Kamis 14 Mei 2020, 13:53 WIB

KSPI Tolak Penaikkan Iuran BPJS

M. Ilham Ramadhan Avisena | Humaniora
KSPI Tolak Penaikkan Iuran BPJS

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Kantor BPJS Kesehatan

 

KONFEDERASI Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak terbitnya Peraturan Presiden 64/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden 82/2018 Tentang Jaminan Kesehatan Nasional yang didalmnya meliputi penaikan tarif iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Presiden KSPI Said Iqbal melalui siaran persnya yang diterima, Kamis (14/5) menyampaikan, setidaknya ada tiga alasan yang mendasari penolakan KSPI terhadap kenaikan iura BPJS Kesehatan.

Pertama, penaikkan iuran dinilai melanggar ketentuan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

"Dengan adanya kenaikan iuran BPJS Kesehatan, maka ada potensi hak rakyat untuk memperoleh layanan kesehatan akan terganggu. Karena kenaikan itu memberatkan masyarakat, sehingga mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengiur," kata Said.

"Terlebih lagi, saat ini banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Negara seharusnya berkewajiban untuk melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Bukan malah membebani rakyat dengan menaikkan iuran," sambungnya.

Kedua, KSPI menilai kenaikan tersebut bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam UU 40/2004 tentang SJSN dan UU 24/2011 tentang BPJS. Dalam aturan tersebut disebutkan BPJS bukan merupakan BUMN, melainkan berbentuk badan hukum publik.

Dengan begitu, pemerintah seharusnya tidak bisa menaikkan iuran secara sepihak tanpa meminta persetujuan dari pemilik BPJS Kesehatan. "Adapun pemilik BPJS Kesehatan adalah mereka yang mengiur iuran," kata Said.

Adapun mereka yang membayar iuran ialah pemerintah yang membayar biaya untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI); pengusaha yang membayar iuran untuk buruh sebesar 4% dari gaji; buruh yang membayar iuran sebesar 1% dari gaji, dan masyarakat yang mengiur sesuai dengan kelas yang dipilihnya.

"Karena itu, BPJS harus bertanya kepada kepada masyarakat jika ingin menaikkan iuran. Tidak boleh seenaknya menaikkan secara sepihak," tegasnya.

Ketiga, Mahkamah Agung sudah membatalkan Pepres 75/2019 yang sebelumnya menaikkan iuran. KSPI menilai, seharusnya untuk sesuatu yang sudah diputuskan oleh hukum, harus dijalankan. Tidak boleh diakal-akali untuk memaksakan kehendak.

Oleh karena itu, KSPI meminta pemerintah mentaati putusan MA. Jika kenaikan iuran BPJS Kesehatan tidak dibatalkan, sehabis lebaran KSPI akan mengajukan gugatan ke MA agar membatalkan Perpes tersebut.

Selain itu, KSPI juga meminta DPR untuk mengambil sikap politik dengan memanggil Menteri Kesehatan dan Direksi BPJS Kesehatan untuk melakukan RDP guna membatalkan Perpes tersebut. (OL-4)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Pembukaan Rumah Ibadah Harus Jadi Contoh Penerapan New Normal

👤Anisa Putri Yuliani 🕔Rabu 03 Juni 2020, 05:55 WIB
Masing-masing komunitas agama perlu membuat semacam prosedur operasional standar (SOP) rumah ibadah dan protokol-protokol yang...
DOK KEMENTAN

Pandemi Korona Kinerja Sektor Pertanian Cemerlang

👤S1-25 🕔Rabu 03 Juni 2020, 05:54 WIB
Kementan melakukan upaya untuk menjamin ketersediaan bahan pangan dengan hadirnya Toko Mitra Tani di setiap provinsi. Kemudian menggandeng...
Medcom.id/Surya Perkasa

Izinkan Masjid Buka Pasca-PSBB

👤Che/Put/X-7 🕔Rabu 03 Juni 2020, 05:41 WIB
DMI saat ini telah menyiapkan sejumlah protokol kesehatan agar jemaah bisa aman ketika beribadah di masjid. Kita minta supaya jaga jarak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya