Jumat 15 Mei 2020, 01:55 WIB

BKKBN Imbau Tetap Gunakan Alat KB selama Masa Pandemi Covid-19

MI | Humaniora
BKKBN Imbau Tetap Gunakan Alat KB selama Masa Pandemi Covid-19

ANTARA/HS Putra
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo (kanan) memasang alat kontrasepsi jangka panjang

 

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengimbau agar para akseptor Keluarga Berencana (KB) tetap menggunakan kontrasepsi selama masa pandemi coronavirus disease (covid-19). Itu dilakukan untuk mengantisipasi ledakan angka kelahiran atau baby boom.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, meningkatnya intensitas hubungan suami istri selama masa pandemi covid-19 diduga bisa memicu angka kehamilan yang tidak diinginkan. Apalagi, saat ini jumlah penggunaan KB menurun.

“Ada penurunan peserta KB pada Maret jika dibandingkan dengan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Rata-rata 10% di seluruh wilayah,” ungkap Hasto kepada Media Indonesia, belum lama ini.

Hasto mengatakan, dampak dari pandemi covid-19 juga berakibat kepada penurunan aktivitas dalam beberapa kelompok kegiatan program KB serta penurunan mekanisme operasional di lapangan, termasuk di Kampung KB. Banyak para akseptor KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB. “Peserta KB suntik itu paling banyak jumlahnya, saat ini turun drastis, karena mereka khawatir mau ke klinik, maupun  ke bidan, mau nyuntik sendiri juga enggak mungkin,” kata dia.

Berdasarkan data yang diperoleh, penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim atau biasa disebut IUD pada Februari sejumlah 36.155, atau turun menjadi 23.383 pada Maret. Sedangkan itu, KB implan dari 81.062 turun menjadi 51.536, KB suntik dari 524.989 menjadi 341.109, KB metode pil dari 251.619 menjadi 146.767, penggunaan kondom dari 31.502 menjadi 19.583, vasektomi untuk pria dari 2.283 menjadi 1.196, dan tubektomi untuk perempuan dari 13.571 menjadi 8.093.

Oleh karena itu, Hasto membuat beberapa langkah untuk mengantisipasi hal tersebut. Salah satunya dengan memberdayakan para kader d n penyuluh KB di lapangan. “Ini adalah upaya kami untuk meminimalisasi dampak yang terjadi di lapangan,” ungkapnya.

Hasto menjelaskan, beberapa pemberdayaan yang dimaksud ialah pertama, mendorong kontrasepsi sampai ke wilayah. Bahkan, pemerintah menyediakan layanan pada akseptor secara gratis agar bisa sampai ke masyarakat di pelosok.

“Penyuluh yang biasanya tidak boleh bantu bidan mengantarkan obat, sekarang boleh membantu sampai ke rakyat,” kata dia.

Kedua, kata Hasto, bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk membagikan Alat Pelindung Diri (APD). Tujuannya agar para bidan bisa menjaga pelayanan KB selama masa pandemi covid- 19. Terakhir ialah pelayanan sejuta akseptor.

“Untuk pelayanan sejuta akseptor kita berikan secara proaktif sambil membagi sembako bagi pil KB, sambil suntik juga dilakukan,” terangnya.

Program KB yang dijalankan BKKBN selama ini memberikan hasil yang cukup baik dalam mengendalikan angka kelahiran. Hal ini terlihat dengan menurunnya angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) sesuai hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Angka fertilitas total merupakan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya.

Pada 2017, TFR di Indonesia menurun menjadi sekitar 2,4 anak per perempuan, dari sebelumnya 2,6 anak per perempuan pada 2012. Angka 2,4 anak per perempuan, artinya seorang perempuan di Indonesia rata-rata melahirkan 2-3 anak selama hidupnya.

Dengan angka kelahiran pada perempuan rentang 15-19 tahun mencapai 36 per 1.000 kelahiran dari sebelumnya 46/1.000 kelahiran. “Ini memang tugas kami untuk mengendalikan penduduk. Target kami pada 2024 angka TFR di Indonesia adalah 2,1,” lanjut dia.

Untuk itu, Hasto berharap, penggunaan alat KB selama masa pandemi tetap berjalan. Sebab, salah satu yang menjadi ancaman nyata di Indonesia akibat adanya pandemi covid-19 ialah baby boom karena kekhawatiran menurunnya angka partisipasi KB.

“Dengan upaya-upaya tadi BKKBN berharap dapat mengantisipasi peningkatan angka kelahiran pascapandemi covid-19,” tandas dia. 


Rendahnya pemahaman masyarakat

Koordinator Pendidikan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI)-POGI, Dwiana Ocvyanti, mengatakan, rendahnya pemahaman masyarakat secara umum tentang konsep perencanaan keluarga  menjadi salah satu masalah dalam program perencanaan keluarga. Padahal, hal tersebut amat penting dalam sebuah keluarga.

“Masalah yang selalu kita hadapi dalam konsep perencanaan keluarga adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat secara umum tentang konsep perencanaan keluarga, apalagi mengkaitkan untuk kualitas generasi mendatang yang lebih baik” kata Dwiana Ocvyanti dalam seminar virtual (webinar) ‘Antisipasi Baby Boom Pasca Pandemi’ melalui aplikasi Zoom, baru-baru ini.

Dwiana menambahkan, ada semacam trauma di sebagian masyarakat, yang mana konsep KB diartikan dengan penggunaan kontrasepsi bukan perencanaan keluarga untuk kualitas kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu, diperlukan pemahaman secara holistik dalam upaya komunikasi terkait perencanaan keluarga. Ia menyarankan agar sosialisasi lebih digiatkan lagi dengan menggunakan saluransaluran digital, seperti media sosial agar tetap dapat menjangkau masyarakat di saat pembatasan sosial seperti sekarang.

“Seperti sekarang dalam covid sekali pun harusnya bisa diintegrasikan, sekarang banyak modul-modul tentang kebersihan dan sebagainya harusnya kita bisa menitipkan pesan-pesan kontrasepsi atau perencanaan keluarga di dalamnya” tutup Dwiana. (Gan/S2-25)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Mendirikan Lapak Baca di Taman Kota

👤MI 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 00:30 WIB
UNTUK mengisi waktu di sela-sela kesibukan berkegiatan di PSS, Mega Olivia juga secara rutin membuka lapak baca di taman...
Dok. Pribadi

Merawat Sungai, Peduli Kehidupan

👤Putri Rosmalia Oktaviany 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 00:10 WIB
SUNGAI ialah sumber kehidupan. Oleh karena itu, untuk merawatnya yang perlu dilakukan terlebih dahulu ialah membangun kesadaran...
Dok MI

Pandemi, Biro Perjalanan Daring Ini Merilis Travel Protection

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 23:50 WIB
Minat untuk berwisata terlihat meningkat seiring pemberlakuan normal baru dilihat dari angka pemesanan tiket...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya