi pemerintah untuk menghidupkan kembali memanaskan produksi nasional akan terganggu dengan polemik kenaikan iuran BPJS ini.

“Sebaiknya pemerintah kaji ulang dan tunda pemberlakuan kenaikan iuran BPJS ini. Kesalahan dan kecurangan pengelola sebagaimana putusan MA harus lebih dulu diperiksa mendalam. Roadmap singkronisasi progam jaminan sosial ini harus benar-benar dibuat matang. Kalau itu belum dihasilkan oleh BPJS, DJSN dan Kementerian terkait, jangan naikan Iuran BPJS. Mereka yang mengelola ini harus lebih dulu bertanggung jawab atas kesulitan yang dialami. Bukan mendahulukan kenaikan iuran,” tegasnya. (A-2)

 

 

Baca Juga

Antara

New Normal: Pemprov Babel Uji Coba Aktifkan Sekolah Lagi

👤Rendy Ferdian 🕔Senin 01 Juni 2020, 14:30 WIB
KEGIATAN Belajar Mengajar (KBM) sejumlah SMA/SMK/MA di Provinsi Bangka Belitung (Babel) akan dimulai besok, Selasa...
Antara

Di Raja Ampat Bertambah 9 ODP dan 3 OTG Covid-19

👤Martinus Solo 🕔Senin 01 Juni 2020, 14:15 WIB
JURU bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Raja Ampat, dr. Rosenda melaporkan sebaran covid-19 di Raja Ampat...
Antara/Aditya Pradana

Wapres Apresiasi Daerah yang Berinovasi Lawan Covid-19

👤Indriyani Astuti 🕔Senin 01 Juni 2020, 14:11 WIB
Namun, Ma'ruf Amin berpesan agar inovasi yang digencarkan daerah tetap mengacu prinsip pencegahan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya