Senin 11 Mei 2020, 04:20 WIB

Beruntung masih Ada Ikan Terbang untuk Dibarter

Alexander P Taum/N-3 | Nusantara
Beruntung masih Ada Ikan Terbang untuk Dibarter

MI/Alexander Taum
Penetang ialah budaya orang Lamalera mencari nafkah dengan cara barter untuk mencukupi ekonomi keluarga.

 

MAMA Maria Somi dan Bergita, begitu perempuan lanjut usia itu menyebutkan nama mereka. Keduanya berasal dari Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Dua perempuan tua itu meminta menumpang mobil yang ditumpangi Media Indonesia saat melintas di Desa Puor. Siang itu, dua pnetaalep (penjual ikan) tersebut sedang duduk di tepi jalan melepas penat.

Mereka membawa bungkusan berisi pisang, ubi, dan jagung. Selain dalam bungkusan, keduanya mengisi bahan kebutuhan pokok itu ke dalam karung.

Mama Maria dan Bergita baru selesai penetang di Desa Puor, kurang lebih 3 km dari Desa Lamalera. Penetang ialah budaya orang Lamalera mencari nafkah untuk mencukupi ekonomi keluarga.

“Kami membawa ikan terbang kering untuk ditukar jagung, pisang, ubi ke prevo,” ujar Bergita. Dalam bahasa setempat, prevo berarti pelanggan bertukar barang kebutuhan pokok yang sudah dianggap sebagai keluarga.

Keduanya membawa ikan terbang dari Lamalera untuk dibarter dengan bahan kebutuhan pokok dengan prevo di Desa Puor. Saat dalam perjalanan menuju Desa Lamalera, Mama Maria dan Bergita bercerita bahwa mereka berjalan kaki dari Lamalera pada pukul 04.00 Wita.

Dibutuhkan 2 jam berjalan kaki untuk sampai ke Desa Puor. Sebagai orang Lembata, saya paham pnetaalep yang membawa ikan terbang untuk dibarter di daerah gunung merupakan hal lazim.

Biasanya orang Lamalera membawa daging ikan paus untuk dibarter. Namun, sudah sembilan bulan mereka melakukan penetang dengan bermodalkan ikan terbang. Saya pun diliputi tanya, mengapa mereka tidak membawa daging paus.

Sebab, biasanya musim berburu paus di Lamalera dimulai pada Mei hingga Oktober. Perburuan tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup warga di sana dilakukan seiring proses migrasi paus dari perairan selatan ke utara dan perairan Lamalera, yang merupakan tempat perlintasan kawanan mamalia raksasa itu.

Keingintahuan saya terjawab ketika bertemu Rafael Miku Krova, tokoh muda Desa Lamalera. Dia menuturkan pembukaan musim tangkap ikan paus yang diawali Misa Leva pada 1 Mei 2020, sekarang dilakukan sesuai protokol kesehatan dan dalam pengawasan ketat relawan covid-19 yang dibentuk pemerintah desa.

Biasanya, misa dipimpin pastor di Kapela St Petrus yang dibangun persis di bibir pantai Desa Lamalera yang menghadap laut lepas biru. Kemudian, seluruh warga Lamalera tumpah ruah ke pantai untuk mengikuti misa.

“Tapi karena korona, misa dipimpin pastor di gereja, dan umat mengikutinya dari rumah. Ini kali pertama Misa Leva tidak diikuti umat di pantai,” kata Rafael.

Selain misa, ritual meminta kehadiran paus pun digelar secara tradisional. Namun, hingga kini, mamalia itu tidak muncul. Untunglah masih ada ikan terbang yang menjadi sumber nafkah warga Lamalera saat paus tidak muncul. (Alexander P Taum/N-3)

 

Baca Juga

MI/Djoko Sardjono

Polres Klaten Giatkan Kampung Siaga Antisipasi Covid-19

👤Djoko Sardjono 🕔Rabu 03 Juni 2020, 18:16 WIB
Kampung siaga Covid-19 di daerah ini sebagai persiapan wilayah hukum Polres Klaten memasuki new...
MI/Heri Susetyo

Ogah Dirapid Test Pedagang Pasar Taman Dijemput Aparat

👤Heri Susetyo 🕔Rabu 03 Juni 2020, 18:00 WIB
SEJUMLAH pedagang di Pasar Taman Kabupaten Sidoarjo membandel tidak mau dirapid test dijemput aparat...
Istimewa

Petani Empat Lawang Maksimalkan Alsintan Hadapi Musim Tanam II

👤Antara 🕔Rabu 03 Juni 2020, 17:42 WIB
PETANI di Kabupaten Empat Lawang bersiap menghadapi musim tanam kedua tahun ini dan akan memanfaatkan alat mesin pertanian...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya