Kamis 07 Mei 2020, 20:37 WIB

RI Minta Investigasi soal ABK Dilarung ke Laut, Pakar: Tepat

Nur Aivanni | Internasional
RI Minta Investigasi soal ABK Dilarung ke Laut, Pakar: Tepat

MI/Rommy Pujianto
Pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana

 

PERMINTAAN pemerintah kepada otoritas berwenang Korea Selatan untuk melakukan investigasi terhadap kapal berbendera Tiongkok yang sempat berlabuh di Busan, Korea Selatan, serta meminta Pemerintah Tiongkok untuk melakukan investigasi terhadap kapal berbendera Tiongkok yang melarung jasad anak buah kapal (ABK) asal Indonesia dinilai Pakat Hukum Internasional Hikmahanto Juwana sudah tepat.

Di sisi lain, Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani itu menambahkan, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia terkait ABK WNI yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok yang meninggal dan dihanyutkan ke laut dan mengenai kondisi kerja yang dialami sejumlah ABK yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok tersebut.

"Pertama dan terpenting adalah memberi perlindungan terhadap para ABK yang berada di kapal berbendera Tiongkok," katanya, Kamis (7/5).

Kedua, perwakilan Indonesia di Korsel perlu meminta Kepolisian Korea Selatan untuk melakukan investigasi atas dugaan pelanggaran pidana atau hak asasi manusia berupa perbudakan.

Untuk diketahui, dua kapal berbendera Tiongkok yaitu kapal Long Xin 605 dan Tian Yu 8 yang membawa 46 orang ABK WNI sempat berlabuh di Busan, Korsel.

Baca juga : Indonesia Minta Korsel Investigasi Kapal Tiongkok

Kepolisian yang berwenang, katanya, adalah kepolisian Korsel meski kapal tersebut berbendera Tiongkok. "Hal itu karena kapal tersebut berada di wilayah kedaulatan negara Korsel," katanya.

Ketiga, lanjut dia, meminta agar pemerintah Tiongkok membantu otoritas Korsel dan Indonesia melalui kerja sama interpol untuk mengungkap dugaan kejahatan atau pelanggaran HAM berupa perbudakan.

"Perlu dipahami pemerintah Tiongkok tidak dapat dimintai pertanggungjawaban hukum mengingat kapal bukanlah milik pemerintah Tiongkok. Kemungkinan kapal milik WN Tiongkok yang didaftarkan di Tiongkok," jelasnya.

Terakhir, kata Hikmahanto, perlu dilakukan kerjasama interpol antara Korsel, Indonesia dan Tiongkok untuk menginvestigasi penghanyutan jasad WNI. Investigasi tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah penghanyutan dilakukan dalam koridor yang sah menurut hukum atau tidak.

"Memang sepintas terlihat dalam video jasad dihanyutkan, tetapi sebelum hal tersebut dilakukan ada ritual untuk mendoakan jasad. Mendoakan jasad bisa diartikan tidak ada kesemena-menaan untuk melakukan penghanyutan jenazah oleh ABK kapal nelayan berbendera Tiongkok tersebut," tuturnya. (OL-7)

Baca Juga

INSTAGRAM/kbridsm

Berbagi Keceriaan Idulfitri untuk WNI di Tanzania

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Mei 2020, 14:00 WIB
Duta Besar RI Dar es Salaam Prof. Dr. Ratlan Pardede berharap Idulfitri tahun ini tidak kehilangan makna karena keterbatasan yang ada...
AFP/KARIM JAAFAR

Dianggap Langgar Privasi, Aplikasi Covid-19 Qatar Tuai Kecaman

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 25 Mei 2020, 12:15 WIB
Aplikasi versi Qatar ini juga memaksa pengguna gawai Android untuk mengizinkan akses ke galeri foto dan video serta mengizinkan aplikasi...
AFP/Behrouz MEHRI

Jepang Berencana Cabut Darurat Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 25 Mei 2020, 11:25 WIB
Mayoritas warga menuruti imbauan itu dengan mayoritas jalan di Tokyo menjadi sepi dan angka infeksi covid-19 turun dari 700 per hari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya