Jumat 15 Mei 2020, 00:35 WIB

Riset dan Inovasi Garda Depan Tangani Covid-19

MI | Humaniora
Riset dan Inovasi Garda Depan Tangani Covid-19

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia

 

SEBAGAI lembaga dan kementerian baru, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) langsung menghadapi tantangan penanganan pandemi covid-19.

Tak ayal dalam penanganan pandemi ini, riset dan inovasi menjadi garda depan dalam perang melawan covid-19. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menuturkan dalam penanganan covid-19 pihaknya langsung membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yang berperan mengintegrasikan hasil riset dan inovasi untuk penanganan covid-19.

Anggota konsorsium terdiri atas berbagai lembaga litbang/perguruan tinggi dan industri sebagai mitra. Dalam menjalankan kegiatannya, ada empat fokus riset dan inovasi yang dilakukan konsorsium, yakni pencegahan, screening dan diagnosis, alat kesehatan, serta obat dan terapi.

“Kegiatan konsorsium utamanya ialah menjawab kebutuhan penanganan covid-19, khususnya dari pemerintah baik gugus tugas maupun Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Di antaranya terkait pencegahan covid-19, termasuk memulai riset mengenai vaksin dan masalah yang tak kalah penting saat ini dibutuhkan, yakni screening dan diagnosis baik itu tes yang sifatnya PCR (polymerase chain reaction ataupun rapid test,” tutur Bambang dalam teleconference, Jumat (8/5).

Ia mencontohkan rapid diagnosis test (RDT) untuk deteksi IgG/IgM (late detection) berbasis peptida sintesis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), PT Hepatika Mataram, dan Universitas Airlangga (Unair) akan diproduksi sebanyak 10 ribu test kit pada 8 Mei dan akan diuji validasi pada Juni serta diproduksi sebanyak 50 ribu test kit.

Begitu juga RDT deteksi antigen berbasis biosensor dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran (Unpad) yang menggunakan surface plasmon resonance (SPR) akan diproduksi sebanyak 100 kit prototipe setelah uji validasi pada Juni 2020.

Inovasi lainnya dari konsorsium untuk bidang screening dan diagnosis, yakni kendaraan lab mobile bernama Mobile Lab BSL2 yang menyesuaikan dengan kondisi work from home (WFH) saat ini. Dengan lab mobile ini dapat dilakukan pemeriksaan RDT kit covid-19 yang hasilnya bisa dilihat setelah 10-15 menit pelaksanaan tes, pemeriksaan dengan PCR (2-3 hari) atau pemeriksaan kolesterol, darah rutin, asam urat, gula, dan lainnya.

Desainnya sendiri dimulai sejak Maret-April dengan proses pembuatan dari 28 April hingga 15 Mei. Rencananya uji coba dilakukan pada 15-17 Mei dengan proyeksi operasional pada 20 Mei. Kendaraan ini merupakan kontainer setinggi 20 feet yang memiliki kapasitas sampel hingga 260 sampel per hari.


Pendekatan triple helix

Lebih lanjut, dalam penanganan covid-19 Bambang juga menekankan pentingnya dukungan kepada layanan kesehatan bagi pasien yang bergantung pada alat kesehatan yang selama ini masih impor. Saat ini secara perlahan dan kerja keras, para peneliti dan perekayasa mulai mencari subtitusinya baik ventilator, alat pelindung diri (APD), maupun alat kesehatan lainnya.

Bambang juga menyebut perlunya upaya terus-menerus dari riset dan inovasi untuk menemukan obat dan terapi yang paling cocok untuk penanganan pasien covid-19.

Mulai dari obat berbasis herbal hingga terapi plasma yang terus dikembangkan. Untuk terapi plasma, konsorsium saat ini akan dijalankan oleh sejumlah rumah sakit (RS) termasuk RS perguruan tinggi negeri (PTN) bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Untuk protokol uji, saat ini telah selesai dan menunggu izin Komite Etik di Badan Litbangkes Kemenkes dan Badan POM serta tengah berkoordinasi dengan Kemenke s untuk mendorong keluarnya layanan etik (ethical clearance).

“Integrasi riset dan inovasi tidak hanya dilakukan dalam jangka pendek seperti pengembangan beberapa produk inovasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti APD, chamber, hand sanitizer, ventilator, dan rapid test kit yang dalam waktu dekat sudah dapat diproduksi, tapi juga jangka menengah seperti pengembangan vaksin,” tutur Bambang.

Bambang menyampaikan dalam melaksanakan mandatnya, Kemenristek/BRIN lebih fokus untuk merancang ekosistem penelitian dan inovasi yang menghasilkan prototipe dengan pendekatan triple helix (tiga pihak). Pihak perusahaan/industri yang memproduksi massal, Kemenkes, serta rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan sebagai pengguna.

Kemenristek/BRIN pun mendukung proses riset dan inovasi mulai dari pengembangan prototipe sampai proses produksi skala terbatas untuk diuji pada lapangan yang sebenarnya. Hasil uji ini selanjutnya jadi prototipe industri yang siap diproduksi untuk skala massal. 

Bambang berharap tantangan pandemi covid-19 ini dapat mendorong percepatan kemampuan riset serta pengembangan dalam ranah inovasi dan komersialisasi. “Dengan melihat contoh keberhasilan proses riset dan inovasi dalam penanganan covid-19 ini dapat memberikan gambaran kesiapan komunitas iptek untuk mendukung kemandirian produk obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Namun, itu
tentunya butuh dukungan regulasi dari sektor terkait,” terang Bambang.


Superprioritas PRN

Dalam menyikapi tantangan di masa depan, Bambang menekankan kementeriannya akan mendorong pengembangan riset dan inovasi di Indonesia. Nantinya kebijakan riset dan inovasi diarahkan agar setiap kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (litbangjirap) dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional. 

Ada tiga kategori arah yang akan dikembangkan, yakni pertama, menciptakan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, terkait dengan menciptakan nilai tambah atas keunggulan kompetitif Indonesia, dan ketiga, terkait dengan subtitusi impor maupun kenaikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) melalui riset dan inovasi.

BRIN juga mendorong dan mengintegrasikan kegiatan riset dan inovasi ke dalam pembangunan nasional melalui kerjasama pembangunan dan kemitraan secara nasional dan internasional.

“Untuk itu, Kemenristek/BRIN akan melakukan refocusing kegiatan riset dan inovasi yang kini ada sekitar 49 prioritas riset nasional (PRN) menjadi 12, dan kami sebut sebagai superprioritas PRN seperti pengembangan katalis dan bahan bahan nabati (BBN), drone kombatan, garam, pangan (padi, jagung, kedelai), obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka, serta stem cell,” jelas Bambang.

Terlebih, pandemi covid-19 akan memengaruhi kebijakan berbagai negara termasuk kebijakan, industri, perdagangan serta riset dan pengembangan. “Untuk itu, perlu antisipasi perubahan kebijakan dengan mendorong percepatan kemandirian dan peningkatan daya saing melalui riset dan inovasi nasional,” tutup Bambang. (Dro/S3-25)

Baca Juga

MI/Kristiadi

Calon Jemaah Haji Terima Pembatalan Secara Ikhlas

👤Kristiadi 🕔Rabu 03 Juni 2020, 18:11 WIB
Akibat pembatalan ini, keberangkatan Leni dan keluarganya harus ditunda pada 2021 dan otomatis, segala persiapannya menjadi...
Dok. BNPB

Kasus Positif Covid-19 Naik 684 dan Pasien Sembuh Bertambah 471

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 03 Juni 2020, 17:45 WIB
Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif covid-19 per 3/6...
Antara

BMKG: Potensi Hujan Masih Guyur Indonesia Tiga Hari Kedepan

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 03 Juni 2020, 17:22 WIB
BMKG memprediksi dalam tiga hari kedepan yakni 3 Juni – 5 Juni 2020 di beberapa wilayah Indonesia berpotensi hujan lebat disertai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya