Minggu 10 Mei 2020, 00:55 WIB

Warisan yang tak akan Ambyar

Fathurrozak | Weekend
Warisan yang tak akan Ambyar

MI/Sumaryanto Bronto
Didi Kempot

PEKAN ini, maestro campursari, Didi Kempot, berpulang di tengah popularitasnya yang tengah mekar. Ia meninggalkan sejumlah warisan musik yang tidak terganti. Namun, sekaligus juga mengirim pesan, akankah pamor campursari terus merekah sepeninggal dirinya?

Didi Kempot ialah fenomena. Setahun belakangan, musiknya ‘tetiba’ menembus sekat kelas sosial, usia, dan demografi . Seniman
yang mulai menelurkan album pada era 1990-an itu tidak lagi hanya didengarkan massanya yang loyal di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau para perantau dari sana. Musiknya telah diterima di telinga kaum urban Ibu Kota, tua dan muda, walau sebagian mungkin tak jua terlalu paham arti lirik lagu-lagunya.

Bukan sekadar fenomenal, ia juga menjelma menjadi ikon untuk musik campursari setelah mendiang Manthous--pendiri grup Campursari Gunung Kidul Maju Lancar. Campursari, musik yang lekat dengan lirik berbahasa dan langgam Jawa berpadu instrumen modern tersebut memang lebih populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Bersamaan dengan era digital, Didi Kempot melalui lagu-lagu patah hatinya telah membawa campursari menjadi musik yang kemudian dikonsumsi publik dan panggung yang lebih luas. Pengikutnya di kanal Youtube mencapai kurang lebih 1,3 juta. Penampilannya di sejumlah festival lintas genre, seperti Synchronize Festival atau Jazz Gunung Bromo, selalu membuat penonton ‘pecah’.

Direktur Program Synchronize Festival yang juga bagian dari label musik Demajors, Kiki Aulia Ucup, mengatakan, publik sebenarnya tidaklah terpaku pada genre yang membungkus musik Didi Kempot. Justru lebih kepada ‘nuansa’ yang terbangun dari musik yang dimainkan.

“Orang tidak melihat campursarinya, ya, ambyar aja musiknya. Ada Didi, Nella Kharisma, dan Denny Caknan. Kepergian Mas Didi, membuat sosoknya long lasting. Enggak ada garis akhirnya. Orang akan terus menikmati karya dia. Dengan momen yang ninggalin kita ‘pas lagi sayang-sayangnya’. Tentu bakal teringat terus, legacy-nya akan tinggi. Jadi soundtrack hidup banyak orang,” tuturnya saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (6/5).

Ia berekspektasi, meski sosok berjulukan Godfather of Broken Heart itu telah mangkat, reputasi campursari atau setidaknya lagulagu kontemporer berbahasa Jawa, tak akan pudar. “Prediksi gue enggak akan putus (generasi). Selalu ada pegiat.”

Generasi setelah Didi barangkali memang tidak sepenuhnya menekuni campursari tulen. Banyak yang mengawinkannya dengan berbagai gaya musik kontemporer, utamanya pop atau dangdut. Didi sendiri juga acap membawakan genre lain, seperti dangdut koplo dan keroncong.
Walakin, bahasa Jawa senantiasa menjadi benang merah.

Lirik-lirik dengan bahasa yang memiliki jumlah penutur terbesar kedua di Tanah Air itu jadi penanda bahwa generasi setelah Didi Kempot, juga masih menempatkan bahasa Jawa sebagai kekuatan karya mereka.

Penyanyi Denny Caknan yang hit dengan Kartonyono Medot Janji ialah salah satunya. Pada tahun ini, ia bahkan menembus ajang  penghargaan Billboard Indonesia Music Award. Caknan masuk nominasi top streaming song of the year (Video), bersaing dengan Judika , Andmesh, Ilir7, dan Budi Doremi. Di kanal Youtube-nya, lagu tersebut telah disaksikan lebih dari 138 juta kali. Baru-baru ini, pria yang menganggap Didi Kempot sebagai sumber inspirasinya tersebut juga merilis single baru, Titipane Gusti.

Lalu, ada pula Dory Harsa, penabuh kendang Didi Kempot, yang belakangan menjadi penyanyi solo dengan melansir tembang Ojo Nesu-Nesu atau Lara Ati. Musikus lain yang juga tenar dengan lagu-lagu berbahasa Jawa ialah Hendra Kumbara. Ia memulai karier solonya sejak tahun lalu dan pada 1 Mei silam merilis album debutnya, Wayahe. Wayahe berisi sembilan trek berbahasa Jawa. Walau cenderung bergenre pop, Hendra tak meninggalkan tabuhan kendang dalam lagulagunya.

Hendra yang asal Pati, Jawa Tengah, itu mengamini bahwa campursari ialah salah satu yang memengaruhi musikalitasnya. Sejak kecil ia sudah mendengarkan tembang-tembang milik Manthous, Nurhana, atau Didi Kempot. Medio 2011-2012, ia juga tergabung dalam kelompok campursari salah satu bank di Jawa Tengah.

“Dari tahun-tahun lalu, sudah mulai banyak musikus muda yang menggunakan bahasa Jawa. Baik campursari maupun bukan, (lagu) berlirik Jawa mulai bermunculan. Jadi, saya rasa, ya, banyak penerusnya (Didi Kempot),” cetusnya saat dihubungi, Rabu (6/5).

Ia optimistis, campursari dan turunannya akan terus lestari, pun berkembang. “Dulu kan juga campursari kadang ada gamelannya, ada juga yang tidak. Kemudian hadir dengan lebih ngepop. Genre bisa berevolusi, inovasi baru pasti ada,” lanjutnya. 

Di luar campursari, memang cukup banyak musikus yang juga melahirkan lagu-lagu berbahasa Jawa, seperti NDX AKA Duo tersebut malah lebih dulu memikat kalangan milenial sebelum momentum ketenaran Lord Didi setahun lalu. NDX hadir dengan musik ala hiphop berlirik  bahasa Jawa. Mereka juga tampil dalam festival-festival musik Indonesia kekinian, seperti Synchronize.


Putus informasi

Senada dengan Hendra, Ucup juga beranggapan tidak akan ada ‘putus’ genre. Ia lebih menyoroti putusnya informasi atau ekspos atas genre tersebut. Bagaimana kemudian sorot yang dihadapkan pada genre tersebut.

“Seberapa besar media mau ekspos apa yang sedang terjadi di setiap genre? Balik lagi, kalau enggak ada yang ekspos, orang juga enggak akan ngeh dengan kejadian dua tahun belakangan ini. Ini seperti yang terjadi juga di (genre) alternatif. Ada apa lagi setelah ERK (Efek Rumah Kaca)?

Kemudian keluar Barasuara. Sebenarnya ada banyak juga (yang muncul), cuma yang punya kesempatan menjadi besar kan enggak semuanya,” tanggap Ucup.

Lalu, bagaimana peluang para generasi yang lebih muda ini dalam memperdengarkan karya mereka ke kalangan yang lebih luas? Apakah, misalnya, angkatan Denny Caknan, Hendra Kumbara, NDX AKA, atau Ndarboy Genk bakal punya sorot lampu yang lebih besar? Dalam hal ini, Ucup menjawab bahwa potensi selalu ada. Namun, karena musisi tersebut juga masih terbatas pada segmentasi area, tampaknya perlu jalan panjang untuk menjangkau publik yang lebih luas.

“Mungkin karena (saat ini) masih segmented area. Mas Didi saja gue rasa belum bisa masuk ke Sumatra. NDX, bisa menjadi salah satu yang paling potensial. Itu karena mereka juga tahu harus bagaimana. Karakter menjadi penting. Kalau mau populernya lagi, ya, ada Via Vallen, Nella Kharisma. Tanpa Via Vallen, lagu Sayang enggak akan sebesar saat ini meski sudah dibawakan terlebih dahulu oleh NDX,” kata dia.

Adapun Hendra menyimpan harapan dan optimisme. “Dulu mungkin dikira bahwa bikin lagu berbahasa Jawa tidak bisa menembus batas-batas region. Sekarang, bahasa Jawa sudah lebih universal. Namun, tentunya saya juga masih harus terus belajar dan berkarya.” (M-2)
 

Baca Juga

Unsplash/ Roberto Valdivia

Dianggap Atasi Cemas, Studi Tunjukkan Ganja Berakibat Sebaliknya

👤Fathurrozak 🕔Rabu 03 Juni 2020, 18:30 WIB
Konsumsi ganja yang mengandung tetrahidrokanabinol (THC) berkonsentrasi tinggi secara rutin, justru dapat menyebabkan meningkatnya...
Unsplash/Mimi Thian

Agar Stres WFH Tidak Berlanjut ke Risiko Stroke

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 03 Juni 2020, 15:30 WIB
Risiko stres tetap mengintai saat WFH terutama karena makin kaburnya batasan antara jam kerja dengan waktu...
 Jeroen JUMELET / ANP / AFP

Beberapa Museum Terkenal di Eropa Kembali Beroperasi

👤Bagus Pradana 🕔Rabu 03 Juni 2020, 12:15 WIB
Kapel Sistine dan Museum Vatican pun mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Namun, mereka diwajibkan menaati protokol khusus sebelum...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya