Kamis 14 Mei 2020, 07:15 WIB

WWF-Indonesia Luncurkan Situs SOShark

Basuki Eka Purnama | Humaniora
WWF-Indonesia Luncurkan Situs SOShark

ANTARA/Ampelsa
Nelayan mengangkut ikan hiu usai pelelangan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh, Aceh.

 

WWF-INDONESIA meluncurkan sosharks.wwf.id sebagai situs kampanye Save Our Sharks (“#SOSharks”), Selasa (12/5). Situs itu digagas untuk mengajak publik, penyedia jasa pariwisata, dan pelaku industri hidangan laut agar menghentikan perdagangan dan konsumsi hiu.

Peluncuran situs itu dibarengi dengan penyelenggaraan diskusi daring bertajuk “Tren Hiu: Konsumsi atau Konservasi?"

Webinar yang dimoderasi presenter sekaligus #SOSharks Champion Daniel Mananta itu menghadirkan narasumber Business Development Manager Bandar Djakarta Group Shandra Januar, Communication Manager WWF-Indonesia Dewi Satriani, serta model dan aktor juga Warrior WWF-Indonesia Kelly Tandiono.

#SOSharks adalah sebuah kampanye untuk mengajak masyarakat menghentikan perdagangan hiu di Indonesia baik di supermarket, penjualan daring, dan restoran serta menghentikan segala bentuk promosi kuliner hiu di media massa/sosial.

Baca juga: Edukasi Lingkungan melalui Wayang

Berangkat dari kepedulian kelompok masyarakat dan beberapa organisasi masyarakat madani, #SOSharks diinisiasi pertama kali pada 2013 sebagai respon atas fakta ironi yaitu sering dijumpainya produk dengan bahan baku hiu yang tidak diketahui asal usulnya, serta tingginya permintaan konsumsi sirip hiu di Jakarta yang mencapai 2 ton per tahun.

Melalui sosharks.wwf.id, masyarakat dapat menunjukkan komitmennya dengan menandatangani pledge dan menjadi “Shark Buddies” yang terlibat langsung dalam upaya monitoring konsumsi hiu di Indonesia sekaligus mengetahui langsung pelaku usaha yang bebas dari bahan baku hiu.

Direktur Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia Imam Musthofa Zainudin menjelaskan, "Saat ini, lebih dari 50% spesies hiu sudah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) dan beberapa di antaranya masuk kategori terancam punah (critically endangered), yang artinya tinggal selangkah lagi menuju kepunahan. Dengan tidak mengonsumsi hiu, maka kita memberikan ruang dan waktu pada hiu untuk pulih dan menjadi penyeimbang ekosistem laut, yang pada gilirannya membantu kelangsungan ketahanan pangan dari sektor perikanan kita."

Sepakat dengan Imam, Business Development Manager Bandar Djakarta Group Shandra Januar menuturkan, “Bandar Djakarta Group merupakan salah satu mitra kampanye #SOSharks. Kami telah berhenti menjual dan menyajikan hidangan hiu sejak 2014 karena menyadari ancaman serius dari konsumsi sirip hiu terhadap ekosistem laut. Kami juga aktif mengajak pelaku usaha lain untuk segera mengambil langkah serupa demi kelestarian lingkungan dan juga menghindari risiko reputasi perusahaan akibat praktik usaha yang tidak bersahabat dengan alam dan lingkungan.”

Hiu adalah salah satu spesies yang populasinya terancam punah. Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan di alam. Populasi hiu yang sehat dan beragam berperan penting untuk menyeimbangkan ekosistem laut, termasuk menjaga kelimpahan ikan-ikan bernilai ekonomi dan bernutrisi tinggi yang kita konsumsi.

Laporan TRAFFIC (www.traffic.org) pada 2019 menyebut Indonesia masih menjadi negara penangkap hiu terbesar di dunia (2007-2017). Penangkapan besar-besaran ini diakibatkan tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu, sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut yang berdampak negatif bagi ketahanan pangan Indonesia sekarang dan di masa mendatang.

Hingga saat ini, gerakan global penurunan konsumsi hiu terus berjalan, salah satunya adalah sebanyak 18.000 jaringan hotel internasional tercatat telah menerapkan kebijakan tidak lagi menyajikan makanan berbahan dasar hiu.

"WWF akan terus mendukung segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak untuk melakukan berbagai upaya konservasi hiu. Namun demikian upaya yang dilakukan harus lebih besar dari tingkat laju kepunahan dari spesis hiu ini. Upaya untuk stop konsumsi produk hiu sementara hingga pulihnya populasi adalah bentuk dukungan dan wujud tanggung jawab dari produsen dan konsumen demi lestarinya ekosistem laut dan tersedianya bahan baku hidangan laut untuk seterusnya. Sebagai alternatif ekonomi, hiu yang tetap lestari di alam dapat dimanfaatkan sebagai atraksi pariwisata bahari yang bertanggung jawab, dengan pelibatan aktif masyarakat. Sektor pariwisata bahari akan bisa memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar karena menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, dengan tetap menjaga kesehatan populasi hiu di alam." tutup Imam. (RO/OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Didik Suhartono

KLHK Gagalkan Penjualan Daring Cucak Hijau di Samarinda

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:46 WIB
Kasus ini bisa terungkap berawal dari laporan warga mengenai adanya perdagangan cucak hijau yang diunggah di media sosial Facebook.167...
Thinkstock

Kemenag Kota Tasikmalaya Sosialisasikan Pembatalan Haji

👤Kristiadi 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:30 WIB
Calhaj yang melunasi biaya ibadah tahun ini dipastikannya akan berangkat 2021. Mereka juga akan mendapat nilai manfaat dari biaya pelunasan...
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19/Tim Riset MI-NRC

Daerah kembali Bawa Kabar Baik

👤Ata/Fer/Ins/X-10 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:22 WIB
Enam provinsi dilaporkan tidak mengalami penambahan kasus covid-19. Keenamnya ialah Aceh, Bengkulu, Riau, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya