Kamis 14 Mei 2020, 12:40 WIB

Jagung Tigo Nagari jadi Konsumsi Pangan Lokal Pasaman

mediaindonesia.com | Nusantara
Jagung Tigo Nagari jadi Konsumsi Pangan Lokal Pasaman

Istimewa
Petani jagung tigo nagari mendapatkan hasil panen yang meningkat dengan anjuran penyuluh pertanian.

 

POTENSI lahan jagung seluas 5.500 hektar di Kecamatan Tigo Nagari mendorong peningkatan konsumsi jagung muda sebagai pangan lokal bagi warga  Kabupaten Pasaman di Provinsi Sumatera Barat. Jagung yang dipanen tua umumnya menjadi bahan baku untuk industri pakan ternak, yang dibeli oleh pengepul dan pedagang dari Kota Payakumbuh.

"Jagung muda banyak diolah untuk membuat penganan seperti dodol, tojin, lapek, perkedel, nasi jagung bahkan sup jagung. Sementara jagung tua untuk bahan baku pakan ternak," kata Nengsih, Koordinator BPP Tigo Nagari melalui pernyataan tertulis yang diterima wartawan, Kamis (14/5)

Menurutnya, kelompok wanita tani seperti KWT Dahlia, salah satu mitra BPP Tigo Nagari telah dibina untuk fokus membuat penganan dari jagung. Hasil olahan seperti tojin, dodong dan lapek dari jagung sangat diminati oleh para perantau asal Pasaman sebagai 'buah tangan' saat mudik ke kampung halaman.

Penyuluh pertanian pusat di Kementerian Pertanian RI, Edizal selaku pendamping kegiatan penyuluhan pertanian Provinsi Sumatera Barat menyatakan langkah Pasaman selaras dengan instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa Indonesia di masa pandemi Covid-19 harus bersiap menghadapi kondisi pangan, dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai pengganti beras.

"Pangan lokal harus menjadi konsumsi rakyat Indonesia. Pangan tidak boleh bersoal," kata Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi.

Sebagaimana diketahui, salah satu komoditas pangan lokal yang disukai masyarakat adalah jagung, pangan pokok utama setelah beras, bahkan di Madura jagung menjadi makanan pokok. Jagung merupakan sumber karbohidrat utama di wilayah Amerika tengah dan selatan maupun Afrika dan sebagian Asia.

Limbah jagung pun tetap bermanfaat ekonomis, kata Nengsih, khususnya daun dan tongkol, yang dijadikan pajangan bunga kering, tempat tisu dan lainnya oleh anggota KWT Dahlia.

Menurut Nengsih, setiap tahun petani jagung Tigo Nagari menanam jagung seluas 5.500 hektar dengan IP2. Usia tanam hingga panen berkisar empat hingga 4,5 bulan dari varietas Pioneer [P32]. "Pada saat panen, biasanya sudah ada pedagang dari Kota Payakumbuh yang menampung seluruh hasil panen petani untuk industri pakan ternak."

Kelompok tani (Poktan) setempat seperti halnya Poktan Koto Dalam di Kecamatan Tigo Nagari mengembangkan budi daya jagung pada lahan 1,2 hektar. Hasilnya 7,5 ton, harga jual di tingkat petani Rp3.700 per kg.

"Meskipun pandemi Covid-19, penyuluh pertanian Tigo Nagari tetap mendampingi petani ke lapangan untuk menjaga produksi pangan, seperti diinstruksikan Mentan Syahrul Yasin Limpo, dengan mematuhi Protokol Kesehatan menangkal virus Corona," kata Nengsih.(OL-13)

Baca Juga: Salah Sasaran, Kades Rubit Tolak Bansos Tunai

Baca Juga

MI/Ferdinandus Rabu

BST Diperpanjang Sampai Desember, Kemajuan Desa Bisa Melambat

👤Ferdinandus Rabu 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 12:32 WIB
Rencana pemerintah memperpanjang bantuan sosial sampai Desember dikhawatirkan bisa mengganggu pembangunan...
MI/Dwi Apriani

Perwali PSBB Palembang Resmi Diubah

👤Dwi Apriani 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 12:24 WIB
Wali Kota Palembang Harnojoyo mengatakan, ada beberapa poin yang aturan dalam Perwali direvisi sebab PSBB tahap kedua ini lebih...
MI/Gabriel Langga

Cak Imin Salurkan Sembako Untuk Warga Kurang Mampu di Sikka

👤Gabriel Langga 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 11:46 WIB
Bantuan dari Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar langsung diperuntukan bagi warga kurang mampu yang ada di wilayah Kelurahan Wairotang,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya