Kamis 14 Mei 2020, 06:10 WIB

Negara tidak Boleh Abai terhadap Kemaksiatan

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Negara tidak Boleh Abai terhadap Kemaksiatan

Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

SEMUA agama menentang kemaksiatan. Semua agama memberikan ancaman dahsyat terhadap para pelaku dan orang-orang yang menoleransinya, termasuk dalam hal ini negara.

Akumulasi dosa dan kemaksiatan dilakukan di dalam suatu negeri tidak hanya mencelakakan diri yang bersangkutan, tetapi juga orang lain. Negara dan alam tempat mereka hidup juga ikut merasakan akibatnya, termasuk orang-orang baik di sekitarnya juga ikut terdampak dengannya.

Hal itu dengan tegas disebutkan dalam ayat: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Rum/30: 41).

Sebaliknya, jika dalam suatu negeri beriman dan bertakwa dan negara abai terhadap urusan kemaslahatan agama warganya, Allah SWT pun menjanjikan: Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’raf/7: 96).

Jika kemaksiatan merajalela di sebuah negeri tanpa ada upaya pihak penguasa di negeri itu untuk mengatasinya, secara mendetail Allah SWT memberikan ancaman di dalam banyak ayat. Bahkan Alquran pun memberikan i’tibar dan pelajaran penting kepada umat-umat terdahulu.

Sebagai contoh, umat Nabi Nuh yang keras kepala dan kezaliman dan kriminal merajalela dalam masyarakatnya (QS Al-Najm/53: 52) ditimpa bencana banjir bah (QS Hud/11: 40). Umat Nabi Syu’aib yang korup dan penuh kecurangan (QS Al-A’raf/7: 85; Hud/11: 84-85) ditimpa gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11: 94).

Umat Nabi Shaleh yang kufur, hedonistik, dan cinta dunia berlebihan (QS Al-Syu’ara’/26: 146-149) ditimpakan keganasan virus dan gempa bumi (QS Hud/11: 67-68). Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS Hud/11: 78-79) ditimpakan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11: 82).

Penguasa Yaman, Raja Abrahah, yang rakus dan ambisius ingin mengambil-alih Ka’bah, dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam QS Al-Fil/105: 1-5.

Hujan yang tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS Al-An’am/6:99) tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan areal kehidupan manusia (QS Al-Baqarah/2: 59).

Gunung-gunung yang tadinya sebagai patok bumi (QS Al-Naba’/30: 7) tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS Al-Mur - salat/77: 10).

Embusan angin yang tadinya berfungsi dalam proses penyerbukan pada dunia tumbuh-tumbuhan (QS Al-Kahfi/18: 45) dan mendistribusi awan (QS Al-Baqarah/2: 164) tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilewatinya (QS Fushshilat/41: 16).

Lautan yang tadinya begitu jinak melayani mobilitas manusia di laut (QS Al-Hajj/22: 65) ti batiba mengamuk dan menggulung apa saja yang
dilaluinya (QS Al-Takwir/81: 6).

Malam yang tadinya menjanjikan kesejukan dan ketenang an (QS Al-Naml/27: 86) tiba-tiba menampilkan ke takutan yang mencekam dan mematikan (QS Hud/11: 81).

Siang hari yang tadinya menjadi hari-hari yang menjanjikan (QS Al-Muzzammil/73: 7) tiba-tiba berubah menjadi hari-hari yang menyesakkan dan menyedot energi (QS Al-Ahqaf/46: 35).

Kilat dan guntur (listrik alam) yang tadinya menjalankan fungsi positifnya dalam proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS Al-Ra’d/13: 12) tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larvalarva betina (telur hama) yang memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS Al-Ra’d/13: 12).

Disparitas flora dan fauna yang tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS Al-Ra’d/13: 4) tiba-tiba tumbuh dan berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia sehinga manusia kesulitan memenuhi komposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang (QS Al-A’raf/7: 132).

Baca Juga

Seno

Muruah Halalbihalal

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Jumat 22 Mei 2020, 06:05 WIB
Kita kini bisa melakukan halalbihalal melalui media elektronik atau media-media konvensional lainnya. Pengiriman oleh-oleh, mungkin karena...
Seno

Silaturahim Lintas Primordial

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 20 Mei 2020, 06:10 WIB
Ini artinya siapa pun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia. Alquran juga menggagas konsep ukhuwah imaniah, persaudaraan...
Seno

Islam tidak Mengenal Mayoritas-Minoritas

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Selasa 19 Mei 2020, 05:10 WIB
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam’ (QS Al-Isra’/17: 70). Apa pun jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan,...

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 02 Jun 2020 / Ramadan 1441 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:19 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More