Jumat 08 Mei 2020, 06:45 WIB

PLN tidak Sosialisasi Penghitungan Tarif Listrik saat PSBB

Hld/X-7 | Politik dan Hukum
PLN tidak Sosialisasi Penghitungan Tarif Listrik saat PSBB

MI/ADI MAULANA IBRAHIM
Petugas memeriksa meteran listrik di Rusunawa Benhil II, Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat, Kamis (28/11) lalu.

 

SEJUMLAH warga pengguna listrik PT PLN (persero) menyayangkan ku­rangnya sosialisasi dari PLN kepada masyarakat mengenai informasi ada­nya peningkatan tagihan reke­ning listrik.

Salah seorang warga DKI Jakarta, Shafina Rahmanida, menga­takan pihak PLN tidak menginformasikan kepada masyarakat bahwa kenaik­an penggunaan lis­trik sejak Maret karena dimulai­nya pembatasan sosial berskala be­­sar (PSBB).

“Seharusnya diinformasikan sehingga masyarakat pun bisa paham bahwa ada biaya tagihan listrik yang diakumulasikan di bulan Mei,” ujar Shafina saat dihubungi, kemarin.

Ia mengaku tagihan listrik rumahnya naik hingga 61,5%, dari biasanya Rp1,3 juta menjadi Rp2,1 juta.

Selain itu, tambahnya, PLN harus transparan dalam memberikan data kenaikan konsumsi listrik tersebut ke pelanggan.

“Saya memaklumi kalau petugas tak bisa datang lalu menggunakan hitungan rata-rata tagihan tiga bulan sebelumnya. Tapi baiknya, di bulan selanjutnya, kalau memang ada selisih dan PLN sudah ada data pasti selisihnya, bisa diinfokan ke pelanggan. Supaya masyarakat tidak panik, dan jadi banyak yang komplain,” ujarnya.

Shafina mengaku sudah menghubungi pihak PLN untuk memastikan apakah kenaikan tersebut sesuai atau tidak. Namun, PLN belum memberikan data perincian penghi­tungan.

“Mereka mengatakan apabila ada perbedaan antara penggunaan listrik di rumah dan biaya tagihan yang ditanggung, PLN akan mengu­rangi tagihan konsumsi listrik ru­mahnya,” tambah Shafina.

Sebelumnya, PLN mengklaim ti­dak menaikkan tarif listrik. Executive Vice President Communication and CSR PLN, I Made Suprateka, me­ngatakan peningkatan tagihan rekening listrik April disebabkan adanya selisih tagihan rekening di bulan sebelumnya.

Menurutnya, pada Maret masya­rakat sudah melakukan PSBB sehingga terjadi kenaikan konsumsi listrik akibat banyaknya aktivitas pelanggan di rumah.

Sementara itu, tidak ada pencatat­an langsung oleh petugas meteran ke setiap rumah. Alhasil, penghi­tung­an tagihan dari rata-rata ter­tinggi penggunaan listrik tiga bulan sebelumnya.

“Padahal penggunaan Maret mengalami kenaikan. Penggunaan listrik lebih tinggi. Hal ini menyebabkan terjadi selisih antara jumlah penggunaan riil dan pencatatan (yang didasarkan angka rata-rata seama tiga bulan). Selisih ini kemu­dian terakumulasi ke dalam reke­ning April dan ditagihkan pada re­­­kening Mei,” paparnya melalui ke­­­terangan resmi. (Hld/X-7)

Baca Juga

Ist/DPR

Berbagi Pengalaman Menghadapi Covid-19 dengan Beberapa Negara

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 05 Juni 2020, 21:02 WIB
Adalah 41 peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan XLV Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang...
Antara/Septianda Perdana

KSP Minta Tokoh Masyarakat Ikut Kampanyekan Protokol Kesehatan

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Jumat 05 Juni 2020, 20:14 WIB
Moeldoko menyebut protokol kesehatan pada masa kenormalan baru harus menjadi pola hidup baru di...
Ilustrasi

Densus 88 Amankan Satu Terduga Teroris dan Bahan Peledak

👤Antara 🕔Jumat 05 Juni 2020, 18:40 WIB
Densus 88 bersama Tim Gabungan Resmob dan Datasemen Khusus Antiteror Polda Kalbar mengamankan terduga teroris berinisial AR (21) beserta...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya