Rabu 13 Mei 2020, 04:40 WIB

RAPBN 2021 Dirancang untuk Percepat Pemulihan

Mir/Iam/E-1 | Ekonomi
RAPBN 2021 Dirancang untuk Percepat Pemulihan

Sumber: Kemenkeu RI
Indikator Ekonomi Makro Penyusunan RAPBN 2021

 

Pemerintah merancang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 untuk mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia pascacovid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kebijakan fiskal pada 2021 mengusung tema Percepat­an pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi.

Dari tema itu, fokus pembangunan pemerintah ialah pemulihan industri, pariwisata dan investasi, reformasi sistem kesehatan nasional, reformasi jaring pengaman sosial, serta reformasi ketahanan bencana.

“Fokus pembangunan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali mesin ekonomi nasional yang sedang berada dalam momentum pertumbuhan,” ujar Sri Mulyani di Paripurna DPR, kemarin.

Untuk mendukung pemulihan, kebijakan makro dan fiskal 2021 dirumuskan sebagai kebijakan ekspansif konsolidatif dengan mematok defisit di kisaran 3,21% hingga 4,17% terhadap PDB serta rasio utang di level 36,67% hingga 37,97%.

“Besaran pembiayaan defisit di atas 3% ini mengacu kepada Perppu No 1/2020 agar proses pemulihan berjalan secara bertahap dan tidak mengalami hard landing yang berpotensi memberikan guncangan bagi perekonomian,” pungkasnya.

Pemerintah pun  mengajukan angka pertumbuhan ekonomi tahun depan di kisasaran 4,5% hingga 5,5% dalam asumsi makro 2021 (lihat grafik).

Tujuan investasi

Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, menilai bahwa Indonesia akan menjadi tujuan investasi dari negara lain setelah wabah pandemi virus korona berakhir.

Hal itu disebabkan negara lain mendapatkan pelajaran bahwa tidak tepat memberikan investasi berlebih kepada satu negara saja.

“Salah satu pelajaran dari wabah ini ialah ketergantungan investasi terlalu tinggi di Tiongkok,” kata Chatib saat diskusi daring Commonwealth Bank di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dalam 2-1 tahun saat sitausi kembali normal arus investasi tidak lagi ke Tiongkok karena ter lalu riskan bila kembali menaruh investasi kepada satu negara. “Yang memiliki potensi menerima banyak investasi ialah Asia Tenggara, termasuk Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi,” tandasnya. (Mir/Iam/E-1)

 

Baca Juga

MI/Ramdani

OJK Siapkan Protokol New Normal untuk Sektor Keuangan

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 05 Juni 2020, 16:51 WIB
OJK akan mengoptimalkan peran teknologi dalam proses bisnis sektor keuangan, lantaran dinilai menghadirkan...
ANTARA FOTO/Rahmad

BI: Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat Lagi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 05 Juni 2020, 16:26 WIB
Nilai tukar rupiah untuk saat ini pukul 15.43 berada di angka Rp13.998 per USD. Menurut Perry menguatnya nilai rupiah saat ini disebabkan...
Ist

Ditunjuk Jadi Bank Kustodian, BRI Siap Sukseskan Program Tapera

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Juni 2020, 16:23 WIB
Tapera merupakan program pemerintah untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyelenggaraan tabungan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya