Selasa 12 Mei 2020, 08:31 WIB

Dolar Menguat karena Investor Pilih Safe Haven

Antara | Ekonomi
Dolar Menguat karena Investor Pilih Safe Haven

ANTARA
Dolar AS, yang biasanya berfungsi sebagai investasi safe-haven, menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin

 

DOLAR AS, yang biasanya berfungsi sebagai investasi safe-haven, menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), bahkan ketika investor menambahkan risiko pada portofolio mereka, membeli saham AS dan menjual obligasi pemerintah.

Para investor memiliki ekspektasi risiko yang beragam, dengan peringatan akan adanya gelombang kedua infeksi covid-19 ketika lebih banyak negara mengurangi pembatasan penguncian atau lockdown.

Jerman melaporkan pada Senin (11/5) bahwa infeksi virus corona baru melaju secara eksponensial setelah langkah-langkah awal untuk melonggarkan pengunciannya, berita yang terdengar sebagai tanda bahaya global bahkan ketika bisnis mulai dari salon rambut Paris hingga Disneyland Shanghai dibuka kembali. Infeksi Korea Selatan juga naik lagi ke level tertinggi satu bulan.

Jepang mengatakan pada Senin (11/5) bahwa pihaknya dapat mengakhiri keadaan darurat di banyak daerah minggu ini dan Selandia Baru mengatakan mereka dapat mengurangi pembatasan pada Kamis (14/5).

Inggris juga telah menetapkan rencana untuk melonggarjkan penguncian, sementara toko-toko di Prancis dibuka kembali pada Senin (11/5).

 "Kekhawatiran pasar akan pembukaan kembali ekonomi terlalu cepat yang mengakibatkan gelombang virus lainnya akan terus membuat investor berhati-hati," tulis analis di Action Economics.

"Namun, Ini bukan lingkungan risk-off (penghindaran risiko) klasik," kata Axel Merk, presiden dan kepala investasi di Merk Investments.

Baca juga: Emas Turun karena Kekhawatiran Gelombang Kedua Covid-19

Di satu sisi, Merk mencatat, ada bukti langkah risk-off. Indeks dolar yang mengukur mata uang terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, menguat 0,37% menjadi 100,16. Franc Swiss, tempat berlindung yang aman, naik terhadap euro ke level tertinggi lebih dari dua minggu.

Sementara itu, yen Jepang, taruhan safe-haven klasik, secara luas lebih lemah. Terhadap dolar, yen terakhir melemah 0,93% di 107,62 dan juga 0,69% lebih lemah terhadap euro, di 116,38. 

Harga obligasi pemerintah AS, yang juga merupakan aset berkualitas tinggi yang mendapat manfaat pada saat krisis, turun dan imbal hasilnya naik karena permintaan turun.

Saham-saham AS juga diuntungkan pada Senin (11/5) dari sentimen risiko yang membaik, meskipun beberapa dari pergerakan itu telah mudur kembali pada, dengan indeks S&P 500 datar.

Euro jatuh terhadap dolar dan terakhir melemah sekitar 0,26% pada 1,081 dolar.

Dolar minggu ini akan mengambil isyarat dari pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu (13/5) dan data inflasi, pengangguran serta belanja ritel, menurut Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions. (A-2)

Baca Juga

Istimewa

Kolaborasi Penting bagi Peningkatan Inklusi Keuangan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 31 Mei 2020, 21:28 WIB
92 juta masyarakat belum terlayani bank dan hanya sebesar 12% dari 59 juta UMKM di Indonesia yang memiliki akses ke layanan...
Isti/Kementerian PUPR

Progres Proyek Strategis Nasional Rusun Pasar Jumat Capai 88,12%

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 31 Mei 2020, 18:48 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan rumah susun juga diperuntukkan bagi para mahasiswa, pelajar, santri, dan pekerja, termasuk...
Antara/Muhammad Iqbal

Batal Terbangkan WNI dari Abu Dhabi, Garuda Minta Maaf

👤Despian Nurhidayat 🕔Minggu 31 Mei 2020, 17:36 WIB
Sebelumnya, penerbangan rute Abu Dhabi-Jakarta dijadwalkan pukul 02.50 waktu setempat pada 31 Mei. Manajemen Garuda memastikan kejadian ini...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya