Sabtu 09 Mei 2020, 12:27 WIB

Gubernur Jabar Dukung Usul Penghentian KRL untuk Cegah Covid-19

Antara | Nusantara
Gubernur Jabar Dukung Usul Penghentian KRL untuk Cegah Covid-19

ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Suasana KRL Commuter Line di Bogor, Jawa Barat.

 

GUBERNUR Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Emil mengaku sepakat dengan usulan penghentian operasional Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line untuk mencegah penularan wabah covid-19.

"Sekarang mengemuka lagi (penghentian KRL), saya juga sangat mendukung. Karena problem-nya adalah OTG (Orang Tanpa Gejala). Jadi, walau sudah ada protokol kesehatan (di KRL), OTG ini tidak ketahuan padahal ada virusnya. Yang menjadi fundamental juga adalah yang mencari nafkah di Jakarta. Selama kantornya memang masih buka, maka alasan dia untuk bepergian itu tidak bisa dihindari," ujar Kang Emil dalam siaran pers, Sabtu (9/5).

Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Jabar, DKI Jakarta, dan Banten sepakat mengusulkan pengendalian penyebaran covid-19 di KRL Commuter Line ke pemerintah pusat usai ditemukannya penumpang positif covid-19 di KRL.

Baca juga: Angkot di Sukabumi Masih Abai Pembatasan Penumpang Selama PSBB

Hal itu, kata dia, dibahas dalam video conference bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan bupati/wali kota Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi
(Bodetabek) serta Sekretaris Daerah Banten.

Kang Emil menilai KRL yang merupakan tempat berkerumunnya warga itu, identik dengan sifat virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 yang menyebar melalui kerumunan orang.

"Kita tahu covid-19 ini penyakit kerumunan. Di mana ada kerumunan, di situ ada covid-19. Nah, salah satu kelompok kerumunan adalah di KRL," kata Kang Emil.

Untuk itu, Kang Emil mengusulkan beberapa hal melalui video conference tersebut agar penyebaran covid-19 di layanan transportasi publik khususnya KRL Jabodetabek bisa dikendalikan.

Dia meminta agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama pemda Bodetabek mengusulkan kembali penghentian operasional KRL berdasarkan data dan fakta penyebaran covid-19 di layanan transportasi publik.

"Pertama, aspirasi awal dari Pemda Provinsi DKI Jakarta, yang akan diperkuat para bupati/wali kota (Bodetabek) sebagai penyangga Ibu Kota," ujarnya.

Kedua, Kang Emil meminta Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta membuat kebijakan agar perusahaan yang masih beroperasi di masa PSBB untuk mendata karyawannya yang tinggal di luar Jakarta, sehingga didapat data jumlah penumpang KRL sekaligus mempermudah aturan yang dibuat.

Selain itu, dengan penerapan PSBB di Jabodetabek, Kang Emil mengusulkan dua opsi bagi perusahaan yang masih ingin beroperasi saat PSBB. Pertama, perusahaan menyediakan kendaraan antarjemput karyawan.

Kedua, perusahaan menggelar tes metode Polymerase Chain Reaction (PCR) secara mandiri. Hasil tes tersebut bisa menjadi dasar keputusan dibuka atau ditutupnya perusahaan.

Apabila hasilnya menunjukkan perusahaan bebas covid-19, perusahaan tersebut bisa dibuka. Sebaliknya, apabila ada karyawan yang positif covid-19, maka perusahaan itu harus berhenti beroperasi.

"Opsinya ada dua, menyediakan kendaraan oleh perusahaan. Saya kira itu konsekuensi, Anda mau buka di saat PSBB, Anda juga bertanggung jawab terhadap karyawan-karyawan yang tidak semuanya tinggal di Jakarta," ujar Kang Emil.

"Atau (opsi kedua), seperti yang saya lakukan di Jawa Barat. Perusahaan yang buka (beroperasi) harus melakukan tes covid-19 dengan biaya sendiri. Mungkin ini bisa jadi solusi juga, sehingga kasarnya orang yang berpergian itu bebas covid-19 dengan bukti tes PCR," kata Kang Emil. (OL-1)

Baca Juga

DOK MI

Nakhoda dan 15 ABK KM Inkamini Ditemukan Selamat

👤M Taufan SP Bustan 🕔Kamis 04 Juni 2020, 03:10 WIB
KM Inkamini tenggelam pada Selasa, 2 Juni 2020 sekitar pukul 13.30 WITA. Sebelum kapal tenggelam, seluruh ABK menyelamatkan diri dengan...
ANTARA

Penyaluran Bansos di Jabar Ditarget Selesa1 8 Juni

👤Bayu Anggoro 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:55 WIB
Memang ada keterlambatan dalam penyaluran bantuan tersebut karena terkendala pendataan yang belum...
DOK MI

Tingkat Kesembuhan Covid di DIY Capai 72 Persen

👤Ardi Teristi 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:40 WIB
"Dengan rapid test massal, kita bisa memberikan data yang tepat. Data yang  kita miliki (jumlah pasien potitif Covid-19 yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya