Senin 29 Februari 2016, 13:17 WIB

Berebut Rezeki dari Balik Puing Kalijodo

Irwan Saputra | Megapolitan
Berebut Rezeki dari Balik Puing Kalijodo

AP/Dita Alangkara

 

WAKTU masih memasuki pertengahan hari, pekerjaan pembongkaran kawasan Kalijodo pun masih berlangsung. Namun, puing-puing di kawasan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang lebih dulu dibongkar mendadak ramai disinggahi pemulung.

Puluhan orang bersenjatakan karung goni ukuran 50 kg bergerak cepat menyisir puing-puing bangunan untuk menemukan benda-benda yang masih bernilai rupiah. Baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda, terlihat bak memasuki kolam tambak yang penuh ikan.

Rahman, 30, bersama seorang temannya bekerja sama menarik potongan besi-besi konstruksi bangunan yang terjepit beton-beton yang telah roboh.

"Lumayan ini, kalau hari biasa paling dapat Rp50 ribu, kalau ini bisa dua atau tiga kali lipat. Karena saya enggak cuma sekali angkat, setelah penuh dan dijual, nanti datang lagi," katanya kepada Media Indonesia sambil mengais puing-puing bangunan, Senin (29/2).

Gerak Rahman begitu cepat dan sigap. Bukan hanya karena takut kalah bersaing dengan pemulung lainnya, namun sebelum aparat yang berjaga mengusir mereka.

Ternyata benar, baru sekitar 20 menit para pemulung pesta pora dengan potongan-potongan besi yang bergelimang, aparat mendorong mereka keluar dari lokasi.

Puluhan aparat Satpol PP mendatangi mereka sambil mengusir para pemulung yang masuk lokasi yang masih dalam pengerjaan petugas.

"Bapak dan Ibu, kami mohon agar tidak memasuki area penggusuran sekarang, karena masih tahap pengerjaan. Ini bisa membahayakan kalian. Jadi, sekarang, semuanya keluar," kata seorang Satpol PP dengan menggunakan alat pengeras suara.

Para pemungut barang bekas yang awalnya sigap mengais-ngais puing-puing bangunan itu sontak berhamburan meninggalkan lokasi. Ada juga dari mereka yang masih bersikeras tidak mendengarkan perintah aparat hingga harus didatangi oleh petugas Satpol PP.

Para pemulung itu tidak langsung pergi, ada puluhan yang menunggu di sepanjang jalan Bidara Raya di belakang kawasan Kalijodo. Beberapa dari mereka sesekali mendekati lokasi untuk mencuri kesempatan lagi sebelum kembali diusir oleh petugas, begitu seterusnya.

Jumadi, 56, yang telah bekerja sebagai pemulung sejak 1976 di Jakarta bahkan sampai-sampai membawa perkakas lengkap untuk momen ini. Di dalam gerobak kayunya, Ia membawa godam, linggis, bahkan baru membeli gergaji besi seharga Rp35 ribu untuk mempermudah kerjanya.

"Ya kita nunggu aja, namanya juga cari uang buat makan. Kalau dikasih kita ambil, kalau gak ya kita cari tempat lain," keluhnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More