Kamis 14 Mei 2020, 07:45 WIB

PDEI Terima Bantuan APD dari Wong Hang Tailor

Basuki Eka Purnama | Humaniora
PDEI Terima Bantuan APD dari Wong Hang Tailor

Dok PDEI
Perwakilan Wong Hang Tailor Stephen Wongso (kiri) menyerahkan APD kepada Ketua PDEI Moh Adib Khumaidi (tengah).

 

DI tengah pandemi covid-19, kebutuhan para tenaga medis akan alat perlindungan diri (APD) juga semakin meningkat.

Kebutuhan akan APD itu, ungkap Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) Moh Adib Khumaidi, akan selalu ada dan akan terus meningkat.

"Rata-rata kebutuhan APD untuk satu Rumah Sakit (RS) skala menengah adalah sekitar 50-100 set per hari. Sementara untuk RS skala besar berkisar 150-250 set per hari," ujar Adib

Tergugah oleh minimnya produksi APD dalam negeri, Wong Hang Tailor, rumah produksi jas premium asal Surabaya, memproduksi APD berupa Coverall (hazmat) dan face shield untuk para tenaga medis.

Baca juga: Indonesia Gunakan Alat Rapid Test Biozek, Belanda

"Semua ini berawal ketika kami mendengar ada anak salah satu mitra yang menangani pasien covid-19 di salah satu RS rujukan pemerintah dan ia harus menggunakan 1 coverall selama berulang kali karena minimnya stok coverall di RS," kata Stephen Wongso dari Wong Hang Tailor.

Berbekal coverall bekas pakai, karena langkanya coverall pada saat awal produksi tersebut, Stephen Wongso dan Samuel Wongso membedah pola dan menyesuaikan pola coverall mereka dengan pola dan model aslinya.

Selain itu, jenis jarum yang digunakan dan pemilihan bahan material juga diriset hingga detail agar memenuhi standar penggunaan medis. Setelah jadi, sampel coverall buatan Wong hang dikirimkan ke sejumlah dokter untuk memperoleh masukan.

"Para dokter tersebut memberikan banyak revisi yang sangat menolong kami dalam menyempurnakan coverall buatan kami. Dari masukan tersebut, kami merevisi hingga puluhan kali sampai akhirnya sesuai dengan requirement medis hingga akhirnya bahan baku dan standar jahitan kami sesuai dengan SOP medis. lalu, APD tersebut diproduksi massal untuk kemudian didonasikan ke berbagai Rumah Sakit yang membutuhkan," kata Stephen.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga penjahit yang dimiliki di Jakarta dan Surabaya, Wong Hang Tailor bisa memproduksi hingga 1.000 coverall per hari.

Jenis coverall yang diproduksi pun beragam, tidak hanya untuk tenaga medis saja namun juga petugas dari berbagai elemen yang terlibat dalam penanganan covid-19 ini namun tidak memiliki APD yang sesuai, seperti supir mobil ambulans, penggali kubur, petugas kebersihan RS, atau petugas keamanan RS.

Diakui Stephen, kendala utama Wong Hang dalam produksi APD adalah harga bahan baku yang terus melambung tinggi hingga 300%. Hal itu menjadikan output APD melambung tinggi.

Selain itu, banyak oknum memanfaatkan situasi pandemi ini dengan memproduksi coverall dengan bahan di bawah standar namun meraup keuntungan dari hal tersebut. Di sisi lain, banyak orang awam yang tidak paham tentang APD dan hanya sekadar donasi.

"Ada calon donatur yang hanya melihat harga dan mementingkan jumlah APD yang mau disumbangkan namun tidak melihat standar kualitas barang yang hendak disumbangkan apalagi untuk para tenaga medis. Padahal yang harus dipahami adalah bahan dan jahitan APD yang hendak diberikan harus sesuai dengan standar medis karena dapat mengancam nyawa pemakainya," tegas Stephen.

APD coverall buatan Wong Hang menggunakan bahan spunbound 90-100 gram (untuk medis) dan ada juga yang menggunakan bahan parasut dan nilon (untuk non medis). Bahan ini bisa dicuci ulang dan tentunya sangat menolong petugas nonmedis di daerah sehingga tidak perlu sekali pakai buang.

Untuk penyaluran ke RS, Wong Hang Tailor bekerja sama dengan PDEI yang memiliki jaringan tenaga medis di seluruh Indonesia untuk menargetkan pengiriman APD untuk kebutuhan di luar Pulau Jawa karena masih banyak wilayah-wilayah Zona Merah di luar Jawa yang sangat membutuhkan APD yang layak sesuai standar medis.

Ditambahkan oleh Adib, selain APD coverall dan face shield, para tenaga medis juga membutuhkan gaun sekali pakai (baju hijau) yang berfungsi melindungi tubuh dari pajanan melalui kontak atau droplet dengan cairan dan zat padat yang infeksius untuk melindungi lengan dan area tubuh tenaga kesehatan selama prosedur dan kegiatan perawatan pasien. Terutama yg reusable (dapat digunakan kembali) dan bisa dicuci untuk dipakai kembali selama tidak ada kerusakan.

"Kebutuhan APD untuk tenaga medis yang saat ini memerlukan sustainability (keberlangsungan) pelayanan kesehatan, karena sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kapan Pandemi Covid ini akan berakhir. Persiapan-persiapan protokol untuk kembali melakukan pelayanan biasa sangat membutuhkan APD dalam jumlah yang cukup besar," kata Adib.

Stephen dan Samuel Wongso berharap, APD coverall dan face shield buatan Wong Hang Tailor dapat membantu mengurangi kematian para tenaga kesehatan Indonesia, dan juga membantu para tenaga non medis seperti petugas kebersihan dan para penggali kubur sehingga dapat melakukan tugas mereka dengan aman. (RO/OL-1)

Baca Juga

ANTARA

Polio Bayangi 80 Juta Anak

👤MI 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:30 WIB
SEBANYAK 80 juta bayi berusia di bawah satu tahun di seluruh dunia termasuk Indonesia, dibayangi penyakit menular difteri,...
MI/Fransisco Carolio Hutama Gani

Orang Tua Tolak Sekolah saat Pandemi

👤Atiqah Ismah Winahyu 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:05 WIB
KEMBALI sekolah di era kenormalan baru ( new normal) bukanlah hal mudah karena mensyaratkan banyak...
Dok. Pribadi

Hadapi Pandemi, Beli dari Petani Lokal

👤MI 🕔Kamis 04 Juni 2020, 00:35 WIB
COVID-19 membuka tabir yang selama ini hanya remang. Isu kedaulatan dan ketahanan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya