Sabtu 09 Mei 2020, 11:25 WIB

Perlu Desain Agar Solidaritas Masyarakat Lebih Berdampak

Putri Rosmalia Octaviyani | Humaniora
Perlu Desain Agar Solidaritas Masyarakat Lebih Berdampak

Mi/Kristiadi
PWI Tasikmalaya turut andil dalam memberikan takjil dan nasi bungkus bagi tukang becak dan pengemis selama bulan Ramadan.

 

SOLIDARITAS warga dan gotong-royong dianggap sebagai modal besar Indonesia dalam menghadapi masa krisis akibat pandemi covid-19. Namun, hingga saat ini, mayoritas bentuk solidaritas masih bersifat spontan. Mulai dari pemberian bantuan bagi masyarakat, tenaga medis, atau upaya sosialisasi pencegahan penyebaran covid-19.

Ketua Policy Center ILUNI UI Jibriel Aviessina mengatakan pemerintah perlu mendapat kepercayaan publik dalam menghadapi pandemi covid-19, yang salah satunya, dapat dilakukan dengan transparansi data.

Selain itu, pentingnya memberdayakan solidaritas rakyat melalui gotong-royong yang sebelumnya bergerak secara spontan dan sukarela menjadi terorganisir di bawah kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan segenap pemangku kepentingan.

Baca juga: Mensos Minta Pemda Segera Penuhi Kekurangan Data Penerima Bansos

Kombinasi dari solidaritas sosial dan kepemimpinan kolaboratif perlu hadir untuk menangani pandemi covid-19. Dengan begitu, segala bentuk bantuan yang diberikan berbagai pihak baik masyarakat individu atau perusahaan dapat lebih terarah dan tepat sasaran.

“Solidaritas sosial di masyarakat sangat banyak dan masif tapi sayangnya masih spontan dan belum terarah dengan baik. Harus lebih tersusun. Harus ada desainnya agar bisa terarah dan terencana. Pemerintah bisa membantu membuat desainnya. Harus ada konsolidasi untuk memaksimalkan potensi yang ada, harus ada templatenya,” ujar Jibriel, dalam diskusi virtual berjudul Kertas Kerja Policy Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia: Rekomendasi Kebijakan Penanganan Wabah Covid-19 di Indonesia, Sabtu (9/5).

Jibriel mengatakan, ia melihat penaganan covid-19 belum terintegrasi secara utuh praktiknya di lapangan dengan baik. Ada inisiatif baik dari masyarakat di lapangan tapi sifatnya spontan. Sementara dari pemerintah belum cukup efektif.

“Penerapan di lapangan antara pemerintah pusat dan daerah juga belum sinkron,” ujarnya.

Jibriel mengatakan Indonesia bukan negara besar yang memiliki fasilitas kesehatan maksimal. Karena itu, setiap potensi yang ada harus sangat dimanfaatkan dengan baik untuk menanggulangi krisis. Termasuk potensi solidaritas dari masyarakat. (OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Didik Suhartono

KLHK Gagalkan Penjualan Daring Cucak Hijau di Samarinda

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:46 WIB
Kasus ini bisa terungkap berawal dari laporan warga mengenai adanya perdagangan cucak hijau yang diunggah di media sosial Facebook.167...
Thinkstock

Kemenag Kota Tasikmalaya Sosialisasikan Pembatalan Haji

👤Kristiadi 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:30 WIB
Calhaj yang melunasi biaya ibadah tahun ini dipastikannya akan berangkat 2021. Mereka juga akan mendapat nilai manfaat dari biaya pelunasan...
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19/Tim Riset MI-NRC

Daerah kembali Bawa Kabar Baik

👤Ata/Fer/Ins/X-10 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:22 WIB
Enam provinsi dilaporkan tidak mengalami penambahan kasus covid-19. Keenamnya ialah Aceh, Bengkulu, Riau, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya